Kerajaan Makassar (1605-1667 M)

Berbicara tentang kerajaan Islam di Indonesia tak pernah ada habisnya, karena setiap kerajaan memiliki keunikannya tersendiri. Kajian historis kerajaan Islam berkaitan erat dengan proses Islamisasi di Nusantara, memainkan peran penting dalam penyebaran Islam dari barat hingga timur. Salah satu kerajaan Islam yang berperan besar di Timur Nusantara adalah Kerajaan Makassar di Sulawesi, yang mengadopsi Islam sebagai agama resmi.

Kerajaan Makassar, di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin, bukan hanya menjadi pusat perdagangan di Timur Indonesia, tetapi juga berhasil mengIslamkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Eksistensi kerajaan ini menjadi sorotan penting dalam sejarah perkembangan Islam di wilayah tersebut. Lebih lanjut, artikel ini akan membahas lebih rinci tentang peran dan sejarah Kerajaan Makassar di Nusantara.

Sejarah Kemunculan Kerajaan Makassar

kerajaan Makassar
Istana Kerajaan Makassar. Wikipedia

Munculnya kerajaan Makassar tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kerajaan Gowa dan Tallo. Jika ditinjau dari sisi historisnya, kerajaan Makassar terbentuk dari gabungan dua kerajaan tersebut yaitu Gowa dan Tallo. Terbentuknya kerajaan Gowa sendiri diawali dengan adanya sembilan komunitas kesukuan (Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero, dan Kalli). Sembilan komunitas itu dikemudian hari lebih dikenal dengan nama Bate Salapang (sembilan bendera).

Pada perkembangannya Bate Salapang menjadi pusat kerajaan Gowa. Kesembilan komunitas itu melalui berbagai cara, baik secara damai atau paksaan akhirnya bergabung menjadi satu untuk memilih seorang pemimpin yang mempunyai tugas mengatur hubungan antar komunitas. Untuk menjalankan tugas itu maka Tumanurung bersama suaminya Karaeng Bayo ditunjuk untuk memimpin Gowa. Bahkan menurut tradisi Gowa, Tumanurung dianggap sebagai pendiri istana Gowa.

Dalam tahun-tahun berikutnya muncul kedekatan hubungan antar Gowa dan Tallo. Tallo sendiri merupakan kerajaan yang letaknya berbatasan dengan Gowa dan selalu ingin bersatu dengan Gowa, sehingga sering disebut sebagai kerajaan kembar. Adanya kedekatan hubungan ini menyebabkan Karaeng Gowa ke-9 yakni Tumapa’risi’ Kallonna yang memerintah pada awal abad ke-16, berinisiatif untuk menggabungkan kedua kerajaan menjadi satu nama kerajaan, yaitu kerajaan Makassar. Pemberian nama Makassar diambil berdasarkan letak pusat kerajaan yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Walaupun ada pendapat yang menyatakan bahwa pusat kerajaan Makassar terletak di Sombaupu.

Bersatunya kerajaan Gowa dan Tallo bersamaan pula dengan proses Islamisasi di Sulawesi Selatan. Islam mulai memasuki daerah Sulawesi Selatan setelah kerajaan Makassar kedatangan ulama dari Sumatra yang bernama Datu’ Ri Bandang, dan Datu’ Sulaeman. Setelah kedatangan para ulama itu kerajaan Makassar memperoleh sebutan kesultanan Makassar di tahun 1605.

Pemimpin Makassar pada masa itu adalah I Manga’rangi Daeng Manrabbi yang dibantu oleh I Malling Kaang yang lebih dikenal dengan nama Karaeng Matoaya dari Tallo. Setelah menjadi muslim, gelar yang di sandang oleh Daeng Manrabbi adalah Sultan Alauddin (1591-1638), sementara gelar untuk Karaeng Matoaya adalah Sultan Abdullah yang dipercaya sebagai patih kerajaan Makassar.

Terdapat catatan menarik dalam proses masuknya Islam di Sulawesi Selatan, bahwa sebelum raja memeluk Islam, sudah ada orang Islam sebagai pedagang di Gowa jauh sebelum itu. Ketika utusan Portugis datang ke Gowa pada tahun 1540, mereka telah mendapati beberapa orang slam berdiam di Gowa, tetapi mereka datang dari daerah lain. Laporan dari orang Portugis ini mungkin saja benar, mengingat setelah Malaka direbut Portugis pada tahun 1511, banyak pedagang lain melarikan nasibnya ke daerah lain, di antaranya ke Makassar.

Perkembangan Awal Kerajaan Makassar Islam

Keputusan penguasa kerajaan Makassar untuk memeluk agama Islam mempunyai dampak yang sangat penting baik bagi kehidupan rakyat maupun kehidupan politik bagi masa depan Sulawesi Selatan. Dampak yang lain adalah menjadikan kerajaan Makassar sebagai penguasa yang tidak tertandingi di Sulawesi Selatan.

Untuk mempertahankan predikat penguasa tak tertandingi, tidak segan kerajaan Makassar berusaha mengIslamkan para penguasa lain yang ada di Sulawesi Selatan. Langkah pertama untuk merealisasikan tujuannya adalah untuk mengajak Bone dan Soppeng memeluk agama Islam, namun kedua kerajaan itu menolak. Penolakan ini menyebabkan terjadinya peperangan antara kerajaan Makassar melawan Tellumpocco (kerajaan gabungan Soppeng, Wajo, dan Bone).

Ketika awal peperangan berlangsung, Tellumpocco menjadi pihak yang memenangkan perang. Namun pada tahun 1609 M tatkala perang kembali pecah, pihak kerajaan Makassar lah yang mendapatkan kemenangan. Dengan kemenangan ini Soppeng bersedia menganut agama Islam pada tahun 1609 M, kemudian diikuti oleh Wajo pada 10 Mei 1610 M, dan oleh Bone pada 23 November 1611 M. Sultan Alaudin meninggal pada tahun 1638 M, setelah sultan Alaudin meninggal, dia digantikan oleh sultan Muhammad Said, yang nantinya akan membawa kerajaan Makassar memasuki masa kejayaannya.

Kejayaan Kerajaan Makassar

Setelah sultan Alaudin meninggal, sultan Muhammad Said (1639-1653) naik tahta menjadi raja kerajaan Makassar, dengan dibantu Karaeng Pattingaloang. Ketika Sultan Muhammad Said memerintah, kerajaan Makassar mengalami perkembangan luar biasa dan mencapai pucaknya di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669).

Nama Sultan Muhammad Said sendiri terkenal sampai ke berbagai negeri di Asia, bahkan sampai ke Eropa. Hal ini disebabkan karena jasa-jasa Karaeng Pattingaloang yang pandai melakukan diplomasi. Sayangnya tidak banyak catatan sejarah yang menceritakan keadaan kerajaan Makassar pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Said secara mendetail.

Pengganti Sultan Muhammad Said adalah anaknya, yang bernama Hasanuddin. Sultan Hasanudin lahir pada tanggal 12 Januari 1613, dan meninggal pada tanggal 12 Juni 1670. Dia menjadi raja Gowa ke-16 dan sebagai raja Makassar yang ke-3. Nama kecil Hasanuddin adalah I Mallombassi, setelah menginjak dewasa mempunyai gelar Daeng Mattawang.

kerajaan makassar
Sultan Hasanuddin

Sebelum Hasanuddin naik  tahta, dia pernah menjalankan tugas sebagai penghubung dengan kerajaan-kerajaan taklukkan Gowa, menjabat sebagai raja negeri Bonto Mangape, dan pernah juga duduk dalam dewan kerajaan sebagai karaeng yang mengurusi pendidikan anak-anak bangsawan.

Di bawah pemerintahan sultan Hasanuddin, kerajaan Makassar mencapai masa keemasannya. Kerajaan Makassar berhasil menguasai kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, seperti Luwu, Wajo, Soppeng, dan Bone. Bahkan dia mempunyai cita-cita untuk menjadikan kerajaan Makassar sebagai pusat kegiatan perdagangan bagian Timur. Untuk mewujudkannya sultan Hasanuddin menyerang dan menguasai daerah-daerah di Nusa Tenggara, seperti daerah Flores dan Sumbawa. Hasilnya, pelayaran dan perdagangan di kawasan sekitar Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara di bawah kendali kerajaan Makassar.

Bukan  hal yang mengagetkan jika kerajaan Makassar pada dapat masa lalu menjelma menjadi pusat perdagangan Indonesia Timur, berikut faktor-faktor yang menyebabkan hal itu dapat terjadi:

  1. Makassar memiliki syarat-syarat yang baik untuk menjadi pelabuhan, terletak di muara sungai dan di depannya terdapat gugusan pulau yang dapat melindungi pelabuhan dari angin maupun gelombang besar.
  2. Letaknya strategis untuk perdagangan, yaitu di tengah-tengah jalan dagang nasional dan pada zaman Indonesia Hindu, selat Makassar sudah menjadi jalan dagang internasional.
  3. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis di tahun 1511 M menyebabkan banyak orang memindahkan tempat perdagangan ke daerah-daerah yang belum dikuasai asing.
  4. Politik Sultan Agung yang bersifat agraris dan non maritim banyak melemahkan armada laut di pantai utara Jawa.

Akibat politik agraris, perdagangan menjadi lemah, sehingga pedagang-pedagang banyak yang berpindah ke daerah lain seperti Makassar.

kerajaan Makassar
Kapal Pinisi

Kerajaan Makassar berkembang cepat menjadi negara Maritim. Dengan perahu-perahu layar berjenis Pinisi dan Lombo, suku Makassar ataupun Bugis merajai lautan di Indonesia, bahkan sampai di Sailan, Siam, dan Australia. Di Indonesia sendiri banyak terdapat perkampuangan kedua suku pelaut itu yang biasanya disebut kampung Bugis.

Konfrontasi dengan Belanda dan Kemunduran Kerajaan Makassar

Keberhasilan sultan Hasanuddin menjadikan kerajaan Makassar sebagai pusat perdagangan, menyebabkannya menghadapi tantangan dari pihak Belanda. Hal ini disebabkan Belanda memiliki kepentingan perdagangan rempah-rempah di daerah Maluku. Oleh karena itu, usaha sultan Hasanuddin untuk menguasai wilayah Indonesia Timur dipandang sebagai ancaman terhadap Belanda.

Konfrontasi antara kerajaan Makassar dan armada laut Belanda pun tidak dapat dihindarkan, dalam beberapa kesempatan pula terjadi pertempuran dan perampasan terhadap kapal-kapal dagang Belanda yang dilakukan oleh orang Makassar. Bahkan pasukan Makassar dengan beraninya menyerang Maluku, yang saat itu di bawah kekuasaan asing. Atas keberaniannya itulah kemudian sultan Hasanuddin mendapat julukan “Si Ayam Jantan dari Timur”.

Penyerangan yang dilakukan oleh orang Makassar itu menimbulkan keinginan Belanda untuk menyerang langung kerajaan Makassar. Dengan liciknya Belanda memanfaatkan dendam lama negeri-negeri  sekitar Makassar untuk memuluskan langkah mereka. Kerajaan Makassar terlalu memaksakan negeri-negeri sekitarnya untuk patuh terhadap mereka, khususnya  Soppeng yang dalam adat istiadat bersatu dengan Bone.

Perasaan tidak puas yang telah lama ini kemudian dimanfaatkan Belanda untuk menyerang balik kerajaan Makassar, dipimpin oleh Raja Bone bernama Aru Palaka, Soppeng dan Bone bersama-sama dengan Belanda mulai melakukan perlawanan terhadap kerajaan Makassar.

Dengan bantuan negeri-negeri sekitar kerajaan Makassar itu, Belanda akhirnya berhasil mendesak pasukan Makassar dan sekaligus merebut ibukota kerajaan Makassar. Pasukan Makassar kewalahan menghadapi serangan aliansi tersebut, sultan Hasanuddin berusaha menyusun tentaranya yang telah kocar-kacir. Tetapi menyusun pasukan yang telah kacau tidaklah sama dengan kekuatan semula. Akhirnya Belanda memenangkan pertempuran tersebut, dan memaksa pihak penguasa Makassar untuk bersedia berunding. Dalam perundingan tersebut disepakati sebuah perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Bongaya pada tahun 1667 M.

Isi dari perjanjiangan Bongaya antara lain sebagai berikut:

  1. Makassar melepaskan beberapa wilayah strategis kepada VOC
  2. VOC berhak memegang perdagnagan monopoli di Makassar.
  3. VOC diizinkan mendirikan benteng pertahanan di Makassar.

Setelah sultan Hasanudin menandatangani perjanjian Bongaya, Belanda berhasil menguasai aktivitas perdagangan di seluruh wilayah Makassar.

Pengganti Sultan Hasanuddin setelah turun tahta adalah putranya yang bernama Mapasomba. Seperti ayahnya, Mapasomba bertekad untuk menentang kehadiran VOC di Makassar. Bahkan sikapnya lebih keras jika dibandingkan dengan ayahnya.

Meskipun demikian, sikapnya tersebut dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Adanya benteng pertahanan VOC di Maksar dan pasukan Makassar yang sudah tidak sekuat dahulu, menyebabkan usaha yang dilakukan Mapasomba mudah untuk dipatahkan. Sejak saat itu, nasib Mapasomba tidak diketahui secara pasti dan akhirnya Belanda berhasil mengukuhkan pendudukannya di Sulawesi Selatan secara penuh.

Peran ulama

Dalam catatan sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, tidak banyak disebutkan tentang peranan ulama-ulama terkemuka di Makassar. Mayoritas ulama di kerajaan Makassar berasal dari Sumatra, sebagai perutusan dari kerajaan Aceh. Mereka lah yang memegang peranan penting alam usaha mengIslamkan penguasa dan menyebarkan ajaran Islam ke masyarakat, yang pada gilirannya nanti akan ikut memberi semangat baru bagi rakyat Makassar untuk menentukan pegangan hidup mereka.

Salah satu ulama asli Makassar yang sampai sekrang dibicarakan adalah Syeikh Yusuf. Dia terkenal terlah melakukan perjalanan ke berbagai negeri untuk menuntut ilmu. Awalnya ke Aceh, Yman, Hadramaut, Mekah, Madinah, dan Damaskus. Selain menekuni ilmu Fiqih, dia juga berkecimpung di bidang tasawuf, sehingga mendapat gelar kehormatan tertinggi di Tarekat Khalwatiyah dengan sebutan Syeikh Yusuf ibn Abdullah, Abul Mahasin, Hidayatullah Tajul Khalwaty.

Para ulama asli Makassar ataupun ulama pendatang tidak meninggalkan karya-karya monumental yang diwariskan kepada generasi penerus. Kemungkinan besar disebabkan mereka telah bersatu paham tentang akidah dan syari’at Islam tanpa harus berkonflik terlebih dahulu. Selain itu dakwah secara langsung kepada masyarakat lebih ditekankan, dari pada lewat tulisan.

BIBIOGRAFI

Azra, Azyumardi. 1989. Perspektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Harun, M Yahya. 1995. Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI dan XVII. Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera.

Poesponegoro, Marwati Djoened. 1992.  Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.

Yusuf, Mundzirin, dkk. 2006. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *