Mengulik Sejarah Mudik pada Masa Kolonial

Mudik telah menjadi tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Namun, tradisi ini ternyata telah dilakukan sejak masa kolonial. Arus urbanisasi menjadi salah satu faktor penting mengapa tradisi ini bisa muncul dan berkembang di Indonesia.

Mengapa tradisi mudik muncul?

Fenomena mudik sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dilaksanakan di banyak negara lain. Pada umumnya, tradisi mudik dipicu oleh momentum keagamaan.

Sebagai contoh, penduduk Mesir biasanya berkumpul dengan keluarga besar pada hari Idul Adha. Sementara sejumlah besar orang Tionghoa yang merantau melakukan perjalanan menuju kampung halaman selama peryaan Tahun Baru Cina, yang juga dikenal sebagai Imlek.

Masyarakat Korea Selatan juga melakukan tradisi mudik saat merayakan Hari Panen atau yang biasa disebut Chuseok. Pada momen ini, sebagian besar masyarakat Korea Selatan akan pulang ke rumah untuk mengunjungi altar leluhur mereka. Di India, perpindahan penduduk secara besar-besaran biasanya terjadi pada saat perayaan Festival Cahaya atau Dipawali yang biasanya dirayakan selama 5 hari berturut-turut.

Di Indonesia, mudik sudah menjadi tradisi tahunan. Istilah Mudik sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, yaitu akronim dari kata mulih dan dilik, yang kemudian disebut Mudik. Kata ini kemudian menjadi istilah yang populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Tradisi mudik berkaitan erat dengan urbanisasi, yaitu perpindahan atau mobilisasi penduduk (migrasi) dari desa ke kota. Pada masa pra-kolonial, mudik belum menjadi tradisi yang umum dilakukan oleh penduduk Nusantara.

Hal ini karena belum adanya kota industri yang nyata dan berkembang. Kedua, mayoritas penduduk masih menggantungkan hidupnya dengan bertani di dekat bantaran sungai yang subur, sedangkan sebagian lainnya hidup di kota-kota pelabuhan di pesisir.

Seiring dengan ekspansi kolonial di Indonesia, pemerintah kolonial mulai mendirikan perkebunan dan pabrik di berbagai wilayah untuk mendukung kepentingan ekonomi mereka.

mudik
Para perantau di Tanah Abang. Sumber: KITLV A739

Batavia menjadi salah satu kota industri paling berkembang pada masa ini. Di bawah kekuasaan kolonial, kota tersebut menjelma sebagai pusat kota baru di Jawa yang mengalami pertumbuhan bisnis dan populasi begitu cepat. Di kota ini, pekerja tidak hanya berasal dari tenaga budak, tetapi dari penduduk desa yang mencari peruntungan.

Meskipun demikian, ledakan perantau tidak terjadi sampai abad ke-19. Pengenalan sistem budidaya tanaman ekspor (cultuurstelsel) pada abad ke-19 menjadi salah satu pemicu meledaknya arus urbanisasi ke kota besar.

Melalu kebijakan ini, para petani diwajibkan untuk menanam tanaman ekspor seperti kopi, tebu dan tembakau, yang kemudian dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga sangat rendah. Seiring berjalannya waktu, lahan pertanian padi semakin tergerus hingga mengakibatkan banyak petani jatuh miskin dan kesulitan mencukupi kebutuhan keluarganya.

Untuk bertahan hidup, mereka harus memutar otak mencari solusi. Salah satunya dengan melakukan migrasi untuk mencari pekerjaan di kota-kota industri yang mulai berkembang seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya.

Pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya, jembatan, dan pelabuhan, serta pembangunan pabrik dan perkebunan di kota-kota tersebut menciptakan lapangan pekerjaan dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Migrasi ini sekaligus menciptakan fenomena urbanisasi yang menjadi cikal bakal munculnya tradisi mudik.

Meskipun telah tinggal di kota, bukan berarti para perantau lupa begitu saja dengan kampung halaman. Dalam banyak kasus, seseorang yang bermigrasi ke kota tidak ingin meninggalkan tradisi dan identitas budaya desa yang ditinggalkan. Tradisi dan identitas desa yang jarang ditemukan di kehidupan perkotaan adalah tradisi dan identitas yang menyatu dengan lingkungan sekitar.

Oleh sebab itu, mudik dijadikan masyarakat perkotaan sebagai momentum untuk mengenang masa kecilnya di desa bersama orang tua dan sanak saudara selain untuk melaksanakan ziarah kepada orang tua atau anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Namun, mudik pada masa kolonial tentu berbeda dengan mudik pada masa kini, terutama menyangkut transportasi yang digunakan. Pada awal abad ke-20, transportasi seperti bus, kereta api dan kapal laut memang telah tersedia, tetapi tidak semua lapisan masyarakat mampu menjangkaunya.

mudik
Bus menjadi transportasi penduduk Hindia-Belanda. KITLV A1055

Sama seperti masa sekarang, momen lebaran masa kolonial juga diwarnai kenaikan harga tiket transportasi. Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 31 Januari 1933 memberitakan kenaikan tarif bus pada momen lebaran yang mencapai 200-300%. Kenaikan luar biasa tersebut membuat para pemudik beralih menggunakan kereta api.

Mudik menggunakan kereta api pun jauh dari kata nyaman karena penduduk bumiputra harus menghadapi praktik diskriminasi. Lewat kebijakan pemerintah kolonial, kereta dibagi menjadi tiga kelas, dan penduduk bumiputra hanya bisa naik di kelas terendah atau yang sering disebut sebagai kelas kambing. Gerbong tersebut jauh dari kata layak dan seringkali membuat penumpang berdesak-desakkan.

Medium sized JPEG 19 1
Kereta api zaman kolonial. KITLV 1402456

Kebutuhan yang banyak menjelang lebaran juga menjadi permasalahan bagi perantau masa kolonial. Raden S. Nimpoeno dalam karyanya Javaanse Adat, memaparkan kebiasaan penduduk Jawa menjelang lebaran, salah satunya dengan membeli pakaian baru untuk keluarga di kampung.

Karena gaji yang kecil, mereka terkadang menggadaikan barang berharga atau meminta kasbon kepada majikannya di kota sebelum mudik. Namun, seiring berjalannya waktu, mulai muncul kesadaran di kalangan pengusaha kolonial untuk memberikan tunjangan hari raya (THR). Jumlah tunjangan bermacam-macam, ada yang sebanyak satu bulan gaji, setengah gaji, hingga kurang dari setengahnya.

Bagi para perantau, momen lebaran rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan. Mereka yang tidak mempunyai bekal yang cukup bahkan memaksakan diri untuk pulang meski harus berjalan kaki atau menggunakan transportasi tradisional seperti sampan dan dokar untuk sampai ke kampung halaman. 

Bibliografi

Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 31 Januari 1933.

Day, C. (1904). The Dutch in Java. Macmillan: New York.

Dick, H. W. (2002). Formation of the nation-state, 1930s-1966. In The emergence of a national economy: An economic history of Indonesia.

Dou, J., & Miao, S. (2017). Impact of mass human migration during Chinese New Year on Beijing urban heat island. International Journal of Climatology, 37(11), 4199–4210.

Kompas. (2018). Dari Mana Asal Kata “Mudik” dan “Lebaran.” https://nasional.kompas.com/read/2018/05/24/03300051/dari-mana-asal-kata-mudik-dan-lebaran-

Nimpoeno, R. S. (1941). Javaanese Adat. Uitgeverij W. Van Hoeve.

Octifanny, Y. (2020). The History of Urbanization in Java Island: Path to Contemporary Urbanization. TATALOKA, 22(4), 474-485. https://doi.org/10.14710/tataloka.22.4.474-485.

Oktavio, A., & Indrianto, A. T. L. (2019). Social Economic Perspectives of Homecoming Tradition: An Indonesian Context. KATHA- The Official Journal of the Centre for Civilisational Dialogue, 15(1), 46–65. https://doi.org/10.22452/KATHA.vol15no1.3.

Van Klinken, G. (2009). Decolonization and the making of middle Indonesia. Urban Geography30(8), 879-897.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *