Kisah di Balik Penemuan Obat Bius

Dahulu kala operasi dipandang sebagai hal yang menakutkan. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh operasi sering kali membuat pasien memilih mati dibanding melakukan operasi. Meskipun sejak abad kuno manusia telah berusaha menemukan obat bius atau pereda rasa sakit, hingga saat ini tidak ada obat bius yang dapat dibilang sempurna.

Obat Bius dalam Lintas Sejarah

Selama berabad-abad telah muncul berbagai upaya untuk meredakan rasa sakit saat operasi. Memukul pasien di bagian kepala atau leher hingga mengompres tubuh pasien menggunakan es atau salju merupakan beberapa upaya paling awal untuk meredakan rasa sakit.

obat bius
Ilustrasi operasi pada abad ke-19

Namun, bila berbicara soal obat bius, jejak-jejaknya dapat dilacak hingga pada masa kuno. Ribuan tahun yang lalu, alkohol telah digunakan oleh orang-orang Mesopotamia Kuno sebagai obat penenang.

Di tempat lain, orang-orang Sumeria menggunakan opium (papaver somniferum), sedangkan orang-orang Mesir Kuno memakai ekstrak buah mandrake (dudaim) sebagai penenang.

Dalam catatan Cina, seorang ahli bedah Cina bernama Bian Que (407-310SM), dilaporkan menggunakan anestesi umum untuk prosedur pembedahan. Ia membius dua pasiennya hingga tidak sadarkan diri selama tiga hari, selama itu dia melakukan gastronomi pada mereka.

Setelah Bian Que tiada muncul Hua Tuo (145–220), seorang ahli bedah Tiongkok pada abad ke-2 Masehi. Berbeda dari pendahulunya, Hua Tuo melakukan operasi dengan bius total menggunakan formula campuran anggur dan ekstrak herbal. Obat bius ini disebut mafeisan. Dia dilaporkan menggunakan mafeisan untuk melakukan operasi besar seperti reseksi usus gangren.

Sayangnya, setelah kematian Hua Tuo ilmu pembedahan Tionghoa Kuno tidak banyak berkembang. Ajaran Konfusius yang menganggap tubuh itu suci dan pembedahan sebagai bentuk mutilasi tubuh menyebabkan pembedahan menjadi hal yang tabu dan dihindari.

Perkembangan obat bius terbilang lambat. Bahkan pada masa keemasan Islam yang dikenal dengan berbagai penemuan dan perkembangan ilmu medisnya, tidak banyak catatan soal anestesi.

Karya Ibnu Sina berjudul al-Qānūn fī al-Tibb menjadi segelintir yang membahasnya. Di dalam ensiklopedia itu dijelaskan soal penggunan “spons penidur.”  Spons itu mengandung aromatik dan narkotika yang ditempatkan di bawah hidung pasien selama operasi.

Selepas itu tidak banyak perkembangan berarti terkait anestesi. Namun beberapa penemuan penting yang menjadi benih bagi perkembangan obat bius pada masa modern muncul.

Paracelsus (1493-1541) menemukan kandungan analgesik pada dietil eter pada 1525. Sementara itu, Joseph Priestley (1733–1804) berhasil menemukan nitro oksida, oksida nitrat, amonia, hidrogen klorida dan oksigen.

Meskipun, kedua penemuan itu memainkan peran penting bagi perkembangan obat bius abad modern, tetapi hingga pertengahan 1800-an, ahli bedah pada umumnya hanya memberikan pasien operasi, opium dan alkohol untuk meringankan rasa sakit.

Abad Modern

Sebuah gebrakan baru muncul pada abad akhir abad ke-18, tatkala Sir Humphrey Davy menulis tentang potensi nitro oksida atau yang disebutnya “gas tertawa” sebagai pereda nyeri. Namun, Davy bukanlah seorang dokter, sehingga dia tidak pernah mengaplikasikan nitro oksida untuk operasi.

Penemuan ini baru diaplikasikan pertama kali oleh seorang dokter gigi bernama Horace Wells. Pada Januari 1845, dia dibantu rekannya sesama dokter gigi, William Morton, menyelenggarakan demonstrasi penggunaan nitro oksida untuk pencabutan gigi.

obat bius
Horace Wells. Sumber The Discovery of Modern Anæsthesia

Akan tetapi, demonstrasi di Massachusetts General Hospital itu tidak berhasil karena dianggap gagal meredakan rasa sakit yang ditimbulkan saat pencabutan gigi. Kegagalan tersebut berujung pada pembubaran kemitraan antara Wells dan Morton. Pasca peristiwa itu, Wells menderita depresi berat dan kecanduan kloroform hingga akhirnya memutuskan bunuh diri pada 24 Januari 1848.

Sementara itu, Morton melanjutkan pencariannya untuk menemukan obat bius yang efektif.  Dia teringat pada tahun 1844, dirinya pernah menghadiri kuliah professor kimia Charles Jackson di Harvard Medical School yang mengulas potensi sulfuric ether sebagai obat bius.

Sambil mengingat materi kuliah tersebut, pada musim panas 1846, Morton membeli botol-botol berisi bahan-bahan dietil eter dari toko kimia setempat dan mulai mengujicobanya pada sekumpulan hewan peliharaan. Setelah puas dengan keampuhan dan keamanannya, dia mulai menggunakan sulfuric ether atau yang disebutnya letheon pada pasien giginya.

obat bius
Demonstrasi penggunaan sulfuric ether untuk pembiusan. Sumber: Common Wikimedia.

Keberhasilannya ini membuat pasiennya membludak. Namun, Morton tidak puas dengan kesuksesan finansialnya karena ia menyadari letheon bisa diaplikasikan dalam banyak tindakan medis selain mencabut gigi.

Morton menjadi orang pertama yang secara langsung mendemonstrasikan penggunaan dietil eter sebagai anestesi umum di Rumah Sakit Umum Massachusetts pada 16 Oktober 1846. Dalam demonstrasi tersebut, John Collins Warren sukses mengangkat tumor dari leher, Edward Gilbert Abbott.

Berita peristiwa ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Tidak lama berselang Oliver Wendell Holmes mengusulkan pada Morton istilah “anestesi” untuk menjelaskan kondisi pasien pasca mendapat obat bius.

Namun, ambisi Morton untuk mendapat hak paten eksklusif letheon membuatnya dicap sebagai sosok kontroversial dan serakah. Para dokter menyarankan dirinya untuk mengurungkan niatnya itu dan mengedepankan kepentingan bersama. Akan tetapi, Morton menolak semua saran semacam itu karena dianggap merugikannya.

Selain itu, Morton juga dituduh mencuri ide orang lain. Oleh sebab itu, Horace Wells sebelum meninggal turut menuntut bagiannya. Begitu pula Crawford W. Long, seorang praktisi Georgia yang mengaku telah menggunakan nitro oksida dan eter sejak tahun 1842 tetapi terlalu sibuk untuk mempublikasikan temuannya. Sementara Charles Jackson, menuduh mantan muridnya itu mencuri idenya.

Meskipun dilingkupi kontroversi, jasa Morton dalam pengembangan obat bius tidak dapat dinafikan. Dialah yang pertama kali mengembangkan alat baru untuk menyalurkan eter agar dapat dihirup pasien selama operasi. Alat itu dibaut dari botol kaca dan corong kayu yang dapat dibuka atau ditutup mengikuti kondisi kesadaran pasien.

Peran alat ini sangatlah krusial dan membedakannya dari peneliti lain, termasuk Wells dan Long, yang kesulitan memastikan reversibilitas cepat dalam kondisi anestesi, sehingga pasien sering overdosis.

Sayangnya, tidak semua menyadari hal ini. Selama sisa hidupnya, Morton berusaha melawan cemoohan yang diarahkan pada dirinya. Namun, reputasinya telah hancur, dia akhirnya meninggal dalam keadaan bangkrut dan kecewa pada tahun 1868. Kontribusi besarnya terhadap pengembangan obat bius baru diapresiasi khalayak bertahun-tahun setelah kematiannya.

Selain dietil eter, penggunaan obat bius berbahan kloroform mulai diujicobakan oleh dr. James Simpson, dokter kandungan berkebangsaan Skotlandia. Pada 1847, dia mulai menggunakan kloroform untuk persalinan.

Dua tahun berselang, penggunaan kloroform sebagai obat bius harus dibayar mahal karena menyebabkan Hannah Greener meninggal. Gadis berusia 15 tahun itu sebetulnya hanya membutuhkan operasi untuk kuku jari yang tumbuh ke dalam, tetapi banyak ahli percaya penggunaan kloroform memicu aritmia (gangguan irama jantung).

Kematian Greener mendorong para dokter dan ilmuwan mencari alternatif anastesi umum. Oleh sebab itu, memasuki abad ke-20 para ilmuwan disibukkan dalam pencarian anastesi lokal.

Daftar Pustaka

Booth, M. Opium: A History. London: Simon & Schuster, Ltd, 1996.

Fenster, JM. Ether Day: The Strange Tale of America’s Greatest Medical Discovery and the Haunted Men Who Made It. New York: HarperCollins, 2001.

Gordon, BL. Medicine throughout Antiquity. Philadelphia: F.A. Davis Company, 1949.

Gravenstein, J. S. “Paracelsus and His Contributions to Anesthesia.” Anesthesiology 26, 1965. doi: https://doi.org/10.1097/00000542-196511000-00016.

Morton, WTG. Remarks on the Proper Mode of Administering Sulphuric Ether by Inhalation. Boston: Button and Wentworth, 1847.

Powell, MA. “Wine and the vine in ancient Mesopotamia: the cuneiform evidence”. Dalam McGovern PE, Fleming SJ, Katz SH (eds). The Origins and Ancient History of Wine. Amsterdam: Taylor & Francis, 2004.

Priestley, J. Experiments and Observations on Different Kinds of Air. London: J. Johnson, 1775.

Small, MR. Oliver Wendell Holmes. New York: Twayne Publishers, 1962.

Sullivan, R. “The identity and Work of the Ancient Egyptian Surgeon.” Journal of the Royal Society of Medicine. 89, 1996. doi:10.1177/014107689608900813.

Wells, H. A History of the Discovery of the Application of Nitrous Oxide Gas, Ether, and Other Vapors to Surgical Operations. Hartford: J. Gaylord Wells, 1847.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *