Restorasi Meiji Tahun 1868-1912

Restorasi Meiji merupakan revolusi politik pada tahun 1868 yang mengakhiri kekuasaan Keshogunan (pemerintahan militer) Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan negara kepada pemerintahan kekaisaran di bawah Mutsuhito (Kaisar Meiji)

Restorasi yang dimulai pada tahun 1868 ini menandai titik balik sejarah Jepang pada abad modern. Banyak sejarawan membandingkan peristiwa tersebut dengan Revolusi Prancis 1789 dan Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia.

Para pemimpin Restorasi melakukan serangkaian langkah cepat untuk membangun kekuatan nasional di bawah institusi kapitalis dan dengan cepat mendorong Jepang menuju kekuatan regional dan dunia.

Pada perkembangannya Restorasi Meiji tahun 1868 kemudian diidentifikasi sebagai era perubahan besar bagi politik, ekonomi, dan sosial Jepang. Periode Meiji membawa modernisasi dan westernisasi di negara ini.

Latar Belakang Restorasi Meiji

Sejak tahun 1603 Jepang berada dalam kekuasaan Keshogunan Tokugawa. Shogun memegang kekuasaan tertinggi negara, yang wewenangnya diberikan oleh kerajaan. Sementara kerajaan hanya memegang otoritas simbolis seperti kepausan di Eropa.

Pada era ini kondisi Jepang sangat mengenaskan. Pemerintahan feodal dan tangan besi keshogunan membawa Jepang ke dalam masa kegelapan selama berabad-abad.

Hampir sama dengan negara-negara Asia lain, ekonomi jepang saat itu masih sangat bergantung pada pertanian dan hanya memiliki sedikit sekali industri. Sektor ekonomi negara ini pun tertutup dengan perdagangan internasional dari 1636-1853 (hanya Belanda dan Cina yang diperbolehkan berdagang).

Selain itu teknologi militer Jepang masih sangat terbelakang jika dibandingkan dengan teknologi Barat, sehingga sangat rentan mengalami kolonialisasi.

Orang Jepang tahu bahwa mereka tertinggal jauh dari negara Barat ketika seorang komodor Amerika Matthew C. Perry datang ke Jepang menggunakan kapal perang besar dengan persenjataan dan teknologi canggih pada 1853. Tujuan utusan AS itu adalah untuk mencoba membuat sebuah perjanjian agar Jepang membuka perdagangan internasional. Mereka tidak segan memaksa penguasa setempat agar usaha itu berjalan mulus.

Setelah peristiwa itu, tokoh Jepang daimyō Shimazu Nariakira menyimpulkan bahwa “jika kita mengambil inisiatif, kita bisa mendominasi, jika tidak, kita akan didominasi”, yang menyebabkan Jepang “membuka pintunya untuk teknologi asing.” Sejak saat itu Jepang mulai terbuka untuk mengambil pengetahuan teknologi dari Barat.

Akan tetapi kehadiran pengaruh Barat menimbulkan pro-kontra di dalam lingkar penguasa Jepang sendiri.

Beberapa samurai mengungkapkan bahwa mereka menginginkan pengusiran orang asing tesebut. Beberapa yang lain memutuskan bahwa banyak yang bisa mereka pelajari dari orang asing dan mereka berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengusir orang asing setelah mempelajari pengetahuan dari orang asing. Slogan mereka adalah “Etika Timur, Ilmu Pengetahuan Barat.”

Satsuma dan Choshu yang merupakan kelompok oposisi shogun pada dasarnya tidak setuju dengan mempelajari beberapa aspek dari Barat, namun mereka mengharapkan Jepang dapat membentuk kekuatan nasional yang lebih besar dan tidak tunduk pada negara-negara Barat. Mereka juga mengharapkan kehadiran seorang kaisar yang mampu membawa Jepang menjadi kekuatan yang disegani dunia.

Aliansi Satsuma/Choshu dan Perang Boshin 1868

Pada tahun 1866, daimyo dua wilayah Jepang selatan – Hisamitsu dari Satsuma Domain dan Kido Takayoshi dari Choshu Domain – membentuk sebuah persekutuan melawan Keshogunan Tokugawa yang telah memerintah dari Tokyo atas nama Kaisar sejak 1603.

Pemimpin Satsuma dan Choshu berusaha untuk menggulingkan shogun Tokugawa dan menempatkan Kaisar Komei ke puncak kekuasaan. Melalui kaisar, mereka merasa bisa lebih efektif menghadapi ancaman asing. Namun, Komei meninggal pada bulan Januari 1867 dan anaknya Mutsuhito yang masih berusia 14 tahun naik ke takhta sebagai Kaisar Meiji pada tanggal 3 Februari 1867.

Pada tanggal 19 November 1867, Tokugawa Yoshinobu mengundurkan diri dari jabatannya sebagai shogun Tokugawa kelima belas. Pengunduran dirinya secara resmi mengalihkan kekuasaan kepada kaisar muda tersebut, namun shogun tersebut tidak melepaskan kendali sebenarnya dari Jepang dengan mudah.

Ketika Meiji (dilatih oleh penguasa Satsuma dan Choshu) mengeluarkan sebuah dekrit kekaisaran yang membubarkan rumah Tokugawa, shogun tidak punya pilihan kecuali menggunakan senjata untuk melawan kaisar. Ia mengirimkan tentara samurai ke kota kekaisaran Kyoto, berniat untuk menangkap dan menggulingkan kaisar

Pada tanggal 27 Januari 1868, pasukan Yoshinobu bentrok dengan samurai dari aliansi Satsuma / Choshu. Pertempuran Toba-Fushimi berlangsung empat hari berakhir dengan kekalahan serius untuk kubu Tokugawa sekaligus menandai dimulainya Perang Boshin.

Perang berlangsung sampai bulan Mei 1869, namun pasukan kaisar dengan persenjataan dan taktik mereka yang lebih modern berada di atas angin sejak awal peperangan.

restorasi meiji
Kaisar Meiji yang masih remaja pasca Perang Boshin

Tokugawa Yoshinobu menyerahkan diri kepada Saigo Takamori dari Satsuma dan menyerahkan Istana Edo pada tanggal 11 April 1869. Beberapa samurai dan daimyo yang lebih berkomitmen bertempur selama satu bulan lagi di benteng-benteng di ujung utara negara tersebut, kendati demikian Restorasi Meiji sudah tidak dapat terbendung.

Dimulainya Restorasi Meiji

restorasi Meiji
Kaisar Meiji

Begitu kekuasaannya aman, Kaisar Meiji (atau tepatnya atas saran penasihatnya , para mantan daimyo dan oligarki) mulai mengubah Jepang menjadi negara modern yang kuat.

Tujuan awal pemerintahan baru diungkapkan dalam Piagam Sumpah (April 1868):

  1. Pembentukan dewan secara luas di berbagai daerah, semua persoalan penting dimusyawarahkan bersama
  2. Semua kalangan, atas dan bawah, harus bersatu dalam menjalankan urusan negara.
  3. Rakyat biasa, begitu pula pejabat pusat dan militer, harus diperbolehkan untuk melakukan hal-hal yang diinginkan sehingga mereka tidak bosan.
  4. Kebijakan lama yang buruk ditinggalkan dan semuanya dibiarkan berdasarkan hukum alam.
  5. Pengetahuan harus dicari hingga ke seluruh dunia demi memperkuat fondasi kekuasaan kekaisaran

Tindakan pertama, yang diambil pemerintahan baru pada tahun 1868 adalah memindahkan ibukota kekaisaran dari Kyōto ke ibukota Keshogunan Edo yang dinamai Tokyo (“ibukota timur”).

Reorganisasi administrasi sebagian besar diselesaikan pada tahun 1871, ketika wilayah-wilayah feodal secara resmi dihapuskan dan diganti oleh sistem prefektur yang masih bertahan sampai sekarang. Semua hak istimewa kelas feodal pun juga turut dihapuskan.

Pada tahun 1871 sebuah tentara nasional dibentuk, yang kemudian diperkuat dua tahun kemudian oleh undang-undang wajib militer universal.

 Dalam usahanya memodernisasi militer dan angkatan laut, Meiji berkiblat ke Eropa barat. Delegasi pun dikirim untuk mempelajari angkatan bersenjata Eropa. Pada awalnya mereka tertarik menggunakan persenjataan Prancis, namun kemudian beralih ke Inggris  karena dianggap lebih canggih.

Pemerintah Meiji kemudian pergi ke Inggris untuk membeli kapal perang mereka. Sebagian besar kapal perang Kekaisaran Jepang pada periode awal ini berasal dari galangan kapal Inggris.

Di bidang ekonomi, pemerintah baru melaksanakan kebijakan untuk menyatukan sistem moneter dan pajak. Dengan reformasi pajak pertanian tahun 1873 menjadikan pertanian sebagai sumber pendapatan utama negara.

Untuk menciptakan negara modern, Meiji dan para penasihatnya menyadari bahwa sistem pendidikan yang komprehensif sangat penting. Pada tahun 1871 sebuah kementerian pendidikan diciptakan untuk melaksanakan reformasi pendidikan.

Satu tahun kemudian pemerintah mengenalkan sistem pendidikan universal di negara ini, yang pada awalnya mencontoh pada pembelajaran Barat. Baik pria ataupun perempuan Jepang diberikan hak untuk memperoleh pendidikan.

Perubahan revolusioner yang dilakukan oleh pemimpin restorasi, yang bertindak atas nama kaisar, menghadapi tantangan pada pertengahan tahun 1870-an. Samurai yang tidak puas berpartisipasi dalam beberapa pemberontakan melawan pemerintah, pemberontakan yang paling terkenal dipimpin oleh mantan pahlawan pemulihan Saigō Takamori dari Satsuma.

Petani, yang tidak percaya pada rezim baru dan tidak puas dengan kebijakan agraria, juga mengambil bagian dalam pemberontakan yang mencapai puncaknya pada tahun 1880an.

Pemberontakan-pemberontakan tersebut harus dipadamkan dengan susah payah oleh tentara yang baru terbentuk.

Pada periode yang sama, sebuah gerakan populer yang didorong oleh pengenalan gagasan Barat yang liberal muncul. Para pendukung gerakan itu menyerukan pembentukan pemerintah konstitusional dan partisipasi yang lebih luas melalui majelis deliberatif. Menanggapi tekanan tersebut, pemerintah mengeluarkan sebuah pernyataan pada tahun 1881 yang menjanjikan sebuah undang-undang pada tahun 1890.

Pada tahun 1885 sebuah sistem kabinet dibentuk dan pekerjaan untuk membentuk sebuah konstitusi pun dimulai pada tahun 1886.

Akhirnya Konstitusi Meiji yang dipresentasikan sebagai hadiah dari kaisar kepada rakyat secara resmi diundangkan pada tahun 1889. Kontistitusi tersebut membentuk sebuah parlemen bikameral, yang disebut (Teikoku Gikai). Teikoku Gikai dipilih melalui sebuah voting terbatas. Pemilihan pertama diadakan pada tahun berikutnya, 1890.

Dampak Restorasi Meiji

Perubahan ekonomi dan sosial sejalan dengan transformasi politik periode Meiji. Meski ekonomi masih bergantung pada pertanian, industrialisasi merupakan tujuan utama pemerintah yang mengarahkan pengembangan industri strategis, transportasi, dan komunikasi.

Jalur Kereta api pertama dibangun pada tahun 1872 dan pada tahun 1890 negara ini telah memiliki rel kereta api sepanjang 1.400 mil (2.250 km).

Jaringan telegraf pun dibangun untuk  menghubungkan semua kota besar pada tahun 1880.

Perusahaan swasta juga didorong oleh dukungan keuangan pemerintah dan dibantu oleh institusi sistem perbankan bergaya Eropa pada tahun 1882.

Seluruh upaya modernisasi tersebut memerlukan sains dan teknologi Barat. Akibatnya westernisasi pun dipromosikan secara luas.

Meskipun demikian westerniasasi masif ini mulai diperketat pada tahun 1880-an, ketika apresiasi baru nilai tradisional Jepang muncul. Dampaknya, meskipun  perkembangan sistem pendidikan modern dipengaruhi oleh teori dan praktik Barat, tetapi tetap menekankan nilai tradisional kesetiaan samurai dan harmoni sosial.

Sila tersebut dikodifikasikan pada tahun 1890 dengan berlakunya Rescriptor Besar untuk Pendidikan (Kyōiku Chokugo). Kecenderungan yang sama berlaku dalam seni dan sastra, di mana gaya Barat pertama kali ditiru.

Pada awal abad ke 20, tujuan Restorasi Meiji telah banyak dtercapai. Jepang pada saat itu bergerak cepat untuk menjadi negara industri modern.

Perjanjian tidak adil  yang telah memberi hak huukum dan ekonomi istimewa bagi  asing melalui ekstrateritorialisasi direvisi pada tahun 1894.

Pada tahun 1902 Jepang dan Inggris membentuk aliansi (Anglo-Japanese Alliance) untuk melawan ancaman yang diajukan oleh Rusia terhadap Inggris India dan Timur Jauh, terutama kepentingan Jepang di Korea.

Nama Jepang semakin diperhitungkan dunia setelah meraih kemenangan dalam dua perang (di China pada tahun 1894-95 dan Rusia pada tahun 1904-05).

Baca juga: Perang Rusia-Jepang

Kematian kaisar Meiji pada tahun 1912 menandai akhir periode restorasi. Walaupun demikian beberapa pemimpin penting Meiji dibawa sebagai negarawan tua (genro) di rezim baru (1912-26) dari kaisar Taishō dan terus berusaha menjadikan Jepang sebagai negara besar pesaing negara-negara Barat.

BIBLIOGRAFI

Andressen, Curtis. 2002. A Short History of Japan from Samurai to Sony. New South Wales: Allen & Unwin.

Agung, Leo S. 2006. Sejarah Asia Timur 2. Surakarta: UNS Press.

Beasley. W. 1972. The Meiji Restoration. Stanford: Stanford University Press.

Huffman, James. L. 2010. Japan in World History. Oxford: Oxford University Press.

Jansen. Marius. B (ed.). 1989. The Cambridge History of Japan: Volume 5. Cambridge: Cambridge University Press.

Sims, Richard. 2001. Japanese Political History since the Meiji Renovation 1868-2000. New York: Palgrave.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *