Penyakit Cacar dan Vaksinasi Paling Awal di Hindia-Belanda

Dimulainya program vaksinasi penyakit cacar di Hindia-Belanda merupakan langkah preventif pertama dalam mencegah penyebaran suatu penyakit. Meskipun demikian, petugas kesehatan pada masa kolonial dihadapkan pada berbagai tantangan, di antaranya ketersediaan vaksin hingga penolakan penduduk terhadap vaksin.

Jejak Penyakit Cacar di Nusantara

Penyakit cacar merupakan penyakit yang telah lama ada di nusantara. Peter Boomgaard (2003: 592) dalam tulisannya “Smallpox, Vaccination, and the Pax Neerlandica: Indonesia, 1550-1930,” menyatakan bahwa epidemi penyakit cacar paling awal tercatat terjadi di Ternate pada 1558 dan Ambon 1564. Sementara penyakit ini pertama kali tercatat dalam catatan Belanda pada 1618.

Pada abad ke-18, penyakit ini diketahui telah menyebar di wilayah Jawa dan luar Jawa. Penduduk di wilayah Semarang, Priangan, Buitenzorg, dan Lampung tercatat telah terserang penyakit cacar.

Pada masa itu, penyakit cacar jauh lebih mematikan dibandingkan pada masa sekarang. Dirk van Hogendorp dalam surveinya di Batavia selatan memperkirakan bahwa lebih dari 100 orang terkena penyakit cacar dan 20 di antaranya meninggal dunia.

Memasuki abad ke-19, penyakit cacar telah menyebar merata di wilayah Jawa. John Crawfurd, seorang dokter yang datang ke Jawa bersama Raffles pada 1811, menyatakan bahwa penyakit ini telah menimbulkan kepanikan dan ketakutan di kalangan penduduk bumiputra.

Dalam wawancara Crawfurd dengan ibu-ibu di Jawa antara tahun 1811-1816, ia memperoleh data bahwa dari 1.019 bayi yang dilahirkan, 102 di antaranya meninggal karena penyakit cacar (Baha’uddin, 2006: 289).

Selain Batavia, cacar juga mengamuk di wilayah Vorstenlanden. Pada awal abad ke-19, dari total anak yang dilahirkan di Yogyakarta, 10% di antaranya meninggal dunia.

Upaya Pengadaan Vaksin

Sebelum vaksinasi dilakukan, penanganan paling awal terhadap penderita penyakit cacar di Hindia-Belanda adalah melalui langkah variolasi. Variolasi merupakan proses memindahkan virus cacar dari lesi penderita cacar ke orang-orang yang sehat, dengan tujuan untuk mencegah infeksi cacar. Metode ini umum digunakan di berbagai penjuru dunia pada abad ke-18

Metode variolasi kemudian digantikan dengan metode vaksinasi, setelah Edward Jenner seorang dokter yang tinggal dipedesaan Berkeley menemukan vaksin pertama untuk penyakit cacar pada 1798 (Williams, 2010: 166). Istilah vaksin digunakan oleh dr. Jenner karena substansi vaksin cacar temuannya berasal dari cacar sapi, yang mana sapi dalam bahasa latin disebut vacca.

Metode vaksin Jenner dianggap lebih aman dibandingkan variolasi, sehingga dengan cepat dipilih sebagai jawaban atas epidemi cacat.

Vaksin cacar pertama kali tiba di Batavia pada bulan Juni 1804 menggunakan kapal Elisabeth dari Madagaskar. Sebelum tiba di Batavia, vaksin tersebut menempuh perjalanan jauh dari pusat pengembangannya di Jenewa. Akibat perjalanan jauh ini seringkali efektivitas dari vaksin menjadi menurun.

Sasaran dari vaksinasi paling awal ini adalah para orang-orang bumiputra yang setiap harinya berinteraksi dengan orang Eropa dan pejabat lokal.

Perluasan vaksinasi baru terjadi pada masa pemerintahan Raffles. Pada masa ini vaksinasi mulai dilakukan menyeluruh di kota-kota besar di Jawa (Bosma, 2015: 73).

Sayangnya karena keterbatasan stock vaksin, upaya vaksinasi pun tidak bisa dilakukan secara masif. Hambatan semakin bertambah, setelah sebagian penduduk menentang program vaksinasi tersebut, seperti kasus penolakan vaksinasi di Madura pada 1812 (Schoute, 1937:49).

Untuk menjamin ketersediaan vaksin, ditemukan metode untuk menjaga kualitas vaksin yang dibawa dari Belanda, yakni disimpan di pipa kapiler. Memasuki tahun 1870, di Belanda didirikan perhimpunan yang memproduksi dan mendistribusikan vaksin cacar. Pendirian perhimpunan ini terbukti mampu meningkatkan intensitas pengiriman vaksin, sehingga setiap 2-3 bulan sekali Batavia dapat menerima vaksin aktif dari Belanda.

Selain mendapatkan vaksin dari Eropa, pemerintah kolonial juga membuat program untuk memproduksi vaksin. Ide ini berawal dari keberhasilan Feldman, seorang petugas kesehatan berkebangsaan berhasil melakukan retrovaksinasi di desa Kecewen, Wonosobo pada 1852. Retrovaksinasi tersebut ternyata dapat menghasilkan vaksin cacar yang bisa langsung digunakan dengan hasil yang memuaskan. Kabar ini kemudian diikuti dengan upaya retrovaksinasi di berbagai wilayah lain (Schoute, 1937:182).

Pemerintah kolonial kemudian mengambil kebijakan retrovaksinasi secara resmi dengan membentuk Parc Vaccinogene pertama yang didirikan di Batu Tulis Bogor pada 1879, Sayangnya proyek ini mengalami kegagalan karena di wilayah itu sulit memperoleh sapi untuk memproduksi vaksin.

penyakit cacar
Proses pembuatan vaksin cacar di Instituut Pasteur sekitar tahun 1920. Sumber: KITLV

Untungnya, percobaan retrovaksinasi yang dilakukan oleh dr. Kool di Meester Cornelis pada 1884 berhasil dengan baik. Produksi vaksin pun meningkat dengan pesat. Melalui keputusan Staatsblad 1890 no. 163, pada 6 Agustus 1890, lokasi retrovaksinasi dipindahkan ke wilayah Weltevreden dengan fasilitas yang lebih memadai (Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, Deel: 1, 1891).

Sosialisasi Vaksin Cacar

Sama halnya dengan program vaksinasi pada masa sekarang, program vaksinasi pada masa kolonial juga memiliki tujuan utama. Setidaknya ada dua tujuan utama vaksinasi era kolonial, yakni melakukan vaksinasi terhadap anak-anak dan menjamin ketersediaan dan kesinambungan program vaksin.

Untuk menyukseskan program ini tentu dibutuhkan agent-agent yang dapat menjangkau masyarakat bawah. Akan tetapi pemerintah kolonial harus menghadapi kenyataan bahwa tenaga medis yang tersedia di Hindia-Belanda sangatlah terbatas, belum lagi jarak sosial antara penduduk dan dokter-dokter Eropa.

penyakit cacar
Potret seorang dokter Jawa tengah menyuntikkan vaksin cacar. Sumber KITLV

Sebagai solusi dari masalah tersebut, pada masa Raffles diputuskan untuk melatih tokoh-tokoh masyarakat seperti para penghulu yang pada akhirnya melahirkan para juru cacar (vaccinateur). Pelatihan ini kemudian diteruskan Gubernur Jenderal, Godert van der Capellen (Bosma, 2015).

Para juru vaksin ini menjadi jembatan penghubung antara pengobatan Barat dan masyarakat di pedesaan. Mereka berupaya melakukan edukasi hingga ke pelosok pedesaan, agar masyarakat mengetahui manfaat dari vaksinasi.

Seiring berjalannya waktu program vaksinasi semakin berkembang. Melalui Reglement op de uitoefening der koepokvaccinatie in Nederlandsch-Indie (Peraturan Pelaksanaan Vaksinasi cacar) yang dikeluarkan pada 1820, program vaksinasi diatur sedemikian rupa agar semakin terorganisir (Pepper,1975:54).

Perbaikan terhadap program vaksinasi terus dilakukan secara berkala, pada tahun 1850 diperkenalkan sistem pencacaran sirkulir yang memungkin vaksinasi menjangkau lebih banyak pedesaan. Tujuan dari sistem ini agar setiap orang dapat memperoleh manfaat dari vaksin. Di dalam sistem ini, tugas juru vaksin semakin berat karena harus melakukan pencacaran dan melakukan kontrol di distrik tempatnya bekerja.

Daftar Pustaka

Baha’uddin. “Dari Mantri hingga Dokter Jawa: Studi Kebijakan Pemerintah Kolonial dalam Penanganan Penyakit Cacar di Jawa Abad XIX – XX.” Humaniora [Online], 18.3 (2006): 286-296.

Boomgaard, Peter. “Smallpox, Vaccination, and the Pax Neerlandica: Indonesia, 1550-1930.” Bijdragen Tot De Taal-, Land- En Volkenkunde, vol. 159, no. 4, 2003, pp. 590–617. JSTOR, www.jstor.org/stable/27868070.

Bosma, Ulbe. ” Smallpox, Vaccinations, and Demographic Divergences in Nineteenth-Century Colonial Indonesia”, Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia 171, 1 (2015): 69-96, doi: https://doi.org/10.1163/22134379-17101002.

Pepper, Bram. Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Asli di Jawa dalam Abad ke-19: Suatu Pandangan Lain Khususnya mengenai Masa 1800-1850. Terj. M Rasjad St. Suleman. Jakarta: Bhratara, 1975.

Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, Deel: 1, 1891.

Shoute, D. Occidental Therapeutics in the Netherlands East Indies during Three Countries of Netherlands Settlement. Batavia: G. Kolff, 1937.

Williams, Gareth. Angel of Death: The Story of Smallpox. London: Palgrave Macmillan, 2010.

Similar Posts:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *