Memahami Sejarah HIV/AIDS: Dari Awal Penemuan hingga Pandemi Global

Kemunculan HIV sempat memicu perdebatan di kalangan para ilmuwan. Hipotesis bermunculan mengenai asal-usul penyakit ini. Orang-orang Haiti dan kelompok gay sempat dituduh sebagai pemicu penyakit ini. Meskipun tuduhan ini pada akhirnya tidak benar, tetapi selama bertahun-tahun mereka harus menghadapi stigma dan perlakuan diskriminatif.

Apa itu HIV?

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4 (atau sel T).

Virus ini ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, dan air susu ibu. Dalam sejarahnya, kasus HIV paling sering ditularkan lewat hubungan seks tanpa pengaman (kondom), penggunaan jarum suntik secara bergantian, dan kelahiran.

Seiring berjalannya waktu, virus dapat menghancurkan banyak sel CD4 sehingga tubuh tidak dapat melawan infeksi dan penyakit. Infeksi yang terlampau parah akhirnya menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome atau AIDS.

HIV/aids
Potret penderita AIDS. Sumber: life.com

Individu dengan AIDS sangat rentan terhadap kanker dan infeksi berbahaya, seperti pneumonia.

Meskipun belum ada obat untuk menyembuh penyakit ini, penderita yang menerima terapi pengobatan sejak dini dapat hidup sama lamanya dengan orang yang tidak mengidap virus tersebut.

Menggali Akar Penyakit Ini

Para ilmuwan melacak asal-usul HIV dari Simian Immunodeficiency Virus (SIV) yang dibawa oleh simpanse. Kedua virus memiliki kemiripan, yakni sama-sama menyerang sistem kekebalan tubuh. Pada tahun 1999, para peneliti mengidentifikasi jenis SIV simpanse yang disebut SIVcpz, yang hampir identik dengan virus yang menyerang manusia.

SIVcpz kemungkinan besar pertama kali menginfeksi manusia saat para pemburu di Afrika memakan simpanse yang terinfeksi atau darah simpanse yang terinfeksi masuk ke luka para pemburu.

Para peneliti meyakini penularan pertama pada manusia menyebabkan wabah di Kinshasa, Republik Kongo pada tahun 1920.

Dari Kinsaha virus kemudian menyebar melalui rute transportasi lewat para migran dan perdagangan seks. Pada tahun 1960-an, virus menyebar dari Afrika ke Haiti dan Karibia. Virus dibawa oleh para pekerja Haiti di Kongo yang pulang ke kampung halaman.

Pada awalnya, warga Haiti dituduh sebagai pemicu epidemi. Sebagai akibatnya mereka mendapatkan perlakuan rasis, stigma, dan diskriminasi.

Virus terus menyebar hingga sampai ke New York pada sekitar tahun 1970. Perjalanan internasional dari Amerika Serikat lalu mendorong penyebaran virus ini ke seluruh dunia.

Menjadi Pandemi Global

Meskipun HIV telah memasuki Amerika Serikat sekitar tahun 1970, tetapi penyakit ini baru mendapat perhatian publik pada awal dekade 1980-an.

Pada tahun 1981, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerbitkan sebuah laporan tentang lima pria homoseksual yang terinfeksi Pneumocystis Pneumonia. Penyakit tersebut disebabkan oleh jamur Pneumocystis Jirovecii. Namun, pneumonia jenis ini sebenarnya jarang menyerang orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh kuat.

Karena penyakit ini menyerang sebagian besar pria homoseksual, para pejabat pada awalnya menyebutnya sebagai defisiensi imun gay atau kanker gay.

HIV/AIDS
Pemberitaan awal terkait virus ini

Tidak berselang lama, New York Times menerbitkan sebuah artikel yang berisi kekhawatiran terhadap gangguan sistem kekebalan tubuh yang baru. Dalam waktu singkat defisiensi imun telah menjangkiti 335 orang dan menewaskan 136 di antaranya.

Pertengahan 1982, para ilmuwan menyadari bahwa penyakit ini juga menyebar di antara penderita hemofilia dan pengguna narkoba suntik. Pada bulan September tahun itu, mereka menamainya Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Memasuki penghujung thaun, kasus AIDS dilaporkan muncul di sejumlah negara Eropa.

Satu tahun kemudian, CDC menemukan fakta bahwa AIDS juga dapat ditularkan ke pasangan wanita. Kendati demikian, masyarakat telah menganggap AIDS sebagai penyakit gay. Bahkan disebut sebagai “wabah gay” selama bertahun-tahun setelahnya.

Terapi HIV

Peneliti Institut Pasteur di Prancis, pada tahun 1983, berhasil mengidentifikasi penyebab AIDS yang berasal dari Human Immunodeficiency Virus. Tidak lama kemudian, Food and Drug Administration (FDA) melisensikan tes darah komersial pertama untuk HIV. Saat ini, tes untuk mendeteksi virus telah berkembang pesat, tidak hanya lewat darah tetapi juga melalui air liur dan urin.

HIV/AIDS
Kelompok melakukan unjuk rasa memprotes diskriminasi terhadap mereka. Sumber: npr.org

Pada tahun 1985, aktor Rock Hudson tercatat sebagai tokoh terkenal pertama yang meninggal akibat AIDS.

Kala itu, dunia benar-benar dibuat gempar oleh penyakit ini. Pada tahun yang sama, terdapat lebih dari 20.000 kasus, dengan setidaknya satu kasus di setiap wilayah di dunia.

Celakanya, lonjakan kasus ini memunculkan peraturan diskriminatif terhadap penderita virus ini. Anak yang positif dilarang untuk masuk sekolah, sedangkan FDA melarang pria gay untuk mendonorkan darah karena takut bank darah terkontaminasi virus itu. Peraturan ini baru direvisi pada tahun 2015.

Obat antiretroviral pertama untuk HIV, Azidothymidine (AZT), baru mulai tersedia pada 1987. Terapi antiretroviral menjadi terapi utama penderita penyakit ini.

Terapi tersebut bertujuan untuk mencegah virus berkembang biak, sekaligus memberikan kesempatan kepada sistem kekebalan tubuh untuk pulih dan melawan infeksi serta kanker yang berhubungan dengan penyakit tersebut.

Selain itu, terapi antiretroviral juga membantu mengurangi risiko penularan HIV, termasuk penularan antara ibu dan janin yang dikandungnya.

Seiring berjalannya waktu, jumlah penderita HIV terus bertambah. Menjelang tahun 1990-an, setidaknya ada 400.000 kasus di seluruh dunia.

Memasuki tahun 1990-an, jumlah kematian akibat virus ini mulai berkurang. Kendati demikian, beberapa kasus tokoh-tokoh terkenal terjangkit penyakit itu.

Bintang NBA, Magic Johnson, mengumumkan dirinya terkena HIV pada 1991. Tak lama setelah itu, vokalis Queen, Freddie Mercury, mengumumkan bahwa ia mengidap AIDS dan meninggal sehari kemudian.

Untuk meningkatkan pendeteksian dini HIV, pada tahun 1994, FDA menyetujui tes oral (dan non-darah) pertama. Dua tahun kemudian, FDA menyetujui alat tes di rumah dan tes urine pertama.

Kematian dan rawat inap akibat HIV di negara-negara maju mulai menurun tajam pada tahun 1995 berkat obat-obatan baru dan pengenalan highly active antiretroviral treatment (HAART).

Memasuki milenium baru, produsen obat generik mulai menjual salinan obat HIV yang telah dipatenkan dengan harga terjangkau ke negara-negara berkembang.

Pada 2012, pre-exposure prophylaxis (PrEP) mulai boleh digunakan untuk individu non-HIV. PrEP dapat mengurangi risiko HIV dari hubungan seks hingga lebih dari 90 persen bila diminum setiap hari.

Baca juga: Melacak Sejarah Stroke

Berbagai penemuan dan pengobatan HIV tampaknya berbuah positif. Meskipun pada 2021, 38,4 juta orang tercatat mengidap virus, tetapi jumlah orang meninggal hanya sekitar 650.000.

Pemberian terapi anti-retroviral yang mencapai 75% berhasil menekan angka mortalitas. Meskipun demikian, pencegahan terhadap virus ini lebih dianjurkan.

Daftar Pustaka

Feinberg, M. B. (1996). Changing the natural history of HIV disease. The Lancet348(9022), 239-246.

World Health Organization. “HIV data and statistics”www.who.int.

Morgan, D., & Whitworth, J. A. (2001). The natural history of HIV-1 infection in Africa. Nature medicine7(2), 143-145.

Moss, A. R., & Bacchetti, P. (1989). Natural history of HIV infection. Aids, 3(2), 55-62.

Ogunbajo, A., Iwuagwu, S., Williams, R., Biello, K., & Mimiaga, M. J. (2019). Awareness, willingness to use, and history of HIV PrEP use among gay, bisexual, and other men who have sex with men in Nigeria. PloS one14(12), e0226384.

Sabin, C. A., & Lundgren, J. D. (2013). The natural history of HIV infection. Current Opinion in HIV and AIDS8(4), 311.

Simelela, N., Venter, W. F., Pillay, Y., & Barron, P. (2015). A political and social history of HIV in South Africa. Current HIV/AIDS Reports12, 256-261.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *