Invasi Napoleon di Mesir (1798-1801)

invasi Napoleon di Mesir
       Napoleon Bonaporte

Seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan mengenai dinasti Mamluk, wilayah mesir pasca kekalahan dinasti Mamluk dari Turki Utsmani pada tahun 1517, menjadi bagian kekuasaan Turki Utsmani. Namun, memasuki abad ke-18 kekuatan Turki Utsmani menjadi semakin melemah, melemahnya Turki Utsmani sendiri salah satu penyebabnya adalah lemahnya sultan-sultan yang memerintah pada masa itu. Dengan semakin melemahnya kekuasaan sultan-sultan di abad ketujuh belas, Mesir mulai melepaskan diri dari kekuasaan pemerintahan pusat Utsmani. Kondisi yang sedemikian rupa tersebut dapat dilihat Napoleon Bonaporte sebagai kesempatan melakukan invasi di daerah tersebut. Pada pembahasan kali ini kita akan mencoba merekontruksi jejak-jejak peristiwa Invasi Napoleon di Mesir beserta dampak yang ditimbulkan dari Invasi tersebut.

Latar Belakang Invasi Napoleon di Mesir

Pasca Revolusi 1789, Prancis mengalami masa kebangkitan, negara tersebut mulai menjadi negara besar yang menjadi saingan berat Britania Raya (Inggris). Kedua negara tersebut dalam perkembangannya banyak terlibat konflik kepentingan. Pada akhir abad ke-18, Inggris meningkatkan kepentingan-kepentingannya di India pasca kemunduran dinasti Mughal. Untuk memutuskan komunikasi antara Britania Raya dan India, Napoleon yang merupakan sosok ahli dalam strategi, melihat bahwa Mesir perlu diletakkan di bawah kekuasaan Prancis.

Mesir merupakan daerah yang strategis, jika kita melihatnya dari segi geografis, Mesir terletak di jantung pertemuan antara Afrika, Asia dan Eropa. Di samping itu, Napoleon perlu pasar baru untuk mengembang perindustrian Prancis, Mesir dianggap sebagai daerah pengembangan pasar industri. Napoleon juga mempunyai ambisi untuk menyamai kesuksesan dari Alexander Macedonia, yang pada masa lau pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India. Napoleon memandang tempat strategis untuk menguasai  kerajaan besar seperti yang dicitakan-citakannya itu, adalah Kairo.

Pada abad ke-18, kondisi Turki Utsmani sedang mengalami fase stagnan, meskipun sebagai bagian dari wilayah imperium Utsmani, Mesir tetap mempertahankan identitas politik dan kulturalnya sendiri. Di bawah pemerintahan Utsmani, Mesir justru diperintah oleh beberapa faksi militer setempat. Lemahnya kontrol dari pemerintahan pusat Turki Utsmani, persaingan antara beberapa faksi Mamluk mengakibatkan terbengkalainya irigasi, kemerosotan pajak, dan meningkatnya otonomi pastoralisme dan kesukuan. Melihat situasi yang sedemikian rupa, membuka kesempatan bagi Napoleon untuk memulai invasinya di Mesir pada tahun 1798. Beberapa faktor tersebut yang mendorong Napoleon untuk menginvasi Mesir yang notabene saat itu masih di bawah kekuasaan Turki Utsmani.

Kedatangan Pasukan Napoleon di Mesir

Perselisihan antara para pemimpin faksi Mamluk untuk mendapatkan kekuasaan Mesir terus berlanjut hingga datangya satu kekuatan asing dari Barat. Sebelumnya, tidak ada yang memprediksi kedatangan Napoleon Bonaparte di Iskandariyah pada Juli 1798. Tujuan kedatangannya adalah untuk menghukum para Mamluk, yang dalam pidato kedatangannya ia menuduh kaum Mamluk sebagai muslim yang tidak baik, tidak seperti dirinya, dan orang Prancis lain, serta untuk mengembalikan kekuasaan Porte. Meskipun, tujuan sebenarnya dari Napoleon adlah untuk melancarkan serangan hebat pada Inggris dengan cara memutus jalur komunikasinya dengan wilayah timur, sehingga ia memiliki daya tawar untuk menguasai dunia.

Pada tanggal 21 Juli tentara Napoleon telah sampai di daerah Piramid di dekat Cairo. Pertempuran percah antara pasukan Napoleon dengan kaum Mamluk, kerena tidak sanggup melawan senjata-senjata meriam pasukan Napoleon, pasukan Mamluk pun lari ke Cairo.

Invasi Napoleon di Mesir
battle of pyramids

Di sini mereka tidak mendapat simpati dan sokongan dari rakyat Mesir lainnya, akhirnya mereka terpaksa lari ke daerah selatan Mesir. Pada tanggal 22 Juli Napolean telah dapat menguasai pusat dari wilayah Mesir, yaitu cairo. Napoleon datang ke Mesir bukan hanya membawa tentara. Dalam rombongannya terdapat 500 kaum sipil dan 500 wanita. Di antara kaum sipil itu terdapat 167 ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Napolean juga membawa dua set alat percetakan dengan huruf Latin, Arab, dan Yunani. Invasi Napoleon datang bukan hanya untuk kepentingan politik, tetapi juga untuk keperluan ilmiah, sehingga invasi yang dilakukan Napoleon tersebut memberikan dampak terhadap perkembangan Mesir berikutnya.

Dampak Invasi Napoleon di Mesir

Tidak selamanya suatu invasi hanya memberikan sisi negatif saja, contohnya invasi yang dilakukan oleh Napoleon di Mesir. Pendudukan Napoleon di Mesir, ternyata menyadarkan umat Islam pada masa itu akan ketertinggalannya dengan negara-negara Eropa, sehingga memicu intelektual-intelektual Muslim untuk melakukan pembaharuan demi mengejar ketertinggalan dari bangsa Barat. Pada masa pendudukan Napoleon di Mesir dibentuk suatu lembaga ilmiah bernama Institut d’Egypte, yang mempunyai empat bagian: bagian ilmu pasti, bagian lmu alam, bagian ilmu ekonomi-politik, dan bagian ilmu sastra-seni. Publikasi yang diterbitkan  lembaga ini bernama La Decade Egyptienne. Selain itu terdapat majalah Le Courrier d’ Egypte, yang diterbitkan oleh Marc Auriel. Sebelum kedatangan Ekspedisi ini masyarakat Mesir tidak kenal yang namanya percetakan, majalah, dan surat kabar.

Institut d’Egypte boleh dikunjungi orang-orang Mesir, terutama para ulamanya, yang diharapkan oleh ilmuwan-ilmuwan Prancis dapat menambah pengetahuan mereka tentang Mesir, adat istiadatnya, bahasa, dan agamanya. Di sinilah orang-orang Mesir dan Muslim untuk pertama kalinya mempunayi kontak langsung dengan peradaban Eropa. Para ulama Muslim yang berkunjung ke lembaga tersebut merasa kagum dengan kemajuan keilmuwan Barat. Hal ini seakan menggambarkan betapa mundurnya peradaban umat Islam ketika itu. jika di periode klasik orang Barat yang kagum melihat kebudayaan dan peradaban Islam, di periode modern umat Islam lah yang heran melihat kebudayaan dan kemajuan barat.

Selain kemajuan dalam bidang keilmuwan, Napoleon juga membawa ide-ide bagua mengenai kenegaraan. Ide-ide baru tersebut merupakan ide-ide yang berasal dari revolusi Prancis yang biasa dikenal dengan semboyan Liberty, Equality dan Fraternity:

  1. Sistem pemerintahan republik yang kepala negaranya dipilih untuk waktu tertentu, tunduk kepada undang-undang dasar dan bisa dijatuhkan oleh parlemen. Sistem ini tentu saja berlainan juka dibandingkan dengan sistem pemerintahan absolut raja-raja Islam, yang tetap menjadi raja selama ia masih hidup dan kemudian digantikan oleh anaknya, tidak tunduk kepada konstitusi atau paerlemen, karena konstitusi dan parlemen memang tidak ada dalam sistem kerejaan.
  2. Ide persamaan dalam arti samanya kedudukan dan turut sertanya rakyat dalam pemerintahan. Jika sebelum ini rakyat Mesir tidak turut serta dalam pemerintaha, Napoleon mendirikan suatu badan kenegaraan yang terdiri dari ulama-ulama al-Azhar dan pemuka dunia dagang dari Mesir. Tugas badan ini membuat undan-undang, memelihara ketertiban umum, dan menjadi perantara antara penguasa Prancis dan rakyat Mesir. Selain itu, didirikan pula suatu badan yang bernama Diwan al-Ummah yang dalam waktu-waktu tertentu mengadakan sidang untuk membicarakan masalah-masalah yang terkait kepentingan nasional.
  3. Ide kebangsaan yang terkandung dalam maklumat Napoleon bahwa orang Prancis merupakan suatu bangsa, dan kaum Mamluk adalah orang asing dan datang ke Mesir dari Kaukasus, meskipun orang Islam tetapi berlainan bangsa dengan orang Mesir.

Gagasan-gagasan dari Napoleon Bonaparte tersebut belum tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap rakyat Mesir. Namun, dalam perkembangannya kita tidak dapat memungkiri bahwa ide-ide tersebut sebagai salah satu pemicu utama munculnya gerakan-gerakan pemabaharuan Islam modern.

Akhir Invasi Napoleon di Mesir

Suatu invasi tidak selamanya akan bertahan, demikian juga yang terjadi dengan pasukan Napoleon di Mesir. Meskipun diakui betapa cepatnya mereka menguasai Mesir, namun begitu cepatnya pula mereka menyingkir dari Mesir. Usaha Napoleon untuk menguasai daerah-daerah lainnya di Timur tidak berhasil salah satu contohnya adalah penghancuran armada Prancis di Teluk Aboukir pada 1 Agustus 1798, sementara itu perkembangan politik di Prancis menghendaki kehadirannya di Paris. Pada tanggal 18 Agustus 1799, ia meninggalkan Mesir dan kembali ke Prancis. Ekspedisi yang dibawa Napoleon kemudian dipimpin oleh Jenderal Kleber. Dalam pertempuran yang terjadi di tahun 1801 dengan armada Inggris, kekuatan Prancis di Mesir mengalami kekalahan. Ekspendisi yang dibawah Napoleon itu pun meninggalkan Mesir pada tanggal 31 Agustus 1801. Dengan perginya tentara Prancis, kekosongan kekuasaan di Mesir dimanfaatkan oleh salah salah satu perwira yang dirimkan Sultan Salim III ke Mesir untuk naik ke permukaan. Perwira itu bernama Muhammad Ali Pasya, yang akan kita bagas di pembahasan berikutnya.

BIBLIOGRAFI

 

Hitti, Philip. K. 2006. History of The Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Lapidus, Ira. M. 2000. Sejarah Sosial Umat Islam bagian ketiga. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Nasution, Harun. 1988. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang.

Rasyid, Soraya. 2013. Sejarah Islam Abad Modern. Yogyakarta: Ombak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *