Antara Stigma dan Wabah: Sejarah Penyakit Sifilis

Kemunculan penyakit sifilis pada akhir abad ke-15 menggemparkan penduduk Eropa. Penyakit ini bagaikan api yang menyebar cepat ke seluruh Eropa. Sifilis menyebar tanpa memandang status sosial, mulai dari pengemis hingga bangsawan, tidak ada yang luput dari penyakit tersebut.

Asal Usul Penyakit Sifilis

Mengenal sejarah penyakit sifilis harus dimulai dengan upaya untuk mengetahui asal usul penyakit tersebut. Namun, hingga saat ini perdebatan tentang asal usul sifilis masih terjadi.

sifilis
Ilustrasi medis paling awal tentang penderita sifilis, Wina, 1498.

Salah satu hipotesis yang banyak diyakini adalah hipotesis Kolumbia. Hipotesis itu menyatakan pelaut Colombus yang datang di Amerika pada 1492 membawa penyakit tersebut sekembalinya ke Eropa pada 1493 (Baker, 1988). Karena tidak lama berselang muncul wabah pertama sifilis yang menjangkiti pasukan Prancis selama Perang Napoli 1495.

Sebuah studi yang mengintegrasikan peta bukti palaeopatologis di seluruh dunia dengan model evolusi berdasarkan analisis genetik spesies Treponema dari seluruh dunia mendukung Hipotesis Kolumbia.

Dalam studi itu dijelaskan bahwa Treponema pallidum pertama kali muncul di Eropa sebagai infeksi non-penyakit kelamin, yang kemudian menyebar ke Timur Tengah dan Eropa Timur dalam bentuk sifilis endemik, dan kemudian ke Amerika dalam bentuk frambusia.

Strain T. pallidum dari Amerika dalam perjalanannya kemungkinan mengalami mutasi genetik dan dibawa kembali ke Eropa oleh rombongan pelaut. Akhirnya, muncul nenek moyang strain T. pallidum penyebab sifilis modern (Harper, 2008).

Baca juga: Penyebaran penyakit kelamin di Hindia-Belanda

Sebuah studi yang lebih baru menggunakan pengurutan seluruh genom menunjukkan bahwa isolat T. pallidum yang dikumpulkan dari pasien sifilis dari 13 negara di Eropa, Amerika, dan Asia semuanya memiliki nenek moyang sama yang muncul setelah abad ke-15 (Arora, 2016).

Tidak ada bukti kuat yang mendukung keberadaan sifilis di Eropa sebelum tahun 1500-an. Bahkan, tidak ditemukan pula di manuskrip Cina Kuno yang selama ini banyak menjelaskan penyakit di Eropa.

Nama penyakit ini berasal dari puisi berjudul “Sifilis, Sive Morbus Gallicus” (“Sifilis, atau Penyakit Prancis”), yang ditulis oleh penyair dan dokter Italia Girolamo Fracastoro pada tahun 1530. Puisi tersebut menceritakan kisah seorang gembala bernama Syphilus yang menghina Dewa Matahari, Apollo, atas kekeringan yang menyebabkan ternaknya mati. Apollo yang murka kemudian memberinya hukuman penyakit mengerikan.

Jared Diamond (1997), dalam karyanya Guns, Germs and Steel, menjelaskan “Ketika sifilis pertama kali muncul di Eropa pada tahun 1495, gelembung nanah seringkali menutupi tubuh dari kepala hingga lutut penderitanya, daging berjatuhan dari wajah, dan menyebabkan kematian dalam beberapa bulan.”

Sejak awal kemunculannya, sifilis telah menjadi penyakit yang distigmatisasi dan dianggap memalukan. Setiap negara yang penduduknya terkena infeksi menyalahkan negara lain atas wabah tersebut.

Pernah pada suatu waktu, penduduk Eropa saling menyalahkan atas munculnya wabah sifilis. Penduduk Italia, Jerman, dan Inggris menamakan sifilis ‘penyakit Prancis’, orang Prancis menamakannya ‘penyakit Neapolitan’, orang Rusia memberi nama ‘penyakit Polandia’, orang Polandia menyebutnya ‘penyakit Jerman’, Orang Denmark, Portugis dan penduduk Afrika Utara menamakannya ‘penyakit Spanyol/Castilian’ dan orang Turki menciptakan istilah ‘penyakit Kristen’ (Rothschild, 2005).

Sifilis menyebar dengan cepat ke seluruh Eropa seperti api yang menjalar. Laura M. Gough (2005), mencatat bahwa kondisi perang berandil besar dalam penyebaran wabah sifilis pertama.

Wabah itu terjadi bersamaan dengan invasi tentara Prancis ke Italia. Perang berlangsung selama 30 tahun dan selama perang terjadi sifilis menyebar dengan cepat melalui prostitusi dan pemerkosaan.

Para tentara yang terjangkiti dari kedua belah pihak merupakan tentara bayaran yang berasal dari seluruh Eropa. Setelah perang usai mereka kembali ke kampung halaman sebagai agen penyebar sifilis.

Berbeda dengan sifilis masa kini, yang gejalanya tercerung ringan. Pada masa lalu, gejala yang ditimbulkan sangat parah dan penyebarannya lebih cepat. Tidak jarang kasus fatal terjadi. Hal ini penduduk tidak punya waktu yang cukup untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tersebut.

Menular Tanpa Memandang Status Sosial

Penularan penyakit seksual selalu dikaitkan dengan pergaulan bebas dan kelompok penduduk yang rentan. Namun faktanya, penyebaran cepat sifilis terbukti tidak mengenal geografis, rasa atau kedudukan sosial. Banyak tokoh-tokoh besar sejarah yang tidak terhindar dari penyakit sifilis.

Casanova terkenal karena pesona dan teknik rayuannya yang luar biasa. Namun, sebagian besar pasangan seksualnya adalah pelacur dan ini menjadi alasan mengapa ia menderita gonore empat kali, kankroid lima kali, sifilis dan herpes genital (Weissfeld, 2009).

Selain itu pelukis terkenal seperti Eduard Manet, Paul Gauguin, Vincent van Gogh dan Goya, serta komposer seperti Ludwig van Beethoven, Robert Schumann dan Franz Schubert diperkirakan juga menderita sifilis.

Sifilis juga menjangkiti para bangsawan. Salah satu contohnya adalah Tsar Ivan IV Vasilievici, Pangeran Moskow (1530-1584) yang terkena penyakit sipilis setelah kematian istrinya. Raja Henry III dan Charles V dari Prancis, Henry VIII dan George IV dari Inggris, Paul I dari Rusia dan Maximilian I dari Kekaisaran Romawi Suci adalah contoh lainnya.

Bahkan para filosof, yang biasanya dianggap memiliki pikiran kritis dan tidak mudah tergoda pesona lawan jenis, juga menderita penyakit sipilis. Di antara filosof paling terkenal yang menderita penyakit ini adalah Friedrich Nietzsche (1844-1900) dan Arthur Schopehnauer (1788-1860) (Wright, 1971).

Pengobatan

Penyakit menular seksual dipandang sebagai penyakit tunggal selama berabad-abad. Pembedaan antara gonore, kankroid dan sifilis sebagai penyakit baru dilakukan pada abad ke-19.

Pada abad ke-16, terdapat 2 metode pengobatan untuk penyakit ini, yakni menggunakan ramuan guaiakum atau merkuri. Dalam perkembangannya, merkuri menunjukkan tingkan keberhasilan yang lebih tinggi.

sifilis
Penemuan guaiakum sebagai obat sifilis.

Sayangnya, banyak penyakit dan kematian yang muncul akibat dari penggunaan merkuri. Meskipun demikian, merkuri terus digunakan selama lebih dari 200 tahun, sampai identifikasi T. Pallidum sebagai agen etiologic sifilis pada 1906.

Penemuan ini memungkinkan ilmuwan untuk melakukan skrining dan mengembangkan agen terapeutik baru. Pada tahun 1910, Salvarsan, pengobatan efektif pertama untuk penyakit ini ditemukan.

Obat baru yang lebih aman yang menggantikan salvarsan yang masih dianggap beracun adalah Neosalvarsan. Obat ini juga berasal dari senyawa arsenik. Baik Salvarsand dan Neosalvarsan kemudian digantikan oleh Penisilin, yang menjadi pengobatan utama sifilis setelah 1940 (Forrai, 2011).

Daftar Pustaka

Arora, Natasha et al. “Origin of modern syphilis and emergence of a pandemic Treponema pallidum cluster.” Nature microbiology vol. 2 16245. 5 Dec. 2016, doi:10.1038/nmicrobiol.2016.245.

Baker, Brenda J., et al. “The origin and antiquity of syphilis: paleopathological diagnosis and interpretation [and comments and reply].” Current anthropology 29.5, 1988.

Diamond, Jared. Guns, Germs and Steel. New York: W.W. Norton, 1997.

Forrai, Judit. “History of different therapeutics of venereal disease before the discovery of penicillin.” Syphilis-Recognition, Description and Diagnosis, In Tech (2011): 37-58.

Harper, Kristin N et al. “On the origin of the treponematoses: a phylogenetic approach.” PLoS neglected tropical diseases vol. 2,1 e148. 15 Jan. 2008, doi:10.1371/journal.pntd.0000148.

McGough, Laura J. “Syphilis in history: a response to 2 articles.” Clinical Infectious Diseases 41.4, 2005.

Rothschild, Bruce M. “History of syphilis.” Clinical Infectious Diseases 40.10 (2005): 1454-1463.

Weissfeld, Alice S. “Infectious diseases and famous people who succumbed to them.” Clinical Microbiology Newsletter 31.22, 2009.

Wright, A. Dickson. “Venereal disease and the great.” British Journal of Venereal Diseases 47.4, 1971.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *