Melacak Sejarah Stroke: Perubahan Pandangan dan Pendekatan terhadap Penyakit Mematikan Ini

Sejarawan kesehatan Prancis, Charles Daremberg, pernah berkata, “Tokoh utama dalam panggung sejarah kesehatan sebenarnya adalah penyakit-penyakitnya.” Sayangnya, penelitian sejarah malah sering mengabaikan pernyataan tersebut. Sejauh ini, penelitian sejarah lebih banyak berkutat di sekitar dokter-dokter terkenal dan bingkai sosial kedokteran masa lalu, sedangkan kisah tentang penyakit justru jarang diulas. Untuk mengisi kekosongan itu, kali ini penulis ingin mengulas salah satu penyakit paling mematikan di dunia, yakni stroke.

Otak adalah pusat kendali tubuh. Meskipun hanya terdiri dari 2% dari berat badan kita, otak mengonsumsi sekitar 20% pasokan energi tubuh kita. Sekitar 1.100 liter darah dipompa melaluinya setiap hari, memasok sekitar 75 liter oksigen dan 115 gram gula. Saat stroke terjadi suplai darah menuju organ ini menjadi terganggu. Akibatnya, sel-sel otak mulai mati dalam hitungan menit. Selama ribuan tahun, manusia tidak berdaya menghadapi kondisi ini.

Stroke dalam Perspektif Abad Kuno­­­­­–­Pertengahan

Garis besar sejarah stroke dapat ditarik mulai peradaban Yunani-Romawi. Pada zaman ini, belum banyak pembedahan dan ekspresimen yang dilakukan. Sistem sirkulasi darah belum diketahui, dan pada masa ini belum ditemukan perbedaan antara arteri dan vena. Selain itu, tidak ada konsensus apakah otak atau jantung yang organ instrumental untuk aktivitas motorik dan sensorik.

Meskipun demikian, abad kuno menyumbangkan banyak wawasan penting terkait penyakit stroke. Bapak kedokteran yang hidup pada masa ini, Hipokrates, membuat penjelasan tentang gejala stroke, “Rasa sakit tiba-tiba menyerang kepala orang yang sehat, dan membuatnya tidak bisa berbicara.”

Sejarah stroke
Hipokrates

Dalam karya lanjutannya, ia memberikan penjelasan, “Dalam kondisi apoplexy (istilah medis dahulu untuk menyebut stroke), rasa kantuk hebat biasanya menimpa pasien hingga membuatnya tidak sadarkan diri… demam ringan juga muncul dan tubuh menjadi lemah. Pasien dapat meninggal pada hari ketiga atau kelima, dan umumnya jarang yang mencapai hari ketujuh.”

Di samping penjelasan medis, sebagian besar orang-orang pada masa kuno percaya kalau stroke adalah penyakit kiriman dewa. Oleh sebab itu, stroke juga sering disebut theoplexy atau dioplex. “Theos” dan “dios” dalam bahasa Yunani diartikan sebagai dewa.

Sumbangan pengetahuan penting lain dari masa ini adalah pemahaman tentang gejala apoplexy yang berbeda dibanding kondisi medis lain seperti epilepsi, katalepsi, letargi, dan lain-lain. Para dokter kuno juga menulis penanganan dan prediksi terkait penyakit ini, termasuk pernyataan yang terkenal, “Mustahil menyembuhkan serangan apoplexy hebat dan sulit untuk menyembuhkan serangan yang ringan.”

Sementara itu, dokter Yunani yang hidup pada Romawi, Galen, memaparkan penyakit stroke menggunakan pendekatan humoral. Pada orang yang mengalami apoplexy, cairan lendir berbahaya terakumulasi di dalam tubuh. Akibatnya, aliran animal spirit ke otak pun menjadi terhambat dan orang tersebut akan lumpuh, kehilangan kesadaran dan meninggal.

Pada abad pertengahan, teori Galen masih mendominasi pemikiran para ilmuwan dunia dalam memahami stroke. Bahkan, dokter hebat seperti ar-Razi dan Ibnu Sina masih menganggap teori ini relevan. Menariknya, pada masa ini malah muncul keyakinan stroke dapat disembuhkan melalui doa para pendeta gereja Eropa.

Periode Kebangkitan Ilmu Medis

Masa renaisan seringkali identik dengan angin perubahan yang menyapu debu-debu abad pertengahan. Angin perubahan terjadi dalam berbagai aspek, salah satunya ilmu medis.

Setelah pembedahan anatomi tubuh manusia pertama sekitar tahun 1300, pada tahun-tahun berikutnya jumlah pemeriksaan post-mortem mengalami peningkatan. Hal ini memberikan pengetahuan yang lebih baik tentang anatomi dan pembuluh darah otak.

Pada tahun 1602, dokter Swiss Felix Platter melakukan otopsi otak setelah kematian salah satu pasien strokenya. Ia merangkum temuan post-mortemnya dengan kalimat, “Terdapat cairan lendir yang menghalangi bagian dalam otak.” Sayangnya, pernyataan tersebut hanya menegaskan bahwa Platter dan hampir semua koleganya, masih menganut gagasan kuno Galen bahwa apoplexy disebabkan oleh lendir di ventrikel otak.

Dua puluh enam tahun kemudian, William Harvey melakukan eksperimen canggih untuk membuktikan bahwa sirkulasi darah di tubuh itu benar-benar ada. Metode baru ini memang revolusioner, tetapi tidak langsung berdampak signifikan terhadap pemahaman tentang stroke.

Baca juga: Menelusuri Jejak Kanker dari Abad Kuno-Pertengahan

Meskipun demikian, metode otopsi otak dan gagasan tentang sirkulasi memberikan sumbangan penting bagi penelitian stroke.

Hasil penelitian terdahulu dimanfaatkan seorang dokter Swiss lain, Johann Jakob Wepfer (1620-1695), untuk melakukan penelitian stroke lanjutan. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa apoplexy merupakan gangguan serebrovaskular. Dirinya juga meyakini perubahan patologis terletak di substansi otak dan bukan di ventrikel.

sejarah stroke
Johann Jakob Wepfer. Sumber: jenikirbyhistory.getarchive.net

Selain itu, Wepfer dapat memberikan penjelasan akurat terkait arteri ensefalika termasuk lingkaran Willis. Selama pembedahannya, ia menemukan “susunan hipofisis” di arteri otak dan berhipotesis bahwa susunan ini memainkan peran penting dalam stroke. Sebagai tambahan, ia juga menemukan perdarahan pada sekitar 50% otak penderita stroke, sehingga membuktikan bahwa pecahnya arteri serebral bertanggung jawab atas serangan berikutnya.

Lewat penemuannya, Wepfer dipuji sebagai salah satu pelopor kedokter modern. Namun, sebetulnya ia masih sulit untuk lepas dari pendekatan fisiologi otak dan etiologi stroke Galen. Menurutnya, penyumbatan arteri otak berbahaya karena adanya gumpalan-gumpalan kecil yang menghalangi aliran animal spirit dari jantung ke otak.

Pendarahan di otak adalah bencana karena animal spirit tidak bisa mengalir bebas menuju sumsum tulang belakang, saraf, dan seterusnya. Pada dasarnya, konsep stroke Wepfer masih kuno karena masih mengaitkan humor dan spirit, hanya saja dilengkapi oleh anatomi dan patoanatomis penemuan terbaru.

Penelitian Lanjutan

Pembeda periode sebelum tahun 1800 dan periode modern bukanlah pada penemuan atau serangkaian metode baru, tetapi pada perubahan gagasan dasar tentang penyakit itu sendiri.’

Mulai Galen hingga Wepfer, stroke (seperti banyak kondisi neurologis lainnya) didefinisikan sebagai kumpulan gejala tertentu. Namun, pada awal abad kesembilan belas, stroke mulai didefinisikan sebagai akibat dari suatu lesi.

Morfologi lesi menjadi kriteria utama untuk menentukan definisi operasional stroke. Sejak saat itu pula anatomi yang tidak wajar menjadi kunci dasar dari semua pengetahuan tentang stroke.

Potret pasien stroke 1

Lahirnya pemahaman baru tentang penyakit ini tidak dapat dipisahkan dari sekolah kedokteran di Paris. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila definisi stroke modern pertama kali ditemukan dalam publikasi Prancis.

Pada tahun 1812, seorang dokter muda bernama Jean-André Rochoux menyelesaikan salah satu disertasi paling penting dalam sejarah neurologi. Naskahnya dimulai dengan pernyataan revolusioner pada masa itu. “Apoplexy merupakan pendarahan otak yang disebabkan pecahnya pembuluh darah, disertai alterasi struktur dan fungsi otak yang serius,” terangnya.

Dalam disertasinya, Rochoux mengawalinya dengan penjelasan lesi, ukuran, warna dan letaknya; kemudian menelusuri gejala dan riwayat stroke, dan diakhiri dengan beberapa komentar tentang pengobatan dan prognosis.

Namun, penjelasan mendalam Rochoux bukanlah satu-satunya. Pada dekade yang sama, seorang dokter muda Prancis lainnya bernama Léon Rostan muncul dengan gagasan bahwa stroke merupakan hasil dari pelunakan otak (“ramollissement du cerveau”). Dalam istilah modern infark iskemik otak atau yang lebih dikenal sebagai stroke iskemik.

Melalui dua penelitian penting tersebut, dua konsep dasar stroke modern telah ditemukan pada awal abad ke-19. Keduanya merupakan turunan dari metode anatomi klinis, yaitu perbandingan lesi postmortem dengan gejala in-vivo. Pada tahun-tahun berikutnya, berbagai penemuan terkait stroke adalah penyempurnaan dari dua konsep dasar ini.

Daftar Pustaka

Dening, T. R. (1995). Stroke and vascular disorders, dalam G. E. Berrios, & R. Porter (Eds.), A history of clinical psychiatry, (pp. 72–85). London: Athlone.

Karenberg, A. (2020). Historic review: select chapters of a history of stroke. Neurological Research and Practice. 2, 34.

McHenry, L. C. (1981). A history of stroke. International Journal of Neurology, 18(3–4), 314–326.

Nilsen M. L. (2010). A historical account of stroke and the evolution of nursing care for stroke patients. The Journal of neuroscience nursing : journal of the American Association of Neuroscience Nurses42(1), 19–27. https://doi.org/10.1097/jnn.0b013e3181c1fdad.

Paciaroni, M., & Bogousslavsky, J. (2009). The history of stroke and cerebrovascular disease. Handbook of clinical neurology92, 3–28. https://doi.org/10.1016/S0072-9752(08)01901-5.

Rose, F. C. (1994). The neurology of ancient Greece – an overview. Journal of the History of the Neurosciences, 3(4), 237–260.

Storey, C. E., & Pols, H. (2010). A history of cerebrovascular disease, dalam S. Finger, F. Boller, & K. L. Tyler (Ed.), History of neurology. Edinburgh: Elsevier.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *