Keberadaan Ambulans pada Masa Kolonial

Sebelum ambulans diperkenalkan, penduduk Hindia-Belanda yang sakit parah biasanya diantarkan ke rumah sakit menggunakan gerobak atau ditandu. Metode ini tentunya sangat tidak efektif untuk kondisi darurat, sehingga banyak pasien tidak tertolong saat dibawa ke rumah sakit.

Kendaraan Langka

Menulis keberadaan ambulans di Hindia-Belanda bukanlah perkara mudah. Karena memang belum ada tulisan yang secara spesifik menulisnya, sehingga data-data yang tersedia masih berserakan dan harus disusun layaknya kepingan puzzle.

Meskipun begitu, berita yang dimuat di Het Nieuws van Den Dag tahun 1939 memberikan gambaran menarik tentang ambulans masa kolonial.

“Kemarin pagi, Tuan Wieche sedang bersepeda melintasi Kebon Laoet ketika tiba-tiba diserang oleh seorang kuli bernama Kasmoe yang membacok kakinya dengan pisau rumput…. Tuan Wieche jatuh ke aspal, mengeluarkan banyak darah. Bantuan datang dari berbagai pihak, termasuk kantor-kantor di sekitarnya… Tuan Wieche banyak kehilangan darah. Genangan darah besar di aspal menunjukkan lokasi serangan… Namun, ambulans yang dipanggil tidak kunjung tiba… Akhirnya, karena menunggu terlalu lama, orang-orang membawanya menggunakan mobil pribadi. Saat mereka berangkat, mereka melewati dua ambulans….”

Het Nieuws van Den Dag, Jumat 21 Juli 1939

Secuil berita di atas menunjukkan bagaimana ambulans begitu dibutuhkan saat terjadi kondisi darurat di era kolonial. Peristiwa pembacokan yang dilakukan terhadap Tuan Wieche ini membuatnya kehilangan banyak darah, yang tentunya membutuhkan pertolongan medis segera.

Namun, ambulans yang dibutuhkan malah tidak kunjung datang. Mau tidak mau, mereka akhirnya mengantarnya dengan mobil pribadi. Meskipun upaya ini telah dilakukan, nyawa Tuan Wieche tetap tidak tertolong karena meninggal begitu tiba di rumah sakit.

Potret kereta ambulans yang ditarik sapi di Sumatra
Potret kereta ambulans yang ditarik sapi di Sumatra. Sumber: Wereldmuseum

Ambulans memang terbilang langka di Hindia-Belanda. Meskipun keberadaan rumah sakit dapat dilacak sejak masa VOC, tetapi tidak dengan ambulans.

Tidak semua tempat tersedia ambulans. Kelangkaan ini sebenarnya tidak mengagetkan mengingat konsep ambulans modern sendiri baru muncul pada abad ke-19. Sebelumnya ambulans lebih banyak diperuntukkan untuk kepentingan ekspedisi militer.

Layanan ambulans untuk sipil dikembangkan oleh dokter New York, Edward Barry Dalton pada 1866. Lewat upaya ini dikenalah empat unsur yang menjadi dasar layanan ambulans modern: tim khusus, kendaraan siaga, rumah sakit penerima, dan komunikasi elektronik (saat itu telegraf).

Screenshot 2024 03 05 094952
Potret mobil ambulans di Deli Serdang.

Layanan ini bertujuan membawa pasien ke rumah sakit dengan lebih cepat dan nyaman. Di dalam ambulans, tenaga medis membawa peralatan medis seperti perban, pompa perut, dan pereda rasa sakit. Kuda penarik ambulans dilengkapi dengan tali khusus yang memungkinkannya berangkat hanya dalam 30 detik setelah dipanggil.

Bagian dalam ambulans didesain menyerupai gerbong pribadi, lengkap dengan tempat tidur beroda yang memudahkan pasien untuk masuk dan keluar. Semua kompartemen pasien dirancang agar mudah dibersihkan dan didekontaminasi.

Mobil Ambulans

Ambulans bertenaga mesin pertama mulai beroperasi pada akhir abad ke-19. Kala itu, Rumah Sakit Michael Reese di Chicago, yang menerima mobil hasil sumbangan 500 pengusaha lokal pada Februari 1899, memanfaatkannya untuk ambulans darurat.

Potret pasien Eropa dimasukkan ke mobil ambulans di Hindia-Belanda.
Potret pasien Eropa dimasukkan ke mobil ambulans di Hindia-Belanda. Sumber: Wereldmuseum

Di Hindia-Belanda, penyebaran mobil ambulans tergolong lambat. Meskipun mobil telah mulai meramaikan jalanan kota besar pada awal abad ke-20, tidak semua rumah sakit mampu memiliki mobil ambulans. Kebanyakan masih mengandalkan kereta kuda atau sapi untuk membawa pasien darurat. Bahkan, di Belanda sendiri, ambulans yang ditarik oleh kereta kuda masih populer setidaknya hingga tahun 1915.

Kereta ambulans tersebut bergerak lambat, dengan kecepatan hanya sekitar 2 km per jam, jelas tidak ideal untuk mengangkut pasien dalam kondisi darurat. Akses jalan yang berbeda-beda antar daerah juga menjadi kendala tersendiri. Jalanan di pedesaan yang belum diaspal dan masih berlumpur tentunya tidak cocok untuk dilewati oleh kendaraan ini.

Keterbatasan kendaraan dan kondisi jalan membuat fungsi ambulans di Hindia-Belanda tidak selalu untuk mengangkut pasien. Misalnya, di Yogyakarta, Rumah Sakit Petronella memiliki empat ambulans yang digunakan untuk menyelenggarakan klinik rawat jalan di wilayah terpencil, bukan untuk mengangkut pasien gawat darurat.

Baca juga: Eksistensi Rumah Sakit Petronella (Bethesda) di Yogyakarta

Tidak semua rumah sakit kota dilengkapi dengan ambulans. Saat peresmian Rumah Sakit Juliana di Semarang, rumah sakit tersebut bahkan belum memiliki ambulans yang siap beroperasi. Hal ini menunjukkan bahwa rumah sakit yang tidak memiliki ambulans masih bisa ditemukan di pelayanan kesehatan di kota besar maupun pedesaan.

Referensi

De Locomotief, 22 April 1910

Het Nieuws van Den Dag, 21 Juli 1939

Meijer, J.A.J. (1935). Gedenkboek veertig jaar ziekenverpleging Koningin Emma Ziekenhuis “Tjikini”: Vereeniging voor Ziekenverpleging in Ned.-Indië, 1895-1935. Batavia: G. Kolf.

Pollock, A. (2015). Historical perspectives in the ambulance service. Ambulance Services: Leadership and Management Perspectives, 17-28.

Van Bergen, L. (2019). The Dutch East Indies Red Cross, 1870–1950: On Humanitarianism and Colonialism. Rowman & Littlefield.

Velde, E. (1918).Het hospitaalwezen op Sumatra’s Oostkust. Amsterdam: Drukkers Maatschappij.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *