Mengapa Pizza Begitu Populer

Siapa tak mengenal pizza? Salah satu makanan cepat saji paling populer di dunia. Di balik popularitasnya, pizza awalnya identik dengan makanan rakyat jelata.

Makanan Rakyat Jelata

Pizza memiliki sejarah yang panjang. Praktik membuat roti pipih yang menjadi ciri khas pizza sudah dilakukan sejak zaman Mesir kuno, Romawi, dan Yunani. Kendati demikian, tempat kelahiran pizza modern tidak dapat dilepaskan dari wilayah Napoli.

Kota ini didirikan sekitar tahun 600 SM sebagai pemukiman Yunani. Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, kota ini menjelma sebagai salah satu kota terbesar di Eropa. Akan tetapi, di balik kemajuan yang dicapai, kota ini dipadati kerumunan pekerja miskin.

Menurut Carol Helstosky dalam bukunya Pizza: A Global History, kelompok pekerja ini menghuni wilayah di daerah sekitar teluk. Daerah tersebut dipadati penduduk dan kegiatan mereka banyak dilakukan di luar rumah karena tidak memiliki hunian yang layak. Kadangkala kondisi ini memicu munculnya penyakit kolera yang menimbulkan kematian massal.

Seiring dengan meningkatnya perdagangan internasional dan urbanisasi, jumlah penduduk Napoli melonjak dari 200.000 jiwa pada tahun 1700 menjadi 399.000 jiwa pada tahun 1748. Sayangnya, perkembangan ekonomi kota tidak sebanding dengan pertumbuhan populasi. Sehingga, banyak warga kota yang terjerumus ke dalam kemiskinan.

Kelompok termiskin di Napoli dikenal sebagai lazzaroni, dinamai demikian karena penampilan mereka compang-camping menyerupai Lazarus dalam kisah Yesus. Kelompok lazzaroni terdiri dari sekitar 50.000 orang. Mereka hidup dengan mengandalkan upah kecil sebagai kuli angkut, kurir, dan pekerja kasar.

Pizza awalnya menjadi makanan pokok orang-orang lazzarani
Ilustrasi lazzaroni. Sumber: Istock

Sebagai pekerja serabutan penghasilan mereka tidak menentu. Untuk mengatasi kebutuhan pangan murah, mereka mengandalkan pizza.

Kala itu, pizza dianggap sebagai makanan paling terjangkau dan mudah didapatkan dari pedagang kaki lima. Lambat laun, pizza menjadi makanan pokok bagi orang miskin, bahkan dijadikan menu utama untuk sarapan. Beberapa kalangan kelas menengah ke atas di Italia menganggap kebiasaan ini sebagai sesuatu yang aneh.

Popularitas pizza tidak bisa dilepaskan dari resepnya yang sederhana. Dibuat dari bahan-bahan murah yang mudah didapat, dengan beragam variasi rasa. Varian yang paling sederhana biasanya terdiri dari bawang putih, lemak babi, dan garam sebagai bumbu utama.

Meskipun demikian, pizza dalam waktu yang lama menjadi bahan cibiran para jurnalis Italia. Matilde Serao dalam artikelnya berjudul Il ventre di Napoli (1884), mencibir makanan tersebut sebagai makanan yang “terbuat dari adonan padat yang gosong tetapi tidak matang, dan ditutupi dengan tomat mentah, bawang putih, oregano, dan merica. Pizza yang dihargai satu soldo ini dijual oleh bocah lelaki yang berkeliling di jalan… potongan-potongan makanan itu membeku pada musim dingin dan menguning dimakan lalat di bawah sinar matahari.”

Potret pekerja di Napoli 2
Potret pekerja di Napoli. Istock

Pada tahun 1831, Samuel Morse, penemu telegraf, menggambarkan makanan ini sebagai “sejenis kue yang menjijikkan… ditaburi dengan irisan tomat atau pomodoro, sedikit ikan, dan lada hitam… secara keseluruhan terlihat seperti sepotong roti yang diambil dari saluran pembuangan.”

Ketika buku-buku resep mulai bermunculan pada akhir abad ke-19, pizza sering kali diabaikan. Bahkan para penggemar masakan khas Napoli pun enggan untuk memasukkannya ke dalam buku resep mereka.

Menjadi Makanan Semua Kalangan

Kunjungan Raja Umberto I dan Ratu Margherita ke Napoli pada 1889 mengubah pandangan terhadap makanan ini. Selama kunjungan keduanya merasa bosan dengan hidangan Prancis yang disajikan setiap waktu. Karena itu, mereka ingin mencoba makanan khas lokal, terutama pizza.

Raffaele Esposito, pemilik Pizzeria Brandi di Napoli, dipanggil ke istana Capodimonte untuk menyajikan pizza kepada pasangan kerajaan ini. Esposito memasak tiga varian: satu dengan lemak babi, caciocavallo, dan basil; satu lagi dengan cecenielli; dan yang ketiga dengan tomat, mozzarella, dan basil.

Queen Margherita menjadi sosok penting di balik popularitas pizza
Queen Margherita. Wikimedia.

Tanpa dinyana, varian yang terakhir ini menjadi favorit sang ratu. Sebagai penghormatan varian ini kemudian dinamakan pizza Margherita.

Approval dari Ratu Margherita segera mengangkat status pizza dari makanan rakyat jelata menjadi makanan yang disukai oleh semua kalangan. Sejak saat itu, makanan ini dianggap sebagai makanan khas Italia yang otentik, sejajar dengan pasta dan polenta.

Pada abad ke-20, migrasi penduduk dari Napoli ke wilayah utara Italia mendorong meluasnya popularitas pizza. Kehadiran Sekutu di Italia selama Perang Dunia II, terutama pada tahun 1943-1944, juga memainkan peran penting dalam penyebaran makanan ini di luar Italia. Tentara Sekutu yang terpesona dengan makanan ini lantas menjadikannya sebagai salah satu makanan favorit.

Penyebaran pizza semakin masif pascaperang. Pariwisata yang semakin berkembang memperkuat posisi makanan ini sebagai hidangan khas Italia. Dengan minat wisatawan yang meningkat terhadap kuliner Italia, restoran-restoran di seluruh negeri mulai menyajikan hidangan khas daerah.

Pada awalnya, kualitas pizza bervariasi karena tidak semua restoran memiliki oven yang memadai. Namun, permintaan yang tinggi mendorong restoran di seluruh Italia untuk beradaptasi. Variasi bahan-bahan baru yang lebih mahal juga diperkenalkan untuk memenuhi permintaan konsumen.

Melejitnya Popularitas Pizza

Pizza menemukan rumah keduanya di Amerika. Berawal dari kedatangan para imigran Italia di Pantai Timur Amerika pada akhir abad ke-19, makanan ini mulai digemari penduduk AS. Memasuki abad ke-20, tepatnya tahun 1905, restoran pizza pertama, Lombardi’s, dibuka di New York.

Tidak lama kemudian, pizza menjadi sebuah fenomena di Amerika. Makanan ini tidak hanya dijual di restoran Italia, tetapi juga restoran lain. Dari restoran-restoran tersebut lahirlah varian baru yang menyesuaikan selera penduduk setempat.

Pizza Chicago 1
Varian Chicago. Istockphoto

Varian Chicago-style dikembangkan oleh Ike Sewell saat membuka restoran barunya di Chicago pada 1943. Varian ini memiliki pinggiran yang lebih padat dan toping yang berlimpah. Selain itu, adonan juga diberi tambahan keju di bagian bawah dan lapisan saus tomat tebal di atasnya.

Varian populer lain dinamakan Colorado-style. Varian tersebut memiliki pinggiran yang lebih lebar dari kerabatnya di Chicago dan bisa dimakan dengan madu sebagai hidangan penutup. Kadang kala varian tersebut juga dipadukan dengan tambahan ham dan nanas, dikenal sebagai varian Hawaii.

Pizza Hawaii 1
Varian Hawaii dengan topping ham dan nanas. Istockphoto

Pizza tidak hanya berkembang dalam segi varian rasa, tetapi juga dari cara penyajiannya. Perubahan ini terjadi seiring dengan perubahan ekonomi dan teknologi yang cepat pada tahun 1950-an. Semakin menjamurnya kulkas di rumah turut mendorong munculnya varian beku.

Baca juga: Teknik Pengawetan Makanan di Berbagai Zaman dan Budaya

Pizza beku diciptakan agar mudah disimpan dan dimasak kapan saja. Varian ini tentunya memerlukan beberapa penyesuaian dalam resepnya, seperti penggunaan pasta tomat yang lembut di bagian dasar untuk mencegah adonan mengering saat dimasak di oven, serta pengembangan keju yang bisa tahan terhadap pembekuan.

Seiring dengan menjamurnya kendaraan bermotor di jalanan, pizza hangat tidak hanya dapat dinikmati di restoran tetapi juga di rumah. Keberadaan motor memungkinkan pengiriman makanan fresh yang baru dimasak langsung ke rumah konsumen.

Domino’s, yang didirikan oleh Tom dan James Monaghan di Michigan pada tahun 1960, menjadi salah satu pionir dalam pengiriman cepat pizaa. Ekspansi Domino’s ke seluruh Amerika dan kemudian ke luar negeri membuka jalan bagi perusahaan lainnya untuk meniru model pengiriman ini.

Pizza sendiri baru masuk ke Indonesia pada 1984 melalui PizaaHut yang membuka outlet pertamanya di Djakarta Theatre. Sejak saat itu, pizaa menjadi salah satu makanan yang populer dan dikenal di Indonesia.

Baca juga: Mengintip Jejak Kuliner pada Masa Kolonial

Ekspansi restoran lainnya seperti Domino’s dan Papa Ron’s juga turut memperluas popularitas makanan ini di Indonesia. Meskipun awalnya dianggap sebagai makanan asing, pizza kini telah menjadi salah satu favorit dalam berbagai pilihan hidangan di Indonesia.

Referensi

Barrett, L. (2014). Pizaa, A Slice of American History. Voyageur Press (MN).

Helstosky, C. (2008). Pizaa: a global history. Reaktion books.

Miller, B. M. (2014). The evolution of a fast food phenomenon: the case of American pizzza. In The Routledge History of Food (pp. 249-269). Routledge.

Nowak, Z. (2014). Folklore, fakelore, history: Invented tradition and the origins of the pizzza margherita. Food, Culture & Society17(1), 103-124.

Ovadia, D. (2008). A history of pizaa. In Bubbles in Food 2 (pp. 411-423). AACC International Press.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *