Kerajaan Majapahit

Majapahit merupakan sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya sekitar tahun 10 November 1293 dan eksis hingga tahun 1527.

Kerajaan Majapahit bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari kerajaan Singosari yang runtuh akibat serangan dari bangsa Mongol. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Pengaruh kekuasaan Majapahit mencapai wilayah Semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali dan Filipina. Luasnya kekuasaan Majapahit membuat kerajaan ini dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara.

Kemunculan Kerajaan Majapahit

gajah-mada-klaim-majapahit-pewaris-10-kerajaan-besar-bagian-3-Xax

Gugurnya Kertanegara akibat serangan Jayakatwang pada  Saka 1214 (1292) menandai awal dari sejarah Majapahit. Awal sejarah Majapahit dimulai dengan gugurnya Kertanegara akibat serangan Jaya pada tahun Saka 1214 (1292).

Raden Wijaya yang kala itu memimpin pasukan Singasari menghadapi tentara Kediri dipaksa untuk mundur dan meminta bantuan Wiraraja, Adipati Sumenep.

Wiraraja bersedia membantu setelah dijanjikan wilayah kekuasaan. Raden Wijaya lantas mulai menyusun siasat untuk merebut kembali kekuasaan dari tangan Raja Jayakatwang.

Lantaran tidak mungkin untuk langsung menyerang, Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya berpura-pura menyerahkan diri dan mengabdi kepada Jayakatwang. Nantinya Raden Wijaya bisa mengadakan persiapan penyerangan dengan meminta Jayakatwang membuka Hutan Tarik.

Setelah keduanya sepakat, Wiraraja kemudian mengirimkan surat kepada Raja Jayakatwang yang berisi permohonan agar sang raja berkenan menerima Raden Wijaya.

Sesampainya di Kediri, Wijaya mulai menjalankan siasatnya dengan meminta raja membuka Hutan Tarik. Permohonan itu dikabulkan oleh Jayakatwang.

Hutan Tarik lalu dibuka dengan bantuan orang-orang Madura yang dikirimkan oleh Wiraraja. Pembukaan hutan Tarik berjalan dengan lancar.

Setelah hutan itu dibuka, banyak penduduk yang datang menetap disana. Desa Tarik kemudian bernama Majapahit. Letaknya sangat strategis di tepi Sungai Brantas.

Orang-orang Madura yang dikirimkan oleh Wiraraja untuk membuka hutan kemudian menetap di tempat itu. Meskipun demikian, mereka tidak tinggal sebagai penduduk biasa, melainkan disiapkan sebagai tentara oleh Raden WIjaya. Selain didukung oleh orang Madura, Wijaya juga mendapat dukungan dari orang-orang yang datang dari Tumapel dan Daha.

Sementara itu, di Madura Adipati Wiraraja telah mempersiapkan pasukannya untuk datang ke Majapahit.

Wijaya dan Wiraraja tidak gegabah melakukan serangan, tetapi menunggu momentum yang tepat. Momentum itu tiba tatkala tentara Mongol datang ke Jawa untuk menghukum Kertanegara yang sebelumnya menolak membayar upeti dan melukai utusan mereka.

Situasi ini dimanfaatkan Wijaya untuk bekerja sama dengan pasukan Mongol menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenanganya.

Saat pasukan Mongol terlena atas kemenangan mereka, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol. Berkat upayanya ini ia berhasil mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa. Pada tahun yang sama Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.

Raja-Raja Yang Memerintah

  1. Raden Wijaya

raden wijaya

Raden Wijaya merupakan pendiri kerajaan Majapahit. Ia bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana. Ia memerintah dari tahun 1293-1309. Setelah wafat ia didarmakan di Candi Simping (Sumberjati Blitar) dan mengambil perwujudan Harihara (Siwa dan Wisnu dalam satu arca).

  1. Jayanegara atau Kala Gemet

jayanegara

Jayanegara (Kala Gemet) menggantikan takhta ayahnya, memerintah antara tahun 1309-1328 dan bergelar Sri Jayanegara. Pada masanya muncul kekacauan politik akibat pemerintahannya yang kurang cakap, sehingga muncul rasa tidak puas dari pejuang-pejuang Majapahit semasa pemerintahan Raden Wijaya.

  1. Tribuwanatunggadewi

Tatkala Jayanegara wafat pada 1328, ia tidak mempunyai putra sehingga takhta kerajaan di serahkan kepada ibunya, Gayatri, sebagai wali kerajaan. Namun karena Gayatri lebih memilih menjadi biksuni yang tampil memegang kekuasaan adalah putrinya, Tribuwanatunggadewi. Meskipun pada periode ini pemberontakan masih muncul, tetapi berhasil dipadamkan oleh Gadjah Mada. Pada tahun 1333 Gadjah Mada diangat sebagai Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sudah tua.

  1. Hayam Wuruk

hayam wuruk

Setelag Gayatri wafat pada 1350, Tribuwanatunggadewi menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya, Hayam Wuruk dengan gelar Rajasa Negara. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaannya. Pada masa ini Hayam Wuruk dibantu oleh Mahapatih Gadjah Mada dalam menjalankan pemerintahan dan melakukan ekspansi.

Pada tahun 1364, Gadjah Mada wafat kemudian kedudukannya sebagai mahapatih digantikan oleh Gajah Enggon. Sementara Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389. Sepeninggal Hayam Wuruk, Majapahit dihantam berbagai permasalahan yang menyeret kerajaan tersebut ke periode kemunduran.

  1. Wikramawardhana (1389-1429) M
  2. Suhita (1429-1447) M
  3. Kertawijaya (1448-1451) M
  4. Sri Rajasawardhana (1451-1453) M
  5. Girindrawardhana (1456-1466) M
  6. Sri Singhawikramawardhana (1466-1474) M
  7. Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (1474-1478) M[4]

Kehidupan Penduduk Majapahit

Sebagai salah satu kerajaan Hindu-Budha terbesar yang pernah ada, tentu agama mayoritas penduduk kerajaan ini merupakan penganut agama Hindu dan Buddha. Meskipun berbeda, kedua penganut agama itu bisa saling bekerja sama menjalankan pemerintahan, contohnya Hayam Wuruk yang beragama Hindu dan Gadjah Mada yang beragama Siwa-Buddha.

Nagarakretagama menyebutkan istana kerajaan memiliki budaya yang adiluhung dan anggun, dengan cita rasa seni dan sastra yang tinggi, serta sistem ritual keagamaan yang rumit.

Sebagai negara agraris dan perdagangan, Majapahit mempunyai acara penting yang digelar setiap tahunnya pada bulan Caitra (Maret-April) ketika semua utusan dari semua wilayah kekuasaan Majapahit datang ke istana untuk membayar upeti atau pajak. Pajak dan denda dibayarkan dalam uang tunai.

Ekonomi Jawa telah mengenal mata uang sejak abad ke-8 pada masa kerajaan Medang yang menggunakan butiran dan keping emas dan perak. Sekitar tahun 1300 pada masa pemerintahan raja pertama Majapahit sebuah perubahan moneter penting terjadi, kepingan uang dalam negeri diganti dengan uang kepeng yaitu uang tembaga impor dari Cina.

Sementara itu, pola tata masyarakat Majapahit dibedakan atas lapisan-lapisan masyarakat (strata) yang perbedaannya lebih bersifat statis. Walaupun di Majapahit terdapat empat kasta seperti di India, yang lebih dikenal dengan catur warna, tetapi hanya bersifat teoritis dalam literatur istana.

Pola ini dibedakan atas empat golongan masyarakat, yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Namun terdapat pula golongan yang berada di luar lapisan ini, yaitu Candala, Mleccha, dan Tuccha, yang merupakan golongan terbawah dari lapisan masyarakat Majapahit.

Pada masa Majapahit bidang seni budaya berkembang pesat, terutama seni sastra. Karya seni sastra yang dihasilkan pada periide awal Majapahit, antara lain sebagai berikut:

  1. Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada tahun 1365.
  2. Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular.
  3. Kitab Arjunawijaya karangan Empu Tantular.
  4. Kitab Kunjarakarna dan Parthayajna, tidak jelas siapa pengarangnya.

Sedangkan, karya seni sastra yang dihasilkan pada periode akhir Majapahit antara lain sebagai berikut:

  1. Kitab Pararaton,
  2. Kitab Sudayana
  3. Kitab Sorandakan
  4. Kitab Ranggalawe
  5.  Kitab Panjiwijayakrama

Di samping seni sastra, seni arsitektur bangunan juga berkembang pesat. Bermacam-macam candi didirikan dengan ciri khas Jawa Timur, yaitu dibuat dari bata, misalnya Candi Tigawangi, Candi Panataran, Candi Surawana, Candi Jabung, dan Gapura Bajang Ratu.

DAFTAR PUSTAKA

Djafar, Hasan. Masa Akhir Majapahit Girindrawarddhana dan Masalahnya, Jakarta: Komunitas Bambu, 2012.

Kartodjo, Sartono, dkk Sejarah Nasional Indonesia Edisi 2. Jakarta: Balai Pustaka. 1977.

Listiani, Dwi Ari. Sejarah, Jakarta: pt. Mancanan jaya cermelang, 2009.

Muljana, Slamet. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: LKIS Yogyakarta, 2007.K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *