Simbol Kelas Menengah: Kemunculan Mal di Indonesia

Pada masa Orde Baru, pertumbuhan ekonomi tak hanya menciptakan kelas menengah, tapi juga memunculkan simbol-simbol yang menegaskan posisi mereka. Salah satu simbol yang menonjol adalah mal.

Sejak awal kehadirannya, mal menjadi tempat favorit bagi kelompok kelas menengah. Kunjungan mereka ke mal tak hanya sekadar belanja, tapi juga sebagai pernyataan bahwa mereka pantas berada di kelas sosial tersebut.

Lahirnya Kelas Menengah Baru

Dawam Raharjo dalam bukunya “Perekonomian Indonesia: Pertumbuhan dan Krisis” mengungkap bahwa kemunculan kelas menengah di Indonesia terkait erat dengan peluang ekonomi yang muncul setelah kemerdekaan. Ia menegaskan bahwa sebelum masa kemerdekaan, konsep pembangunan ekonomi hampir tidak ada.

Pada masa Orde Lama, pertumbuhan ekonomi Indonesia hampir tidak mencapai tingkat yang signifikan karena suasana pasca-kemerdekaan yang tidak mendukung untuk pembangunan. Fokus utama pada saat itu cenderung lebih terarah pada politik untuk memperkuat konsolidasi kemerdekaan.

Namun, dinamika berubah saat memasuki era Orde Baru. Transisi rezim tidak hanya mencakup pergantian pemerintahan, tetapi juga mengindikasikan perubahan besar dalam kebijakan ekonomi.

Pada periode ini, pembangunan ekonomi menjadi landasan utama. Soeharto mengarahkan pembangunan ekonomi dengan prinsip Trilogi Pembangunan, yaitu menjaga stabilitas, meningkatkan pertumbuhan, dan memperhatikan pemerataan.

mal bermunculan di era Soeharto
Soeharto

Tahun 1980-an dianggap sebagai titik balik penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia, karena menghasilkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi. Indonesia mengadopsi paradigma ekonomi baru yang melibatkan deregulasi dan liberalisasi pasar, membuka diri lebih luas pada skala global.

Kebijakan deregulasi ini, dengan segala konsekuensinya, menandai perubahan dalam orientasi Indonesia terhadap globalisasi. Adaptasi ekonomi Indonesia terhadap dinamika global menciptakan pergeseran dalam pertumbuhan yang sebelumnya dipengaruhi oleh perdagangan, membuka akses yang lebih besar terhadap budaya konsumerisme global.

Langkah-langkah liberalisasi dan deregulasi ini memiliki dampak besar pada sektor keuangan, perbankan, dan produksi. Mereka merangsang perubahan struktural dalam lapangan kerja, menghasilkan berbagai kesempatan pekerjaan di kelas menengah. Pertumbuhan lapangan pekerjaan ini menjadi pendorong utama munculnya kelas menengah baru di Indonesia, yang sejalan dengan tujuan pembangunan ekonomi.

Baca juga: Menggali Akar Polusi di Indonesia

Kelas menengah sering didefinisikan berdasarkan pendapatan atau kekayaan pribadi, tetapi kategorisasi semacam itu tidak selalu mempertimbangkan budaya konsumerisme yang membentuk kelas menengah sebagai identitas sosial-budaya. Proses bagaimana kelas menengah terbentuk dan dipertahankan menjadi kunci dalam membentuk entitas ini.

Mall Culture adalah contoh bagus untuk melihat bagaimana kelas menengah terbentuk dan dipertahankan melalui budaya konsumsi. Hal ini memperlihatkan peran kuat budaya dalam membentuk identitas kelas menengah melalui pola konsumsi yang diakui secara sosial.

Posisi Mal di Indonesia

Sejarah Indonesia mencatat munculnya pusat perbelanjaan dan budaya mal sebagai indikator kemajuan dan simbol kekayaan perkotaan.

Mal Sarinah memperoleh predikat sebagai pusat perbelanjaan dan gedung pencakar langit pertama di Indonesia. Bangunan 15 lantai ini memiliki tinggi 74 meter. Nama Sarinah sendiri disematkan Bung Karno sebagai penghormatan kepada sosok pengasuhnya sewaktu kecil.

Sarinah, mal pertama di Indonesia
Potret Sarinah zaman dahulu. Sumber: Kompas

Pembangunan mal dimulai pada 1962 dan secara resmi dibuka pada 1966.  Pembangunan mal ini ditangani oleh Obayashi Corporation, salah satu dari lima perusahaan konstruksi besar di Jepang. Yang menarik, sumber dana yang digunakan adalah kompensasi perang dari pemerintah Jepang.

Sebagai mal pertama, Sarinah dilengkapi berbagai fasilitas paling mutakhir pada masanya seperti eskalator, mesin kasir elektronik, dan gedung ber-AC.

Pameran batik di Sarinah 1
Pameran batik di Sarinah. Khastara.

Gajah Mada Plaza, salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta pada tahun 1980-an dan 1990-an, merupakan mal tertua kedua setelah Mal Sarinah. Diikuti oleh Tunjungan Plaza, atau sering disebut TP oleh penduduk Surabaya, yang telah berdiri sejak tahun 1986.

TP terus berkembang dengan cabang-cabang baru, termasuk Tunjungan Plaza V yang dibuka pada tahun 2015. Menjadi salah satu bangunan tertinggi di Surabaya dengan 52 lantai, TP V menjadi salah satu landmark yang menonjol di kota tersebut.

TP tahun 1988
Tunjungan Plaza sekitar tahun 1988. Sumber: Setiap Gedung

Meski mal sering kali diasosiasikan dengan simbol kemapanan ekonomi, penting untuk memandangnya tidak hanya sebagai entitas ekonomi semata, tapi juga sebagai bagian dari praktik budaya kelas. Keduanya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Mal, pada dasarnya, adalah pusat perbelanjaan yang mendukung gaya hidup modern. Namun, jauh dari sekadar tempat berbelanja, mal sejak awal didesain untuk menjadi ruang publik yang memfasilitasi aktivitas sosial yang terkait dengan status sosial.

Bagi warga perkotaan, kunjungan ke mal tak selalu sebatas belanja keperluan. Khususnya bagi kaum muda, mal menjadi tempat “nongkrong”, menunjukkan gaya hidup tertentu, mengikuti tren mode, dan bertemu dengan individu sekelas mereka di ruang publik.

Baca juga: Puskesmas dan Akses Pelayanan Kesehatan pada Masa Orde Baru

Di dalam mal, mereka menjelajahi berbagai area tanpa niat untuk berbelanja, hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tujuan utama mereka bukanlah berbelanja, melainkan menggunakan mal sebagai platform untuk mengekspresikan minat dan identitas mereka serta berbagi dengan orang lain.

Dari pengalaman ini, mal berperan sebagai ruang publik yang memfasilitasi konsumsi dan pertunjukan komoditas modern, yang memengaruhi norma pakaian dan bagaimana individu ingin diterima dalam lingkungan sosial mereka.

Referensi

Ansori, M. (2009). Consumerism and the emergence of a new middle class in globalizing Indonesia.

Dick, H. W. (1990). Further reflections on the middle class. The politics of middle class Indonesia19, 63-70.

Geertz, C. (1963). Peddlers and princes: Social change and economic modernization in two Indonesian towns. University of Chicago Press.

Rahardjo, M.D. (1987). Perokonomian Indonesia: Pertmbuhan dan Krisis. Jakarta: LP3ES

Shiraishi, T.  (2004). The rise of new urban middle classes in Southeast Asia: What is its national and regional significance?. RIETI Discuss. Pap. Ser4(11), 1-38.

Soemakno, S. F. S. (2020). Ke PIM Yuk!: Mall Culture, Coloniality and Classification in Pondok Indah Mall.

Ziv, D. (2002). Jakarta inside out. Jakarta: Equinox Publishing.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *