Melacak Kembali Sejarah Bahasa Isyarat

Selama ribuan tahun penyandang tunarungu dikucilkan dari masyarakat karena ketidakmampuan berbahasa. Sebagai reaksi atas realitas ini, penyandang tunarungu mulai membuat bahasa visual yang memungkinkan mereka berkomunikasi menggunakan gerakan tangan dan mulut. Bahasa visual ini kemudian dikenal sebagai bahasa isyarat.

Mengapa bahasa isyarat muncul?

Mulai dari abad kuno-modern, diskriminasi selalu menghantui kehidupan penyandang tunarungu. Mereka diisolasi dari masyarakat karena keterbatasan kemampuan berbahasa. Perlakuan ini muncul karena adanya anggapan jika bahasa hanya dapat dipelajari dengan mendengar kata yang diucapkan. 

Di Eropa, Aristoteles dan filsuf terkemuka lainnya percaya bahwa ketulian terkait erat dengan mutisme dan kurangnya kecerdasan. Pandangan ini lalu dikodifikasikan dalam hukum Romawi yang  menilai penyandang tunarungu tidak mungkin diajari membaca atau menulis.

Sementara itu, St Agustinus (354-430) mengaitkan ketulian dengan keimanan. Ia meyakini ketulian merupakan penghalang iman karena iman timbul dari pendengaran. Selain itu, ia juga berpendapat ketulian timbul dari dosa orang tua sang anak.

Namun, penyandang tunarungu tidak menerima perlakuan ini begitu saja dan berusaha untuk menciptakan beragam bahasa isyarat untuk berkomunikasi. 

Salah satu catatan paling awal tentang bahasa ini berasal dari abad ke-5 SM. Dalam Plato’s Cratylus, Socrates pernah berkata: “Jika kita tidak punya suara atau lidah, dan ingin mengekspresikan sesuatu kepada satu sama lain, bukankah kita bisa mencoba membuat isyarat dengan menggerakkan tangan, kepala, dan bagian tubuh kita yang lain, seperti yang dilakukan oleh orang bisu?”

Pada Abad Pertengahan, bahasa isyarat monastik digunakan oleh beberapa ordo religius di Eropa setidaknya sejak abad ke-10. Namun, ini bukanlah “bahasa isyarat” yang sebenarnya, melainkan sistem komunikasi isyarat yang berkembang dengan baik.

bahasa isyarat
Penduduk Indian, Grey Whirlwind, sedang berbicara dengan penulis berkebangsaan Amerika Ernest Thompson menggunakan bahasa isyarat, Juli 1927. Sumber: National Anthropological Archives, Smithsonian Institution.

Suku Indian juga dikenal mahir menggunakan bahasa isyarat. Malahan bahasa isyarat yang mereka kembangkan digunakan dalam kegiatan sehari-hari, baik untuk komunikasi perdagangan dengan orang luar atau komunikasi penyandang tunarungu.

Perkembangan bahasa isyarat

Upaya untuk menentang diskriminasi terhadap penyandang tunarungu mulai menguat pada masa Renaisan. Orang pertama yang berjasa menciptakan bahasa isyarat formal untuk penyandang tunarungu adalah Pedro Ponce de León, seorang biarawan Benediktin Spanyol pada abad ke-16. 

Idenya untuk menggunakan bahasa isyarat bukanlah ide yang sama sekali baru. Para biarawan Benediktin telah menggunakannya untuk menyampaikan pesan selama masa hening harian mereka. 

Terinspirasi oleh pendahulunya, Ponce de León mengadaptasi isyarat yang digunakan di biaranya untuk menciptakan metode komunikasi bagi penyandang tunarungu. Metode komunikasi itu kemudian diajarkan kepada para penyandang tunarungu, sekaligus membuka jalan bagi sistem bahasa isyarat yang sekarang digunakan di seluruh dunia.

Hasil karya Ponce de León lantas dikembangkan oleh pendeta dan ahli bahasa Spanyol lainnya, Juan Pablo Bonet. Pada tahun 1620, ia menerbitkan karya pertama yang membahas pendidikan untuk penyandang tunarungu.

Bonet mengusulkan agar para penyandang tunarungu belajar mengucapkan kata-kata dan secara progresif menyusun frasa-frasa yang bermakna. Pendekatannya menggabungkan oralisme dengan bahasa isyarat.

Langkah pertama dalam proses ini disebut alfabet demonstratif, sebuah sistem manual yang memanfaatkan tangan kanan guna membuat bentuk-bentuk yang mewakili setiap huruf. Setelah itu penyandang tunarungu didorong untuk belajar mengasosiasikan setiap huruf dalam alfabet dengan bunyi fonetik. 

Sistem ini memiliki tantangan tersendiri, terutama saat mempelajari kata-kata untuk istilah-istilah abstrak atau bentuk-bentuk yang tidak berwujud seperti kata penghubung.

Pada tahun 1755, seorang pendeta Katolik Prancis, Charles-Michel de l’Épée, menciptakan sebuah metode yang lebih komprehensif untuk mendidik para tunarungu di  Institution Nationale des Sourds-Muets à Paris, sekolah pertama untuk penyandang tunarungu.

bahasa isyarat
Ilustrasi Charles-Michel de L’Épée mengajarkan bahasa isyarat kepada murid-muridnya. Sumber: NatGeo

Di sekolah ini, Épée mengadaptasi bahasa isyarat yang biasa digunakan para siswanya di rumah untuk menciptakan sebuah kamus isyarat. Ia bersikeras bentuk bahasa ini harus menjadi bahasa yang komprehensif, memiliki sistem yang cukup kompleks untuk  mengekspresikan preposisi, konjungsi, dan elemen tata bahasa lainnya. 

Bahasa isyarat Épée yang telah dibakukan dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika Serikat. Berkat karyanya ini Épée dikenal sebagai bapak penyandang tunarungu.

Pada tahun 1814, Thomas Hopkins Gallaudet, seorang pendeta dari Connecticut datang ke Prancis untuk belajar di bawah bimbingan penerus Épée, Abbé Sicard. 

Tiga tahun kemudian, Gallaudet mendirikan Sekolah Tuna Rungu Amerika di kampung halamannya di Hartford, Connecticut. Layaknya di sekolah Épée, para siswa yang datang dari seluruh Amerika Serikat membawa isyarat-isyarat yang biasa mereka gunakan untuk berkomunikasi di rumah. Bahasa sehari-hari itu kemudian dikombinasikan dengan bahasa isyarat Prancis hingga akhirnya melahirkan bahasa isyarat Amerika.

Daftar pustaka

Bauman, Dirksen. Open your eyes: Deaf studies talking. University of Minnesota Press, 2008.

Ferreri, Giulio. “The deaf in antiquity”. American Annals of the Deaf. 51 (5): 460–473, 1906. JSTOR 44463121.

Gracer, Bonnie. “What the Rabbis Heard: Deafness in the Mishnah”. Disability Studies Quarterly. 23 (2), 2003. doi:10.18061/dsq.v23i2.423.

Kyle, Jim G., et al. Sign language: The study of deaf people and their language. Cambridge university press, 1988.

Nielsen, Kim. A Disability History of the United States. Boston, Massachusetts: Beacon Press, 2012.

Ruben, Robert J. “Sign language: Its history and contribution to the understanding of the biological nature of language.” Acta otolaryngologica 125.5, 2005: 464-467.

Woll, Bencie. “The history of sign language linguistics.” The Oxford Handbook of the History of Linguistics, 2013: 91-104.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *