Evolusi Pengobatan Sakit Kepala dan Migrain

Sakit kepala dan migrain bukanlah penyakit yang baru. Kondisi medis ini telah dikenal sejak abad kuno dan semenjak saat itu nenek moyang kita mencoba berbagai cara untuk mengobatinya.

Pengobatan Masa Kuno

Sejarah sakit kepala dan ilmu saraf dimulai sejak 7000 SM, ketika tanda-tanda bedah saraf kuno melalui trepanasi banyak ditemukan pada manusia masa neolitik.

Kala itu, trepanasi dilakukan untuk melepaskan setan atau roh jahat dari kepala. Masyarakat kuno Mesopotamia yang hidup sekitar 4000 SM menyalahkan Tiu, roh jahat penyebab sakit kepala.

sakit kepala
Trepanasi menjadi salah satu metode pengobatan sakit kepala paling umum pada abad kuno-pertengahan. Sumber: MedicalNewsToday

Meskipun kontroversial, trepanasi masih terus dilakukan oleh beberapa dokter abad ke-17 untuk mengobati migrain.

Dokumen papirus Ebers, yang berasal dari sekitar 1200 SM, memberikan informasi tentang serangan migrain, neuraligia, dan sakit kepala yang menusuk. Saat mengalami kondisi ini, orang-orang Mesir Kuno mengikatkan patung buaya tanah liat berisi yang berisi campuran herbal ke kepala pasien dengan selembar linen. Di atas linen tersebut, mereka menuliskan nama-nama dewa yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit tersebut.

Bapak kedokteran, Hipokrates, menjadi tokoh pertama yang menggambarkan gejala visual migrain. Ia menjelaskan adanya cahaya menyilaukan yang biasanya muncul di mata sebelah kanan, diikuti oleh nyeri hebat di pelipis yang kemudian menyebar ke seluruh kepala dan leher.

sakit kepala
Hipokrates

Untuk meredakan rasa sakit kepala, Hipokrates mengusulkan penggunaan ekstrak kulit pohon willow (dedalu). Selain itu, Hipokrates juga mencatat hubungan antara sakit kepala dengan berbagai aktivitas, termasuk olahraga dan aktivitas seksual.

Aretaeus (83–138), menjadi tokoh pertama yang membedakan antara migrain dan sakit kepala umum. Ia mengklasifikasikan penyakit ini menjadi dua tahap, yakni akut dan kronis. Untuk sakit kepala umum, ia menggunakan istilah “cephalalgia” karena durasinya yang pendek dan berlangsung beberapa hari. Sedangkan untuk migrain, Aretaeus menamakannya “heterocrania,” yang berarti setengah kepala, yang sesuai dengan gejalanya.

Dokter Romawi, Galen, menggambarkan kondisi sakit kepala sebelah sebagai “hemicrania,” yang berarti setengah tengkorak. Konon, istilah “migrain” berasal dari istilah ini. Selain itu, Galen menghubungkan gejala sakit kepala dengan gangguan pencernaan dan aliran empedu. Menurut pandangannya, rasa sakit kepala dapat berkurang setelah empedu dimuntahkan.

Pandangan Abad Pertengahan

Pada masa keemasan peradaban Islam, para ilmuwan Muslim berperan penting dalam mengembangkan pengetahuan tentang sakit kepala dan migrain. Salah satunya adalah Ibnu Sina (980-1037), yang dalam karyanya, “Al-Qānūn fī al-Thibb,” menjelaskan bahwa lokasi sakit kepala dapat bervariasi, baik di bagian frontal, oksipital, maupun menyeluruh.

Ibnu Sina juga mengidentifikasi bau sebagai salah satu pemicu migrain. Ia mencatat bahwa kondisi pasien migrain dapat memburuk saat mereka melakukan aktivitas seperti makan, minum, terpapar suara bising, atau cahaya terang. Oleh karena itu, ia sering menyarankan pasiennya untuk beristirahat di ruangan gelap hingga gejalanya membaik.

Pada periode yang sama, Abu Bakar Mohamed Ibn Zakariya Râzi (865-925), mengaitkan hubungan antara serangan migrain dan perubahan hormon dalam tubuh. Ia mengamati bahwa sakit kepala sering terjadi selama masa menopause, setelah melahirkan, atau saat menstruasi.

Sementara itu, seorang dokter Andalusia bernama al-Zahrawi (935-1013) memiliki metode yang lebih ekstrim untuk mengatasi sakit kepala, yaitu dengan menempelkan besi panas ke kepala pasien. Jika gejalanya tidak kunjung mereda, ia merekomendasikan melakukan sayatan di pelipis dan mengoleskan bawang putih pada luka tersebut.

Di Eropa, seorang biarawati bernama Abbes Hildegard (1098-1179) meninggalkan catatan mengenai gejala yang dialaminya, yang kemudian didokumentasikan sebagai pengalaman penglihatan ilahi. Namun, dalam penafsiran yang lebih modern, gejalanya tersebut kemungkinan besar muncul akibat migrain.

sakit kepala
Ilustrasi penderita sakit kepala. Sumber: Bustle.com

Pada masa tersebut, penduduk Eropa mengobati sakit kepala dengan mengoleskan larutan cuka dan opium pada kepala. Mereka percaya bahwa cuka dapat membuka pori-pori kulit kepala dan membantu penyerapan opium.

Terapi Listrik

Bersamaan dengan dimulainya Revolusi Industri, muncul terapi lain untuk mengobati sakit kepala. Pada pertengahan abad ke-18, muncul terapi listrik yang melibatkan penggunaan belut listrik.

Awalnya, praktik ini banyak dilakukan oleh para budak di Amerika Selatan. Ketika mereka mengalami sakit kepala, mereka biasanya mencari belut listrik dan memegangnya sambil menempelkan satu tangan di kepala. Metode ini diyakini efektif dalam meredakan sakit kepala dengan cepat.

Seiring dengan penemuan mesin listrik, terapi ini semakin populer di Eropa, salah satu bentuknya menggunakan bak mandi listrik. Beberapa dokter terkenal seperti Elizabeth Garrett Anderson (1863-1917) dan Paul Mobius (1853-1907) mendukung metode ini sebagai cara pengobatan sakit kepala.

Kemajuan Ilmu Kedokteran

Revolusi ilmiah yang dimulai pada abad ke-16 membawa kemajuan pesat ilmu kedokteran. Thomas Willis, salah satu pendiri ilmu saraf klinis, menjadi orang pertama yang menyatakan bahwa sakit kepala disebabkan oleh pembesaran pembuluh darah, yang dikenal sebagai vasodilatasi. Faktor-faktor seperti keturunan, perubahan musim, kondisi atmosfer, dan pola makan dapat memicu kondisi ini.

sakit kepala
Ilustrasi penderita migrain. Time.com

Erasmus Darwin, yang juga merupakan kakek dari Charles Darwin, mendukung klaim ini. Pada abad ke-18, ia menggunakan sentrifugal untuk memaksa darah mengalir dari kepala ke kaki pasien yang menderita sakit kepala.

Namun, teori vasodilatasi dibantah Edward Liveing melalui karyanya, On Megrim, Sick-headache, and Some Allied Disorders: A Contribution to the Pathology of Nervestorms, yang terbit pada 1873. Menurutnya, migrain ditimbulkan oleh sistem sarat pusat yang terlalu aktif. Ia juga meyakini kalau migrain dan epilepsi memiliki kemiripan yakni sama-sama disebabkan oleh gangguan sistem saraf pusat.

Teori Liveing pada perkembangannya banyak dianut oleh ahli neurologi penerusnya, salah satunya William Gowers. Pada tahun 1888, Gowers menerbitkan salah satu buku neurologi paling berpengaruh yang berjudul “A Manual of Diseases of the Nervous System.”

Dalam salah satu bab yang menjelaskan pencegahan dan pengobatan migrain, ia menekankan pentingnya diet yang sehat sebagai langkah pencegahan penyakit ini. Ia juga memperkenalkan obat sakit kepala yang dikenal sebagai “Gowers Mixture,” yang terbuat dari larutan nitrogliserin dalam alkohol yang dikombinasikan dengan bahan lain.

Selain mengulas migrain, Gowers juga mengkritisi penggunaan terapi listrik yang banyak digunakan rekan sejawatnya. Ia menganggap bahwa terapi ini tidak efektif dan hanya memberikan rasa lega sementara.

Penemuan Obat Sakit Kepala Modern

Pada penghujung abad ke-19, para dokter mulai melakukan uji coba untuk menemukan obat yang efektif untuk mengatasi kondisi ini, termasuk eksperimen dengan ganja dan kafein.

Namun, obat sakit kepala yang sebenarnya, ergotamine, baru ditemukan pada tahun 1925. Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan kadar serotonin dan mengurangi peradangan yang berkontribusi pada migrain.

Namun, perlu diingat bahwa ergotamine memiliki efek samping yang signifikan, seperti menyempitkan pembuluh darah, sehingga tidak cocok untuk penderita hipertensi. Selain itu, penggunaan berlebihan ergotamine dapat menyebabkan ketergantungan.

Meskipun memiliki efek samping yang berpotensi berbahaya, ergotamine tetap menjadi obat yang populer di pasaran karena harganya yang terjangkau dan efektivitasnya yang tetap terasa meskipun digunakan secara rutin.

Pada tahun 1966, seorang dokter bernama Robert Rabkin melakukan penelitian tentang efek beta-blocker pada obat nyeri jantung, propranolol. Dalam penelitian tersebut, Rabkin menemukan bahwa salah satu pasiennya mengalami penurunan frekuensi serangan migrain setelah mengonsumsi obat ini.

Beta-blocker bekerja dengan cara memperlambat denyut jantung, merelaksasi pembuluh darah, dan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Meskipun para ilmuwan belum sepenuhnya memahami mengapa efek ini membantu mengobati migrain, penemuan ini menjadi titik awal dalam penggunaan beta-blocker sebagai terapi profilaksis untuk migrain.

Satu dekade kemudian, dua dokter lainnya mempresentasikan penggunaan propranolol secara rutin untuk mencegah serangan migrain kepada Food and Drug Administration (FDA). Hasilnya, FDA menyetujui penggunaan propranolol sebagai obat pertama yang dirancang khusus untuk mencegah serangan migrain.

Saat ini, propranolol, bersama dengan timolol dan metoprolol, termasuk dalam golongan beta-blocker yang paling sering diresepkan oleh dokter di seluruh dunia untuk pencegahan migrain.

Menjelang pergantian milenium, dunia melihat kemunculan obat migrain yang lebih efektif dan dianggap sebagai revolusi dalam pengobatan kondisi ini. Triptan, kelompok obat migrain yang pertama, menjadi terobosan signifikan dalam pengobatan migrain.

Triptan pertama, yang dikenal dengan nama sumatriptan, mulai tersedia di Eropa pada tahun 1991. Obat ini telah membawa perbedaan besar dalam pengobatan migrain dibandingkan dengan obat sakit kepala lain yang ada sebelumnya. Pada tahun 2008, American Headache Society bahkan menilai triptan sebagai salah satu kemajuan terpenting dalam pengobatan sakit kepala selama setengah abad terakhir.

Baca juga: Melacak Sejarah Stroke

Triptan bekerja dengan cara mencegah sinyal rasa sakit mencapai otak. Selain itu, obat-obatan dalam kelas ini juga menghambat pelepasan zat yang dapat menyebabkan rasa sakit serta gejala lain dari migrain, seperti mual. Hal ini membuat triptan menjadi salah satu pilihan utama dalam pengobatan migrain yang efektif.

Bibliografi

Bourke, J. (2017). The headache in history and culture. The Lancet389(10078), 1509-1510.

Diamond, S., & Franklin, M. A. (2015). Introduction–The History of Headache. In Headache and Migraine Biology and Management (pp. 1-12). Academic Press.

Foxhall, K. (2019). Migraine: A history (p. 293). Johns Hopkins University Press.

Koehler, P. J., & Boes, C. J. (2010). A history of non-drug treatment in headache, particularly migraine. Brain133(8), 2489-2500.

Pearce, J. M. S. (2012). A headache history. Brain, Volume 135, Issue 8.

Rose, F. C. (1995). The history of migraine from Mesopotamian to Medieval times. Cephalalgia15(15_suppl), 1-3.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *