Geger Cilegon 1888

Pergolakan pada masa kolonial diwarnai dengan bermunculannya gerakan-gerakan perlawanan terhadap penjajah di setiap daerah. Perlawanan-perlawanan tersebut juga bukan suatu perlawanan yang muncul secara tiba-tiba atau kebetulan, akan tetapi merupakan suatu gerakan perlawanan yang sudah direncanakan dengan matang. Demikian pula dengan perlawanan rakyat Banten pada masa itu, peristiwa perlawanan tahun 1888 ini bukan suatu tindakan yang tiba-tiba dari petani yang tidak tahu apa-apa, yang mengamuk menyerang orang-orang Belanda.

Sejak hari pertama sudah terlihat jelas bahwa pemberontakan ini merupakan suatu pemberontakan yang telah dipersiapkan dan direncanakan dan mempunyai lingkup yang jauh melampaui batas-batas kota kecil Cilegon. Peristiwa itu merupakan puncak dari perencanaan suatu gerakan pemberontakan yang sudah direncanakan selama bertahun-tahun.

Pemicu Geger Cilegon/Pemberontakan Petani Banten Tahun 1888.

 Di dalam masyarakat kolonial, terdapat ketidak cocokan ekstrem antara aspek-aspek tertentu  dari praktik keagamaan tradisional dan lembaga-lembaga kolonial, yang menyebabkan kekhawatiran di kalangan pribumi dan merasa bahwa kebudayaan mereka sendiri akan mengalami kemunduran. Pembela-pembela tradisi ini menginginkan, dipulihkannya tatanan tradisional dan terus mengobarkan perlawanan terhadap kaum penjajah.

Perkembangan ini mengisyaratkan bahwa gerakan keagamaan berusaha menegakkan hak aspirasi politik. Hal ini disebabkan adanya suatu ketersingkiran politik, dan keinginan untuk kembali memperkuat tradisi tradisional. Dilihat dari sisi ini, gerakan kebangkitan agama di Banten dapat diidentifikasikan sebagai sebuah gerakan religio-politik, yang menanmpung berbagai kelompok sosial.[1]

Elite agama mendapatkan peran penting untuk memimpin gerakan pemberontakan 1888, kepribadian mereka yang kharismatik menjadikan mereka sebagai salah satu unsur penting dalam usaha membina pertumbuhan pergerakan. Salah satu kekuatan utama gerakan pemberontakan petani 1888 adalah elite agama, terletak pada fakta bahwa gerakan itu  menggunakan tarekat sufi (Qadiriyah) sebagai landasan organisasinya. Disiplin dari tarekat bukan hanya mempunyai sifat mengikat terhadap pengikutnya, akan tetapi juga menanamkan semangat revolusioner dalam diri mereka yang kemudian didakwahkan kepada masyarakat.

Pada tahun 1872-1876 Haji Abdul Karim menyebarkan kegiatan tarekat Qadiriyah di Banten, dengan cara berkeliling ke pelosok-pelosok. Haji Abdul Karim dianggap sebagai Kyai terbesar di daerah Banten dan mendapat gelar Kyai Agung, di samping ada juga yang menganggapnya sebagai Wali Allah. Pada  tahun 1876, dia diangkat menjadi pengganti Syekh Chatib Sambas, pemimpin tertinggi tarekat Qadiriyah di Mekkah. Beliau saat berangkat ke Arab, mengatakan kepada murid-muridnya, bahwa  dia tidak akan kembali lagi ke Banten selama daerah ini masih berada di bawah kekuasaan asing.

Pada tahun 1883, K.H. Tubagus Ismail pulang dari Mekkah. Sebagai keturunan Sultan Banten dia dianggap sebagai calon “Wali Allah”. Dengan kehadirannya ini maka dorongan untuk mendirikan kembali kesultanan Banten pun muncul kembali. Pada tahun 1884, berlangsung perundingan pertama yang membicarakan rencana kongkrit untuk mengadakan pemberontakan bersenjata. Perundingan itu terjadi di rumah Haji Wasid, yang dipimpin oleh K.H Tubagus Ismail.[2]

Dalam satu pertemuan di rumah Haji Wasid di Beji diputuskan untuk mencari pengikut dikalangan para murid. 26 Pertemuan-pertemuan diadakan diberbagai tempat yang dihadiri oleh bagian terbesar pemimpin-pemimpin pemberontakan setempat. Guru-guru tarekat ditugaskan untuk menyebarkan gagasan itu dan mencari pengikut. Pejabat-pejabat Eropa merasa cemas melihat kegiatan yang sangat meningkat dalam kehidupan agama rakyat, akan tetapi mereka ditenangkan oleh pejabat-pejabat Banten yang tidak melihat hal-hal yang membahayakan dalam manifestasi-manifestasi keagamaan itu.

Pertemuan-pertemuan yang paling penting diantara anggota-anggota komplotan menggunakan kedok pesta rakyat, seperti pesta perkawinan atau pesta sunatan. Pertemuan-pertemuan yang lebih kecil menggunakan kedok pertemuan zikir. Mereka begitu pandai merahasiakan rencana-rencana komplotan mereka sehingga selama bertahun-tahun pemerintah kolonial tidak dapat menemukan fakta-fakta yang bisa dijadikan alas an untuk menangkap mereka.

Dalam empat bulan terakhir tahun 1887 kegiatan anggota-anggota komplotan sangat meningkat, mereka adakan pertemuan-pertemuan melakukan perjalanan dan mempropagandakan perjuangan mereka di satu pihak dan melatih murid-murid mereka dalam cara-cara bertempur di lain pihak. Menjelang waktu itu, semangat pemberontakan sudah mencekam anggota-anggota tarekat. Mereka sependapat bahwa gerakan mereka sudah mencapai banyak kemajuan, dan mereka memutuskan untuk memperluas persiapan-persiapan pemberontakan dan mengikutsertakan orang-orang di luar tarekat. [3]

Pada 29 September 1887, kiai-kiai Banten mengadakan pertemuan yang kedua dala tempo kurang dari sebulan di Beiji, sebagai tamu haji Wasid. Kali ini yang pertama dibicarakan adalah masalah mengumpulkan senjata. Kegiatan-kegiatan persiapan pemberontakan selam tiga bulan terakhir tahun 1887 dan pertengahan pertama tahun 1888, ditandai oleh faktor-faktor sebagai berikut : (1) pelatihan pencak dipergiat ; (2) pengumpulan dan pembuatan senjata ; (3) propaganda di luar Banten dilanjutkan.

Kegiatan-kegiatan lain diteruskan, seperti menghasut rakyat dengan jalan membakar semangat mereka dengan khotbah-khotbah tentang ramalan-ramalan dan ajaran tentang Perang Sabil, dan mendorong mereka untuk memakai jimat dan ikut dalam pertemuan-pertemuan keagamaan. Kegiatan-kegiatan gerakan benar-benar ditingkatkan, dan salah satu buktinya yang nyata adalah seringnya diadakan pertemuan oleh pemimpin-pemimpin pemberontak hampir setiap minggu. Haji Abdulsalam ditugaskan untuk menyediakan senjata-senjata gelap, ia dibantu oleh Haji Dulgani dan Haji Usman.

Salah satu pertemuan penting sebelum pemberontakan, ialah pertemuan pada 12 Ruwah, atau 22 April 1888, yang diadakan di rumah Haji Wasid di Beji. Pada akhir jamuan, 300-an orang tamu berkumpul di masjid, dimana para kiai dan murid-murid mereka bersumpah : pertama, bahwa mereka akan ambil bagian dalam perang sabil; kedua, bahwa mereka yang melanggar janji akan dianggap sebagaikafir; ketiga, bahwa mereka tidak akan membocorkan rencana mereka kepada pihak luar.

Pada 15 Juni 1888, atau hari kelima bulan Syawal, beberapa pemimpin terkemuka bertemu di rumah Haji Wasid di Beji, diamana mereka membicarakan mengenai tanggal dimulainya penyerangan. Mereka mencapai kata sepakat bahwa pemberontakan akan dimulai pada 12 Juli. Akan tetapi setelah pertemuan 22 Juni 1888, tanggal pemberontakan diubah menjadi 9 Juli 1888. Hal ini dikarenakan Haji Wasid dan Haji Iskak menyerukan agar pemberontakan segera dilaksanakan, untuk mengantisipasi kemungkinan rencana mereka tercium pejabat-pejabat pemerintahan.[4]

Jalannya Pemberontakan

 Pada hari Minggu yang sama, tanggal 8 Juli, Cilegon menyaksikan sebuah arak-arakan berpakaian putih melalui jalan-jalannya. Arak-arakan itu dimulai dari rumah Haji Akhiya dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen. Para Kiai dan murid-murinya memakai pakaian putih dan sepotong kain putih diikat di kepala mereka. Kemudian, pada malam harinya barisan pejuang terus bertambah besar. Bersenjata golok dan tombak, dan dipimpin oleh Haji Wajid dan Haji Tubagus Ismail, yang bergerak dari Cibeber ke arah Saneja, sasaran awal dari penyerangan.

Di Desa Saneja itulah Haji Tubagus Usmail memimpin pasukannya pada Minggu malam untuk melakukan serangan pertama. Ia memimpin sejumlah besar partisan, terutama dari  Arjawinangun, Gulacir dan Cibeber. Diperkuat dengan bala bantuan dari Saneja dan desa sekitarnya, kaum pemberontak bergerak menuju daerah tempat tinggal pejabat Cirebon. Rumah Dumas, seorang juru tulis di kantor asisten residen, merupakan sasaran serangan yang pertama.[5] Tidak diketahui apa karena memang rencana awal seperti itu atau hanya karena ada faktor lain, sehingga rumah Dumas menjadi sasaran awal penyerangan. Pada saat penyerangan ke rumah Dumas, Haji Tubagus Ismail membawa pasukan berjumlah sekitar 100 orang.

Pemimpin utama operasi ini adalah Hajid Wasid. Atas perintahnya, sebagian kaum pemberontak menyerbu penjara untuk membebaskan semua tahanan, sebagian lagi akan menyerang untuk membebaskan semua tahanan, sebagian lagi akan menyerang kepatihan, dan sebagian lainnya akan bergerak menuju rumah asisten residen. Sementara kaum pemberontak berkumpul, pejabat-pejabat pamong praja dan keluarganya berusaha menyelamatkan diri dalam suasanan ketakutan.

Pada pagi hari yang sama, sebagian dari pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Lurah Jasim bergerak menuju penjara, kaum pemberontak berhasil memasuki penjara dengan paksa, dan segera membebaskan semua tahanan. Mereka berhasil membebaskan 20 tahanan, yang kemudian langsung bergabung dengan kaum pemberontak.

Kekerasan dan kekacauan berkecamuk sepanjang hari itu, Cilegon menjadi tempat pertumpahan darah antara orang-orang Islam dengan pejabat-pejabat pemerintahan kolonial pada waktu itu. Hampir semua pejabat terkemuka di Cilegon jatuh sebagai korban dari senjata kaum pemberontak. Di sini, kekuasaan asing benar-benar berhadapan dengan kekuatan pemberontak yang sudah terorganisir selama berbulan-bulan.

Pada saat itu Jaksa dan ajun kolektor telah ditawan, pemberontak kemudian membawa mereka bersama dengan wedana dan kepala penjara, kee gardu Jombang Wetan yang merupakan markas Haji Wasid dan Haji Iskak. wedana, jaksa, ajun kolektor dan kepala penjara kemudian dibawa ke alun-alun untuk dieksekusi. Puncaknya adalah pengejaran terhadap asisten residen Gubbels, yang baru saja kembali dari Anyer. Pengejaran terhadap Gubbels, berakhir setelah kaum pemberontak menyeberbu ke rumahnya dan menyergapnya. Setelah Gubbels tewas mayatnya kemudian diseret ke luar rumah dan disambut dengan sorakan kemenangan. Di sini terlihat adanya kebencian rakyat yang sangat mendalam terhadap pamong praja.

Akhir dari Pemberontakan Petani Banten.

 Peristiwa yang menjadi titik balik dari pemberontakan ini, yang menyebabkan jatuhnya mental psikis para pemberontak adalah peristiwa pertempuran Toyokerto. Petang hari tanggal 9 Juli, kaum pemberontak diliputi semangat yang tinggi setelah berhasil menumpas para pamong praja di Cilegon. Dengan kemenangan itu mereka merasa yakin bahwa tidak lama lagi mereka akan berada di Serang.

Pada pagi harinya, pejabat-pejabat Serang mulai menyadari ancaman tersebut, mereka memutuskan untuk megirim sepasukan tentara dengan 28 senjata api untuk memulihkan ketertiban di Cilegon. Bupati dan Kontrolir Serang juga pergi kesana, bersama dengan Letnan van der Star. Ketika Bupati beserta rombongannya melakukan perjalanan dari Serang, mereka tiba-tiba dihadang pemberontak yang berjumlah ratusan orang.

Bupati berusaha membujuk mereka untuk membatalkan rencana mereka, akan tetapi usaha itu sia-sia. Bupati kemudian mengatakan jika mereka tidak bubar dan meletakkan senjata, maka tentara akan melepaskan tembakan. Namun peringatan tersebut tidak digubris, justru pemberontak melepaskan tembakan ke arah Bupati dan Kontrolir. Karena kondisi yang dirasa semakin tidak kondusif, maka tentara melepaskan tembakan ke pemberontak.

Bentrokan tersebut menewaskan sembilan pemberontak dan melukai yang lainnya. Sisanya melarikan diri sambil berlindung di belakang pepohonan. Kaum pemberontak mengalami satu pukulan hebat ketika mereka menyadari bahwa, walaupun mereka yakin akan kekebalan terhadap peluru musuh, akan tetapi bentorakan dengan pemerintah berakhir dengan tewasnya sejumlah rekan seperjuangan mereka. Selain itu, mereka juga sangat terkejut ketika untuk pertama kalinya melihat senapan jenis baru, yakni senapan repetisi.[6]

Efeknya adalah suatu psikosis yang meluas di kalangan pemberontak, yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap kecewa. Sebagai akibatnya, mereka kehilangan semangat untuk meneruskan perjuangan guna mencapai tujuan utama pemberontakan. Sesungguhnya moril kaum pemberontak, dapat dikatakan sudah dipatahkan. Dengan tercerai-berainyanya pasukan induk mereka setelah bentrokan di Toyomerto itu, pemberontakan mulai surut.

Pada pagi hari itu juga, sepasukan tentara dari Batavia yang berkekuatan satu batalion, mendarat di Pelabuhan Karangantu. Dalam waktu yang sama, sebuah skuadron kavaleri juga dalam perjalanan menuju Serang. Untuk menumpas pemberontakan yang hampir padam itu, dikirimkan pasukan-pasukan ekspedisike berbagai penjuru. Mereka ditugaskan untuk menangkap dan mengambil tindakan terhadap kaum pemberontak.

Operasi menegakkan hukum benar-benar berjalan lancar setelah pasukan ekspedisi tiba di daerah itu. selama tiga minggu mereka sibuk melakukan pengejaran di bebagai distrik afdeling Cilegon. Baru pada minggu ketiga operasi pengejaran diperluas ke bagian barat Kabupaten Caringin dan Lebak.

Akibat dari operasi ini, kaum pemberontak terpaksa beralih ke strategi defensif. Rencana Haji Wasid untuk bertahan di daerah sekitar Beji dan Gunung Gede mendapat rintangan, karena ia sudah kehilangan basis utama operasinya. Satu-satunya jalan untuk meneruskan perjuangan selama munhkin dengan menggunakan taktik bermain sembunyi. Setelah pasukan pemerintah menyerang daerah yang  paling vital bagi kaum pemberontak, mereka tanpa henti  mengejar pemimpin-pemimpin pemberontak yang masih berkeliaran dengan anak buahnya yang tinggal sedikit jumlahnya.

Masalah paling penting yang harus dicari solusinya adalah bagaimana cara mereka dapat keluar dari keadaan pasif itu dan merebut kembali kondisi  inisiatif. Mereka menyadari bahwa mereka harus mencari markas baru, dikarenakan tinggal disemenanjung kecil Gunung Gede berarti dikepung oleh pasukan pemerintah yang  pasti akan menumpas mereka.

Untuk mempersiapkan operasi militer terhadap sisa-sisa pemberontak, pejabat pemerintah dan militer mengadakanrapat di Labuan pada malam hari 27 Juli. Rapat memutuskan untuk mengirimkan sebuah pasukan ekspedisi di bawah pimpinan Kapten Veenhuyzen ke Ciseureuheun. Pasukan dibagi menjadi dua jalur, jalur darat dan laut untuk menghadang pemberontak.

Pada saat penghadangan tersebut, Kapten Veenhuyzen sempat menawarkan kepada pemberontak agar menyarah, namun pemberontak menjawabnya dengan serentetan tembakan. Pasukan Veenhuyzen segera melancarkan serangan balasan, sehingga berkobarlah pertempuran kecil. Kaum pemberontak yang mempertahankan diri menyerang berulang-ulang, tetapi tampaknya situasi sudah tak memberi harapan. Mereka sudah nekat untuk bertempur hingga akhir.

Pada pukul 10 pagi hari 30 Juli, pasukan itu meninggalkan Sumur dengan membawa kesebelas mayat pemberontak yang tewas. Kemudian di Cilegon, mayat-mayat itu diidentifikasikan sebagai pemberontak yang sedang dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah, termasuk Haji Wasid, Kiai Haji Tubagus Ismail, Haji Abdulgani dan Haji Usman. Dengan selesainya operasi militer itu, pemberontakan telah dapat ditumpas dalam waktu kurang dari satu bulan.[7]

Simpulan

 Pemberontakan petani Banten 1888, merupakan suatu gambaran ketidakcocokan yang begitu kentara antara aspek-aspek tertentu dari praktik keagamaan dan lembaga-lembaga kolonial, yang menyebabkan timbulnya perasaan khawatir di kalangan pribumi dan merasa bahwa kebudayaan mereka akan mengalami kemunduran. Pembela-pembela tradisi tersebut menginginkan dipulihkannya tantanan tradisional.

Elite agama juga berperan penting dalam memimpin gerakan ini, otoritas mereka yang kharismatik dengan sendirinya menjadi satu unsur penting dalam membina pertumbuhan pergerakan. Dari peristiwa Cilegon tersebut dengan jelas mengilustrasikan kemunculan guru tarekat sebagai pemimpin politik dan bagaimana guru-guru tarekat ini dapat menciptakan sebuah organisasi politik-keagamaan.

Dari peristiwa pemberontakan ini bisa ditarik beberapa faktor-faktor yang menyebabkan pemberontakan ini, faktor tersebut dapat disusun sebagai berikut :

  1. Di daerah tersebut terdapat satu aspek ketegangan yang berlangsung secara terus-menerus, yang bersumber pada keadaan di mana satu lapisan besar penduduk telah mengalami ketersingkiran politik dan kehilangan hak istimewa mereka.
  2. Adanya organisasi agama yang digunakan untuk menampung gerakan tersebut, dan mengobarkan semangat revolusi para anggotanya.
  3. Dampak penetrasi dominasi kolonial secara berangsur-angsur telah mengacaukan beberapa bagian kehidupan beragama.
  4. Terdapat satu pompinan revolusioner yang memberikan landasan rasional kepada gerakan pemberontakan itu.

 

 Daftar Pustaka

Kartodirjo, Sartono. Pemberontakan Petani Banten 1888. Depok: Komunitas Bambu. 2015.

Stenbirk, Karel A. Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke 19. Jakarta: Bulan Bintang. 1984.

Ibrahim, Ahmad., Siddique, Sharon., Hussain, Yasmin. Islam Di Asia Tenggara : Perspektif Sejarah. Jakarta: LP3ES. 1989.

[1]Ahmad Ibrahim, Sharon Shiddique, Yasmin Hussain, Islam di Asia Tenggara: perspektif sejarah, ( Jakarta: LP3ES, 1989), hlm. 218.

[2] Karel A. Steenbtink, Beberapa Aspek Tentang Islam Di Indonesia Abad Ke-19, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 56.

[3] Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, (Depok; Komunitas Bambu, 2015), hlm.  211.

[4] Ibid., hlm. 219

[5] Ibid., hlm. 231

[6] Ibid., hlm. 265

[7] Ibid., hlm. 287

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *