Pendidikan Islam Masa Umayyah

pendidikan islam masa umayyah
Ilustrasi Pendidikan masa Islam

Pendidikan Islam bersumber pada al-Quran dan Hadis untuk membentuk manusia yang tidak saja beriman kepada Allah, tetapi juga agar manusia senantiasa memelihara nilai-nilai yang berlaku dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia dan masyarakat. Pendidikan Islam mengalami pertumbuhan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan Islam itu sendiri. Berbicara mengenai sejarah pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban Islam.

Jadi, dapat dikatakan bahwa periodesasi pendidikan Islam sama dengan periodesasi sejarah peradaban Islam. Periodesasi tersebut terbagi dalam tiga babakan utama, yaitu: periode klasik, periode pertengahan, dan periode modern.[1] Apabila dirinci: pada masa Nabi Muhammad SAW (571-632 M), masa Khulafa al-Rasyidin (632-661 M), masa dinasti Umayyah di Damaskus (661-750 M), dan masa dinasti Abbasiyah di Baghdad dan masa dari jatuhnya kekuatan Islam di Baghdad (750-1250 M).

Pendidikan Islam pada masa Umayyah yang masuk dalam periode klasik memiliki beberapa kesamaan dengan pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin. Pendidikan pada masa ini masuk dalam fase pertumbuhan pendudukan Islam. Walaupun demikian, pendidikan yang ada pada masa Umayyah tetap mempunyai perbedaan dan juga perkembangannya sendiri.

Pendidikan Islam yang dimulai pada masa Nabi Muhammad berpusat di Madinah. Ketika masa Umayyah pendidikan Islam mengalami perkembangan. Mengingat Umayah banyak melakukan ekspansi, sehingga negara Islam bertambah luas dengan pesatnya. Negara Islam telah meliputi seluruh Syria (Syam), Irak, Persia, Samarkand, Mesir, Maghrib (Marokko), dan Spanyol.[2]

Ekspansi yang dilakukan untuk memperluas negara Islam tidaklah dengan cara meroboh dan menghancurkan, perluasan ini bahkan diikuti oleh para ulama dan guru-guru Agama yang ikut bersama-sama dengan tentara Islam.[3] Pendidikan Islam pun tidak hanya ada di Madinah saja, melainkan menyebar diberbagai kota besar, antara lain:[4]

  1. Di kota Makkah dan Madinah (Hijaz).
  2. Di kota Basrah dan Kufah (Irak).
  3. Di kota Damsyik dan Palestina (Syam).
  4. Di kota Fistat (Mesir).

Berdirinya Dinasti Umayyah

Dinasti Umayyah adalah dinasti pertama dalam sejarah Islam. Dinasti ini berlangsung pada tahun 661-750 M yang berpusat di Damaskus. Nama Umayyah diambil dari nama Umayyah ibn Abdi Syam ibn Abdi Manaf yang merupakan seorang pemimpin suku Qurays di jaman jahiliyah.[5] Umayyah mulai menyusun kekuatan pada masa Usman ibn Affan. Ketika itu Umayyah yang memang memiliki hubungan dekat dengan Usman ibn Affan. Muawiyah ibn Abu Sufyan diberi jabatan sebagai gubernur Syria (Damaskus) ketika itu.[6]

Pasca terbunuhnya Usman, Ali dibaiat menjadi khalifah menggantikan Usman. Muawiyah yang merupakan oposisi menjadi musuh dan lawan kekuasaan Ali. Konflik antara Muawiyah dan Ali pecah dalam perang Siffin. Ketika pasukan Ali hampir menang, Amr ibn ‘ash menasehati Muawiyah agar pasukannya mengangkat mushaf-mushaf al-Quran untuk melakukan perdamaian. Akhirnya Ali menerima tahkim, sehingga terjadi perpecahan diantara pendukung Ali. Keputusan yang dihasilkan oleh wakil pihak Ali (Abu Musa al-Asy’ari) dan pihak Mu’awiyah (Amr ibn ‘Ash) justru memperkuat kedudukan Muawiyah dan golongan yang mendukungnya.[7] Umat Islam pada saat itu terbagi menjadi tiga golongan:[8]

  1. Bani Umayyah dan pendukungnya dipimpin oleh Muawiyah.
  2. Syiah atau pendikung Ali, yaitu golongan yang mendukung kekhalifahan Ali.
  3. Khawarij yang menjadi lawan dari kedua partai tersebut.

Setelah kematian Ali, Muawiyah mengambil alih kekuasaan. Ia melakukan konsolidasi kekuasaan di Syiria yang rakyatnya memang sudah solid terhadap Muawiyah, dengan memindahkan ibu kota ke Damaskus. Dari sinilah kemudian babak baru dinasti bani Umayyah dimulai.[9] Umayyah yang berpusat di Damaskus berlangsung selama 91 tahun dan diperintah oleh 14 orang khalifah. Mereka itu adalah: Muawiyah (41 H/661 M), Yazid I (60 H/680 M), Muawiyah II (64 H/683 M), Marwan I (64 H/685 M), Abdul Malik (65 H/685 M), Walid I (86 H/705 M), Sulaiman (96 H/715 M), Umar II (99 H/717 M), Yazid II (101 H/720 M), Hisyam (105 H/724 M), Walid II (125 H/743 M), Yazid III (126 H/744 M), Ibrahim (126 H/744 M), dan Marwan II (127-132 H/744-750).[10]

Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Umayyah

Pada masa Umayyah berkembangnya pendidikan Islam tidak lepas dari perluasan wilayah negara Islam yang diikuti oleh para ulama dan guru-guru agama yang juga ikut bersama-sama tentara Islam. Pendidikan yang berkembang bersifat desentrasi, kajian ilmu yang ada tersebar dan terpusat di kota-kota besar, diantaranya:[11]

  1. Madrasah Makkah

Muaz bin Jabal adalah guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah pendudukan Makkah takluk. Ia mengajarkan al-Quran dan mana yang halal dan haram. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwa, Abdullah bin Abbas pergi ke Makkah dan mengajar di masjidil Haram, ia mengajar ilmu tafsir, fiqhi dan sastera. Ia adalah pembangun madrasah Makkah. Kemudian ia digantikan murid-muridnya yaitu Mujahid bin Jabar (meriwayatkan tafsir al-Qur’an dari Ibnu Abbas), ‘Athak bin Abu Rabah (ilmu fiqih terutama manasik haji), dan Thawus (seorang Fukaha dan Mufti). Ketiga guru itu meninggal dan digantikkan oleh Sufyan bin ‘Uyainah dan muslim bin Khalid Az-Zanji. Keduanya adalah guru imam Syafi’i yang pertama. Kemudian ia hijrah ke Madinah berguru pada Imam Malik.

  1. Madrasah Madinah

Madrasah Madinah adalah tempat para sahabat menuntut ilmu. Adapun ulama-ulama di Madinah adalah Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Sabit, dan Abdullah bin Umar bin Khattab. Namun, yang aktif mengajar agama Islam adalah Zaid bin Sabit (ahli qiraat dan ahli fiqih, khususnya dalam faraid), dan Abdullah bin Umar (ahli hadis). Setelah para ulama wafat digantikan oleh murid-muridnya, tabi’in, yaitu Sa’id bin Al-Musaiyab (murid Zaid bin Sabit), dan ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-Awam. Sesudah tingkat tabi’in digantikan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri al-Quraisyi (ahli fiqhi dan hadis). Madrasah Madinah ini melahirkan Imam Malik bin Anas, imam Madinah.

  1. Madrasah Basrah

Ulama sahabat yang terkenal di Basrah adalah Abu Musa Al-Asy’ari (ahli fiqih, ahli hadis, dan ahli al-Qura’an) dan Anas bin Malik (ilmu hadis). Madrasah Basrah melahirkan ulama terkenal, besar, berbudi tinggi, saleh, fasih lidahnya, dan berani mengeluarkan pendapatnya, ia adalah Al-Hasan Basry (ahli fiqih, ahli pidato dan kisah, ahli fikir, serta ahli tasawuf). Ada pula Ibnu Sirin yang pernah belajar pada Zaid bi Sabit, Anas bin Malik, dan lain-lain. Ia ahli hadis dan hidup semasa dengan al-Hasan Basry.

  1. Madrasah Kufah

Ulama di Kufah ialah Ali bin Abu Talib dan Abdullah bin Mas’ud. Ali lebih banyak menangani politik dan urusan peperangan. Sedangkan Ibnu Mas’ud mengajarkan ilmu al-Qur’an dan ilmu agama, ia juga ahli tafsir dan ahli fiqih. Madrasah Kufah melahirkan Nu’man, Abu Hanifah.

  1. Madrasah Damsyik (Syam)

Madrasah Agama di Syam didirikan oleh Mu’az bin Jabal, ‘Ubadah dan Abud-Dardak. Ketiganya mengajar al-Qur’an dan ilmu agama di negeri Syam pada tiga tempat, yaitu Abud-Dardak di Damsyik, Mu’az bin Jabal di Palestina dan ‘Ubadah di Hims. Selanjutnya mereka di gantikan oleh murid-muridnya, tabi’in, seperti Abu Idris al-Khailany, Makhul Ad-Dimasyki, Umar bin Abdul Aziz dan Rajak bin Haiwah. Madrasah ini melahirkan imam penduduk Syam, yaitu Abdurrahman al-Auza’iy yang ilmunya sederajat dengan imam Malik dan Abu Hanifah. Namun, mazhabnya yang tersebar di Syam sampai ke Maghrib dan Andalusia lenyap karena pengaruh mazhab Syafi’i dan Maliki.

  1. Madrasah Fistat (Mesir)

Ketika Mesir telah menjadi negara Islam, Mesir menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Di Mesir mempunyai madrasah yang didirikan oleh Abdullah bin ‘Amr bin al-‘As. Ulama-ulama yang ada di Mesir yaitu Yazid bin Abu Habib An-Nuby. Ia menyiarkan ilmu fiqhi dan menjelaskan apa saja yang haram dan halal dalam agama Islam. selain itu ada pula Abdullah bin Abu Ja’far bin Rabi’ah. Yazid mempunyai murid bernama Abdullah bin Lahi’ah dan al-Lais bin Said. Abdullah tidak hanya belajar kepada Yazid, tetapi juga kepada tabi’in. Sedangkan al-Lais pernah menuntut ilmu di Mesir, Makkah, Baitul-Maqdis, dan Baghdad. Ia bahkan berhubungan dengan imam Malik dan berkiriman surat.

Pola Pendidikan Islam pada Masa Umayyah

Pola pendidikan yang berkembang pada masa ini sebenarnya sama dengan pendidikan yang berkembang pada masa sekarang. Pendidikan yang ada pada waktu itu terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu, tingkat pertama, tingkat menengah, dan tingkat tinggi.[12] Adapun tempat belajar pada waktu itu terbagi menjadi tiga, yaitu Kuttab, Masjid, dan Majelis Sastra.

Kuttab adalah tingkat pertama untuk belajar menulis, membaca atau menghafal al-Qur’an dan mempelajari pokok-pokok dari agama Islam. Disamping itu murid-murid juga mempelajari tata bahasa Arab, cerita-cerita nabi, hadis dan pokok agama. Peserta yang dididik terdiri dari anak-anak dari lapisan sosial manapun. Bahkan, sebagian anak-anak yang kurang mampu diberi makan dan pakaian dengan cuma-cuma. Anak-anak perempuan pun diberi hak belajar yang sama dengan laki-laki. Setalah lulus, maka murid-murid melanjutkan pendidikan ke Masjid.

Masjid merupakan pusat pendidikan yang terdiri dari tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pendidikan tingkat menengah kembali mendalami al-Qur’an, Tafsir, Hadis, dan Fiqih. Selain itu, murid-murid juga diajarkan kesusasteraan, sajak, gramatika bahasa, ilmu hitung, dan ilmu perbintangan.[13] Masjid dijadikan sebagai pusat aktifitas ilmiah. Pada tingkat menegah gurunya belumlah ulama besar, berbeda halnya dengan tingkat tinggi yang diberi pengajaran oleh ulama yang memiliki ilmu yang mendalam dan termasyhur kealiman dan kesalehannya.[14]

Umumnya pelajaran yang diberikan guru kepada muridnya pada tingkat pertama dan menengah dilakukan satu persatu atau perseorangan. Sedangkan pada tingkat tinggi pelajaran diberikan dalam satu halaqah yang dihadiri oleh para pelajar secara bersama-sama.[15] Selain itu, adapula Majelis Sastra yang merupakan tempat berdiskusi membahas masalah kesusasteraan dan juga sebagai tempat berdiskusi mengenai urusan politik. Perhatian penguasa Umayyah sangat besar pada pencatatan kaidah-kaidah nahwu, pemakaian Bahasa Arab dan mengumpulkan syair-syair Arab dalam bidang Syariah, kitabah dan berkembangnya semi prosa.[16] Bahkan dilakukan pula penterjemahan ilmu-ilmu dari bahasa lain kedalam bahasa Arab.

Berdasarkan uraikan diatas dapat dikatakan bahwa perkembangan pendidikan Islam tidak lepas dari peranan ulama-ulama yang begitu giat mempelajari ilmu. Para ulama mendirikan madrasah-madrasah pada tiap-tiap kota. Kecintaan para ulama terhadap ilmu membuat mereka tergerak mempelajari ilmu tidak hanya pada satu ulama. Sehingga mereka melakukan pengembaraan ke berbagai tempat untuk menambah ilmu agama.

Ulama-ulama yang ada memiliki murid-murid, jadi ketika ulama tersebut wafat murid-muridnya, ulama tabi’in akan melanjutkan perjuangan untuk menuntut ilmu. Begitu seterusnya sampai kepada kita sekarang. Dengan adanya interaksi yang baik antara guru dan murid inilah yang menciptakan suatu keharmonisan dalam proses pembelajaran berbagai ilmu pengetahuan. Pencarian ilmu yang dilakukan oleh pencinta ilmu yang dilakukan dengan mengembara ke berbagai wilayah atau negara lain untuk belajar kepada ulama tertentu juga mengindikasikan adanya percampuran budaya setempat dengan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Abdurrahman, Dudung. Metodologi Penelitian Sejarah Islam . Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2011.

Abdurahman, Dudung. Pengantar Metode Penelitian . Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2013.

Al Abrasi, Athiyya. Tarbiyah Al Islamiyah, terj. Bustami A.Ghani. Jakarta: Bulan Bintang,  1993.

Gottshcalk, Louis. Mengerti Sejarah. terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta:UI Press, 1985.

Khoiriyah. Reorientasi Wawasan Sejarah Islam dari Arab sebelum Islam hingga Dinasti- dinasti Islam. Yogyakarta: Penerbit Teras, 2012.

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press, 1990.

Kuntowijaya. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana, 2013.

Salabi, Ahmad. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1972.

Maryam, dkk. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern . Yogyakarta: Penerbit Lesfi, 2012.

Mardalis. Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam dari zaman Nabi SAW Khalifah-khalifah Rasyidin, Bani Umaiyah dan Abbasiyah sampai zaman Mamluks dan Usmaniyah. Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1990.

[1]Dudung Abdurrahman, Metodologi Penelitian Sejarah Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2011), hlm. 65.

[2]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam dari zaman Nabi SAW Khalifah-khalifah Rasyidin, Bani Umaiyah dan Abbasiyah sampai zaman Mamluks dan Usmaniyah (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1990), hlm.33.

[3]Ibid.

[4]Ibid.

[5]Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam dari Arab sebelum Islam hingga Dinasti-dinasti Islam (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2012), hlm. 69.

[6]Ibid.

[7]Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern (Yogyakarta: Penerbit Lesfi, 2012), hlm.68.

[8]Ibid.68-69.

[9] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah, hlm. 70.

[10] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, hlm.69.

[11] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam. hlm.34-38.

[12]Ibid, hlm. 39.

[13] Athiyya Al Abrasi, Tarbiyah Al Islamiyah, terj. Bustami A.Ghani (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm. 56.

[14]. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam. hlm.39.

[15]Ibid.

[16] Ahmad Salabi, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), hlm. 72.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *