Making Useful Citizens: Kehidupan Anak-Anak Panti Asuhan di Batavia

Takdir anak-anak panti asuhan di Batavia tidak pernah mudah. Di balik batu bata dan pemandangan kota yang ramai, mereka menjalani perjalanan yang tak terlupakan untuk menjadi warga yang “berguna”.

Proyek Kota Ideal

Banyak yang beranggapan perhatian terhadap anak-anak yatim dan penyadang disabilitas baru muncul pada periode pascakemerdekaan. Kemunculan anggapan ini sebenarnya tidak mengherankan, mengingat minimnya kajian yang sejarah yang mengulas tema-tema kelompok marjinal.

Bila menelusuri sumber-sumber kolonial, kebijakan dan kepedulian terhadap anak yatim sebenarnya telah muncul sejak masa VOC, tepatnya di Batavia. Pada bulan Oktober 1624, hanya lima tahun setelah berdirinya Batavia, panti asuhan pertama didirikan. Namun, pemerintah tidak turun tangan langsung dalam pengelolaannya, tetapi melimpahkannya ke gereja. Merawat anak-anak yatim dianggap bagian dari tugas sosial dan keagamaan yang dijalankan oleh gereja pada masa itu.

Pendirian panti asuhan tidak dapat dilepaskan dari masalah sosial serius yang muncul akibat tingginya mortalitas orang Eropa serta banyaknya anak Indo yang terlantar. Di samping itu, panti asuhan termasuk dalam bagian proyek VOC untuk menciptakan sebuah kota ideal dengan tatanan masyarakat yang teratur, yang sebisa mungkin meniru kebiasaan orang Belanda.

Terdapat perbedaan perlakuan anak yatim dari keluarga berada dan miskin. Mereka yang berasal dari keluarga berada biasanya memiliki wali. Para wali ini bertugas mencatat harta benda semua anak yatim beragam Kristen dan menginvestasikannya atas nama anak tersebut (keuntungan investasi masuk ke dalam kas panti asuhan).

panti asuhan
Potret anak-anak panti tengah makan bersama. Sumber: Tropenmuseum

Peran wali begitu sentral bagi anak-anak yatim kaya. Selain membesarkan sang anak, mereka juga bertanggung jawab dalam keputusan besar, seperti memilih pasangan.

Panti asuhan bisa dibilang tempat untuk anak-anak yatim dari keluarga miskin. Anak-anak tersebut memiliki sebutan Anak Kompenie karena berasal dari hubungan pejabat berpangkat rendah dan wanita setempat, yang biasanya berasal dari golongan budak.

Sayangnya, biaya untuk melegitimasi anak hanya dijangkau oleh kalangan elit, mereka yang tidak mendapat kesempatan ini akhirnya berakhir di panti asuhan. Sedangkan, sebagian kecil tinggal bersama ibu mereka di panti sosial gereja.

Karena berasal dari keluarga tidak berada, tentu perlakuan yang didapatkan sangatlah berbeda. Anak perempuan biasanya dipekerjakan sebagai pelayaan keluarga di kota atau mencari nafkah di panti asuhan dengan menjahit.

Mereka diberi mas kawin pada saat menikah. Mereka yang masih lajang pada usia delapan belas tahun harus menjadi mandiri dan diberikan mahar pernikahan lebih awal jika dianggap layak.

Sementara itu, anak laki-laki magang di beberapa bidang perdagangan; pembuatan pelana dan layar, pembuatan sepatu bot, dan penjahit atau diambil sebagai anak buah kapal pada usia dua belas tahun.

Selain pendidikan keterampilan, anak-anak ini mendapatkan pelajaran agama Kristen dan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dasar sekolah.

Van Till (1995) berpendapat, anak-anak perempuan dan laki-laki tidak ditempatkan dalam satu bangunan. Untuk melindungi anak-anak perempuan, panti asuhan umumnya hanya diperuntukkan bagi perempuan, sedangkan anak laki-laki ditempatkan di panti sosial yang lokasinya tidak berjauhan dengan panti asuhan.

panti asuhan
Diakonia Evangelische, salah satu panti asuhan di Batavia. Sumber:
KITLV 4269

Pada umumnya, panti merawat anak-anak hingga usia akhir remaja. Namun, mereka bisa meninggalkan lembaga lebih awal bila ada yang memberikan pekerjaan atau ada yang mengadopsi.

Ketika anak-anak itu meninggalkan panti asuhan, mereka diharapkan menjadi warga yang berguna bagi masyarakat, menghormati orang yang lebih tua, dan fasih berbahasa Belanda. Penekanan yang terakhir diharapkan menjadi solusi permasalahan bahasa Belanda yang sulit diwariskan dan makin sedikit pemakaianya.

Bagi pemerintah Batavia, bahasa Belanda memiliki arti penting sebagai cap kesetiaan politik, sama halnya dengan pengakuan kekristenan. Ini menjadi alasan mengapa para pejabat senior berusaha menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, tidak hanya untuk orang Belanda, tetapi juga orang dari etnis lain.

Dengan kebijakan ini, tidak ada salahnya mengatakan panti asuhan di Batavia bukan hanya menjadi tempat penampungan anak-anak yatim dan wujud kedermawanan VOC. Namun, juga sebagai sarana untuk membentuk warga negara yang berguna.

Perkembangan Panti Asuhan di Batavia

Memasuki abad ke-19, kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin makin terlihat di Batavia. Kendati demikian, pemerintah kolonial masih enggan turun tangan langsung mengatasi masalah sosial di masyarakat. Mereka masih menjadikan gereja sebagai perpanjangan tangan untuk mengatasi masalah ini.

Namun, tidak semua panti asuhan yang berdiri masa ini berada di bawah manajemen gereja Kristen. Pada 1832, Walter Henry Medhurst, dari London Missionary Society, mendirikan Panti Asuhan Parapattan di pinggiran Batavia. Panti ini didirikan untuk menampung anak-anak Inggris yang terlantar, setelah berakhirnya kekuasaan Raffles pada 1816.

panti asuhan
Potret anak-anak panti asuhan tengah bermain. Sumber: Tropenmuseum

Selama bertahun-tahun panti ini mempertahankan karakteristik Inggrisnya, bahkan hingga tahun 1840, hampir setengah anak-anak yatim di Parapattan memiliki nama Inggris. Jumlah anak-anak Inggris baru mulai menurun pada tahun 1840-an, dan pelajaran tidak lagi diberikan dalam bahasa Inggris.

Meskipun begitu, jumlah anak yatim di sekolah justru mengalami peningkatan, dari 37 anak pada tahun 1838 menjadi 65 anak pada tahun 1879 dan 73 anak pada tahun 1900.

Bertambahnya penghuni tidak dapat dilepaskan dari reputasi panti yang baik. Anak-anak lulusan panti tersebut dikenal mahir dalam berbahasa Belanda dan banyak memperoleh pekerjaan di pemerintahan.

Sementara yang lain bekerja sebagai tentara, pelaut, perkebunan, dan percetakan. Bahkan, ada yang menjadi insinyur pada 1860-an.

Anak perempuan yang keluar dari panti asuhan bekerja sebagai pengasuh anak, pelayan, penjahit, pendamping wanita, atau pembantu rumah tangga di keluarga Eropa. Akan tetapi, banyak di antara mereka yang langsung menikah setelah keluar dari sekolah.

Panti asuhan ini memang memiliki tujuan membantu anak-anak terlantar menjadi kelas menengah terdidik, tetapi hasil yang diperoleh melebihi harapan.

Selain Panti Asuhan Parapattan, Batavia juga memiliki Institut Djati, sebuah panti asuhan yang memiliki tujuan “merawat dan mendidik anak-anak yang kurang mampu dan miskin”. Lembaga ini didirikan pada tahun 1854 oleh Emanuel Francis, yang nantinya menjadi direktur Javasche Bank.

Ukuran tempat ini tidaklah besar, hanya mampu menampung 40-50 anak. Sesuai tujuan awalnya, tempat tersebut banyak dihuni oleh anak-anak yang tidak memiliki tempat tinggal.

Memasuki abad ke-20, panti asuhan di Batavia semakin bertambah. Pada masa ini, panti asuhan tidak hanya dikhususkan untuk menampung anak-anak Eropa dan Indo, tetapi juga muncul panti-panti lain yang menyasar anak-anak bumiputra yang terlantar.

Dalam Handboek voor Philanthropisch en Maatschappelijk Werk in Nederl. Oost En West Indiè disebutkan, selain dua panti asuhan di awal, ada Rumah Piatu Muslimin Batavia, Vereeniging Pasoendan yang dikelola Oto Iskandar Dinata, Institut St Joseph, Institut Vincentius, dan Diakonia Evangelische.

panti asuhan
Institut Vincentius, salah satu panti asuhan terbesar di Batavia. Sumber: KITLV

Setiap tahunnya pemerintah kolonial memberikan subsidi kepada panti-panti tersebut.  Berdasarkan data dari Tijdschrift voor Armenzorg en Kinderbescherming edisi ke-13 tahun 1912, jumlah subsidi ini tidaklah sama untuk setiap panti, dibedakan menurut pengeluaran dan kapasitas panti.

Kebanyakan uang subsidi yang diterima digunakan untuk menutup defisit anggaran panti, seperti yang dilakukan oleh Yayasan Vincentius dan Diakonia Evangelische.

Baca juga: Kemunculan Sekolah Difabel Paling Awal di Dunia

Seiring dengan berjalannya abad ke-20, semakin banyak panti asuhan yang berdiri. Tidak hanya di kota-kota besar di Jawa, tetapi juga menyebar luas ke seluruh Hindia-Belanda. Gereja tidak lagi menjadi satu-satunya pengelola panti, banyak pihak swasta atau organisasi agama lain yang mulai berinisiatif mendirikan panti asuhan.

Bibliografi

Blankenberg, J. F. L. (1912). Instellingen van weldadigheid in Nederlandsch Oost-Indië. Tijdschrift voor Armenzorg en Kinderbescherming, Vol. 13 No. 597.

Borchardt, N. (2014). Growing up in VOC Batavia: Transcultural Childhood in the World of the Dutch East India Company. In Childhood and Emotion (pp. 42-56). Routledge.

Bosma, U., & Raben, R. (2008). Being” Dutch” in the Indies: A history of creolisation and empire, 1500-1920 (No. 116). nus Press.

Kosters, N. (1932). Handboek voor philanthropisch en maatschappelijk werk in Nederl. Oost-en West-Indie. Bureau voor sociale lectuur-cannalaan.

Schnitzeler, J. W. (2022). Financial care for the vulnerable: Rise and decline of Holland orphan chambers (Doctoral dissertation, Utrecht University).

Taylor, J. G. (2006). Meditations on a Portrait from Seventeenth-century Batavia. Journal of Southeast Asian Studies37(1), 23-41.

van Till, M. (1995). Social Care in Eighteenth-Century Batavia The Poorhouse, 1725–1750. Itinerario19(1), 18-31.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *