Dari Warnet hingga Smartphone: Transformasi Akses Internet di Indonesia

Sebelum smartphone muncul, warnet menjadi titik akses utama internet di Indonesia. Warnet memainkan peran krusial dalam menyediakan akses internet yang terjangkau bagi masyarakat. Tanpa adanya warnet cukup mustahil perkembangan internet di Indonesia dapat semasif dan secepat saat ini.

Menggali Akar Internet di Indonesia

Jejak awal internet di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke sebuah proyek singkat pada awal tahun 1980-an. Kala itu, beberapa universitas yang dipimpin oleh Universitas Indonesia, membangun jaringan antar universitas yang terhubung ke dalam UNInet (Inter UNIversity Network).

Akan tetapi, koneksi ke World Wide Web baru terbentuk pada tahun 1994, bersamaan dengan munculnya layanan ISP-non komersil pertama, IPTEKNET (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Network). Melalui IPTEKNET, universitas-universitas dan lembaga-lembaga penelitian dapat terhubung ke World Wide Web menggunakan teknologi TCP/IP.

Kendati baru terealisasi pada 1994, proyek yang didanai oleh Bank Dunia ini sebenarnya telah dirintis oleh B.J. Habibie sejak tahun 1986.

internet di Indonesia
B.J. Habibie merintis pembentukan IPTEKNET. Sumber: Insert Live

Internet memasuki ranah publik di Indonesia pada tahun 1995 dengan hadirnya Penyedia Layanan Internet (ISP) komersial swasta, yang kemudian diikuti oleh ledakan ISP pada akhir tahun 1997.

Sayangnya, pertumbuhan pesat jumlah ISP tidak diiringi dengan pertumbuhan pengguna internet yang signifikan. Mahalnya biaya langganan perangkat dan sambungan telepon menjadi penghalang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia saat itu.

Menjamurnya Warnet

Tatkala pemerintah Indonesia belum bisa berbuat banyak untuk mendorong pertumbuhan pengguna internet, warnet (warung internet) hadir memberikan solusi. Tanpa adanya campur tangan pemerintah, warnet memainkan peran penting dalam mempopulerkan penggunaan internet kepada masyarakat luas.

Warnet muncul pada tahun 1996 sebagai jalur akses alternatif bagi masyarakat. Satu dekade berikutnya, warnet menjadi jalur akses utama ke WWW bagi lebih dari 50 persen pengguna internet Indonesia.

Pada tahun 1996, PT Pos Indonesia turut terjun ke bisnis warnet dengan mendirikan ISP-nya sendiri, Wasantara-Net. Tujuannya untuk menghadirkan internet ke seluruh penjuru nusantara dengan mengubah kantor-kantor pos menjadi “warposnet” (singkatan dari warung internet dan pos).

Di satu sisi, proyek Wasantara-Net mencerminkan keinginan negara untuk menjadi bagian dari masyarakat global dan ekonomi digital yang sedang berkembang. Di sisi lain, proyek ini juga dapat dipandang sebagai upaya negara untuk menjaga stabilitas nasional dengan mengontrol arus informasi di internet.

Meskipun demikian, upaya yang dirintis pemerintah tidak membuahkan hasil yang manis. Wasantara-net gagal menghasilkan keuntungan, hingga akhirnya gulung tikar pada tahun 2002.

Bersamaan dengan kegagalan Wasantara-net, warnet yang dikelola swasta justru semakin populer di tengah masyarakat.

Sekilas, cara kerja warnet di Indonesia tidak berbeda dengan warnet di negara lain. Penggunaan internet di warnet tidak memerlukan kepemilikan komputer atau langganan ISP, dan aksesnya bisa disewa per jam atau per menit. Namun, selain sebagai titik akses, warnet juga merupakan hasil dari transformasi, adaptasi, dan lokalisasi teknologi internet.

Pada umumnya, desain warnet memiliki banyak kemiripan dengan warung. Bahkan ciri-ciri fisik warung, seperti sekat-sekat bambu dan tempat duduk lesehan, banyak ditemukan dalam desain warnet.

Di samping bentuk fisiknya, warnet juga memiliki fungsi sosial warung dalam jaringan informasi tradisional. Seperti halnya warung, warnet adalah tempat orang-orang bertemu untuk berinteraksi dan memperoleh informasi baru.

Warnet merupakan tempat untuk mendiskusikan berbagai macam topik, mulai dari percintaan hingga politik. Humor, rumor, berita, dan gosip dibawa keluar dan masuk warnet oleh para pengunjungnya.

Situasi di Warnet 1
Suasana warnet di Indonesia

Dengan adanya interaksi online dan offline, warnet di seluruh Indonesia telah menjadi gerbang baru untuk membentuk identitas, mencari jati diri, dan kepercayaan diri untuk berinteraksi dengan sesama di luar lingkup negara dan otoritas lainnya (misal orang tua).

Pada akhir tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an, warnet tumbuh subur di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang.

Namun, bisnis warnet selalu berlangsung singkat, bahkan saat puncak pertumbuhannya pada tahun 1997-2002. Setiap kali sebuah warnet baru didirikan, warnet tersebut akan menarik pengguna karena kebaruannya; tetapi kemudian para pengguna ini akan segera meninggalkannya begitu mereka menghadapi masalah, seperti koneksi yang lambat. Begitu satu warnet gulung tikar, warnet lain pun lahir.

Karena tidak ada izin yang diperlukan untuk memiliki dan mengoperasikan bisnis ini, banyak warnet yang dikelola tidak profesional. Warnet yang berhasil bertahan sedikit lebih lama biasanya berlokasi di dekat kampus. Meskipun begitu, sebagian besar warnet tidak bertahan lebih dari tahun keempat atau kelima.

Era Smartphone

Bisnis warnet mencapai puncaknya pada tahun 2008, dengan jumlah warnet di Indonesia mencapai dua belas ribu. Sayangnya, sejak saat itu jumlah warnet terus berkurang dan tidak dapat kembali ke masa jayanya. Untuk bertahan, banyak pemilik warnet mentransformasikan bisnisnya menjadi gaming center atau tempat menyalin film ilegal.

Ada beberapa alasan mengapa jumlah warnet berkurang secara drastis. Pertama, pertumbuhan luar biasa pengguna ponsel yang disertai dengan penetrasi internet seluler yang stabil di Indonesia. Kedua, tarif koneksi internet menjadi lebih terjangkau dari waktu ke waktu bagi individu. Ketiga, semakin banyak hotspot internet nirkabel yang tersedia di tempat-tempat umum, seperti sekolah, universitas, taman, kafe, restoran, dan pusat perbelanjaan.

Operator Warnet 1
Potret operator warnet. Sumber: GGWP

Walaupun pada tahun 2010, warnet masih menjadi tempat paling populer untuk mengakses internet, dengan 64 persen pengguna internet menggunakan warnet. Namun, jumlah tersebut berkurang drastis dalam waktu singkat.

Pada 2014, dalam survei yang dilakukan oleh APJII dan Universitas Indonesia, hanya 11,6 persen responden yang menggunakan warnet untuk berselancar di dunia maya. Sementara, mayoritas responden menggunakan ponsel untuk mengakses internet.

Terlepas dari penurunan jumlah warnet, jumlah pengguna internet di Indonesia terus meningkat secara dramatis. Dari hanya 0,26 persen (sekitar 550.000 pengguna) pada tahun 1998 menjadi 51 persen (132 juta) dari total populasi pada tahun 2017. Dari 132 juta pengguna internet di Indonesia, 92 juta di antaranya menggunakan ponsel pintar.

Dengan tingkat penetrasi seluler mencapai lebih dari 90 persen dan jumlah total ponsel yang melebihi jumlah penduduk, internet seluler telah menjadi pilihan utama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Meskipun harga ponsel pintar semakin terjangkau dari waktu ke waktu, harganya tetap sangat mahal bagi sebagian masyarakat Indonesia, terutama masyarakat berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, masyarakat miskin relatif tidak memiliki akses internet meskipun ada banyak Wi-Fi publik dan titik akses lainnya, seperti warnet, kafe, dan minimarket, yang membuat akses internet lebih inklusif bagi masyarakat kelas menengah Indonesia, terutama di daerah perkotaan.

Seiring dengan kemudahan akses internet, semakin banyak orang menghabiskan waktunya untuk online. Sebagian besar orang Indonesia menggunakan internet untuk mengakses media sosial, seperti Facebook, Instagram dan Twitter.

Pertumbuhan penggunaan media sosial seluler membuat orang semakin melupakan kehadiran warnet. Kini, suasana di warnet seperti dekade pertama 2000-an hanya tinggal kenangan belaka. Meskipun begitu, warnet telah memainkan peran penting dalam perkembangan internet di Indonesia.

Daftar Pustaka

Barker, J. (2005). Engineers and Political Dreams: Indonesia in the Satellite Age. Current Anthropology, 46(5), 703–727. https://doi.org/10.1086/432652.

Hill, D. T., & Sen, K. (1997). Wiring the Warung to Global Gateways: The Internet in Indonesia. Indonesia, 63, 67–89. https://doi.org/10.2307/3351511.

Lim, M. (2003). From War-net to Net-war: The Internet and Resistance Identities in Indonesia. International Information & Library Review, 35:2-4, 233-248, DOI: 10.1080/10572317.2003.10762603.

Lim, M. (2003). From real to virtual (and back again): civil society, public sphere, and the internet in Indonesia. In K. C. Ho, R. Kluver, & K. C. C. Yang (Eds.), Asia.com: Asia encounters the Internet (pp. 113-128). (Asia’s transformations). Routledge.

Lim, M. (2018). Dis/Connection: The Co-evolution of Sociocultural and Material Infrastructures of the Internet in Indonesia. Indonesia 105, 155-172. doi:10.1353/ind.2018.0006.

Suryadhi, A. (2008). “Jumlah Warnet Bisa Tembus 12 Ribu.” Detik.com, 28 Januari, 2008, http://inet.detik.com/read/2008/01/28/121533/885338/319/2008-jumlah-warnet-bisa-tembus-12-ribu

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *