Revolusi Prancis (1789-1794)

France Revolution
France Revolution

Revolusi sering diartikan dengan perubahan yang cepat. Namun dalam hal ini, Revolusi diartikan sebagai perubahan mendasar (radical change). Hal ini dikarenakan revolusi akan menghantarkan suatu Negara kepada perubahan-perubahan mendasar di segala bidang, seperti kebudayaan, ekonomi, sosial, ideologi, dan lain sebagainya. Pada dasarnya, revolusi itu terjadi dikarenakan adanya kondisi penting dari suatu Negara, yang kemudian melahirkan perlawanan dan akhirnya menghasilkan perubahan-perubahan mendasar. Kondisi penting yang dimaksudkan biasanya adalah kondisi dimana sebuah Negara terjadi banyak tekanan-tekanan yang dialami oleh masyarakat “kecil”. Tekanan yang mereka alami kemudian memunculkan “actor” untuk mempelopori perlawanan terhadap rezim-rezim yang berkuasa. Jika perlawanan tersebut berhasil, maka akan terciptalah perubahan-perubahan dari suatu Negara tersebut dengan ditumbangkannya rezim lama dan diganti dengan rezim yang baru, seperti yang terjadi pada revolusi Prancis.

Revolusi Prancis (1789-1794) yang digaungkan melalui tiga kata, yakni liberte, egalite, et fraternite (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan) menurut seorang tokoh bernama Alexis de Tocqueville merupakan revolusi yang paling munomental.[1] Kondisi Prancis menjelang revolusi masih berada kokoh di bawah kekuatan monarki di bawah kekuasaan mutlak raja Louis XVI. Namun ketika Robespierre berhasil menggerakkan massa untuk melakukan perlawanan terhadap L’ Ancien Regiem (rezim lama), maka disaat itulah terjadi perubahan-perubahan mendasar terhadap Prancis.

Banyak hal menarik terkait revolusi ini. Maka dari itu, dalam pembahasan berikutnya akan coba dipaparkan lebih lanjut hal-hal terkait revolusi Prancis (1789-1794).

 Keadaan Prancis Menjelang Revolusi

L’ Ancien Regiem atau yang biasa disebut dengan Rezim Lama Prancis, merupakan masa dimana Prancis berada dibawah kekuasaan mutlak Monarki Absolut pimpinan raja Louis XVI. Rezim ini disebut juga dengan sistem ekonomi yang usang[2]. Pada dasarnya, rezim ini bagi masyarakat Prancis terkhusus bagi para petani merupakan ketersediaan lahan, penanaman gandum, serta cara-cara tradisional yang digunakan untuk bercocok tanam.

Pada tahun 1708 dan 1741, Prancis mengalami masa-masa yang sangat krisis. Keadaan ekonomi dan sosial Prancis masa itu sedang dilanda kelangkaan gandum yang kemudian berimbas pada tingginya harga roti. Tingkat klimaks dari keadaan ini adalah meluasnya kelaparan yang kemudian mengakibatkan kematian penduduk yang jumlahnya terlalu banyak, terutama penduduk yang berasal dari kalangan miskin. Keadaan ini diakibatkan baik karena faktor alami maupun faktor-faktor lainnya, seperti perang yang disertai dengan perampokan serta tindakan-tindakan kriminal lainnya.

Tingkat sosial masyarakat Prancis pada masa ini setidaknya terdiri atas tiga lapis masyarakat, yakni kaum Bangsawan, kaum Borjuis[3], dan masyarakat miskin yang biasanya hanya berkedudukan sebagai petani yang mengolah tanah-tanah di Prancis dengan cara-cara yang masih tradisional. Keadaan para petani Prancis masa masa rezim lama ini dapat dikatakan sangat penuh dengan tekanan. Mereka harus terikat dengan kaum-kaum feodal yang menguasai tanah-tanah yang mereka garap. Hampir tidak ada tanah yang terbebas dari “hukum tertinggi” kaum bangsawan tuan tanah, sehingga semua tanah yang digarap oleh para petani harus terikat pada hukum feodal. Sedangkan kaum Borjuis mulai memunculkan dirinya ketika Prancis telah mengalami kemajuan ekonomi. Mereka secara diam-dia telah masuk kedalam masyarakat feodal serta telah berhasil membeli tanah-tanah dan menjadi tuan tanah. Keadaan para petani menjadi lebih mengkhawatirkan lagi dengan diberlakukannya pajak[4] yang besar yang harus mereka bayar terhadap tuan tanah baik dalam bentuk uang maupun hasil bumi.

Dalam aspek keagamaan, Prancis didominasi oleh agama Katolik yang telah diresmikan sebagai agama Negara, berdasarkan statute yang ditentukan oleh Concordat pada tahun 1516. Hal ini berimbas pada pengakuan secara hukum bahwa seluruh masyarakat Prancis adalah Katolik. Namun meskipun demikian, terdapat dua minoritas keagamaan di Prancis, yakni Protestan dan Yahudi. Sekitar enam ratus ribu masyarakat yang beragama Protestan, terutama di daerah Midi yang kemudian berhasil mendapat pengakuan pada tahun 1787. Sedangkan Yahudi terkenal sebagai orang asing di daerah Alsace dan di bagian Barat Daya Prancis.[5]

Dalam aspek politik, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Prancis pada masa Rezim Lama berada di bawah pemerintahan seorang raja dengan sistem Monarki Absolut. Raja merupakan pemimpin birokrasi yang dipusatkan di Istana Versailles, dan penjara Bastille merupakan lambang dari rezim ini. Raja-raja di Prancis memegang peran ganda, yakni sebagai penguasa semua tuan tanah dan juga sebagai seorang feodal, pemilik terbesar kerajaan.

Pada masa pemerintahan raja Louis XVI[6] Prancis mengalami masa-masa yang sangat kritis, baik dari aspek ekonomi maupun pemerintahan. Dari segi ekonomi, terjadi penurunan harga gandum yang berlangsung cukup lama. Dalam bidang sosial terjadi pertentangan antar kaum bangsawan dengan kaum borjuis. Di kalangan istana, orang-orang terus menerus menjaga keutuhan kekuasaannya. Sementara ide-ide reformasi yang berkembang terkhusus di kota Paris terus mencanangkan adanya reformasi. Sedangkan raja Louis XVI semakin tidak berdaya terhadap keadaan Negara yang sedang dipimpinnya.

Raja Louis XVI memiliki seorang istri bernama Marie Antoinette yang sangat tidak disenangi oleh rakyat. Sang ratu dijuluki sebagai I’ Austrichienne (si wanita dari Austria) dan juga Madame Deficit (nyonya penyebab deficit). Ia memang merupakan seorang wanita Austria sekaligus menjadi agen rahasia untuk ibu dan kakaknya, yakni ratu Marie Therese dan Joseph II. Sang ratu merasa sangat tidak puas atas pernikahannya dengan raja, sehingga ia bernafsu untuk terjun ke dunia perpolitikan di kerajaan. Julukan kedua, “nyonya penyebab deficit”, merupakan julukan yang diberikan rakyatnya kepadanya dikarenakan gaya hidup sang ratu yang sangat mewah dan boros, serta mempengaruhi gaya hidup seluruh kerabat istana kerajaan Prancis. Selain itu, ratu juga dicatat dalam sejarah sebagai play-girl kelas elit, yang mengkhianati suaminya bersama teman-teman karibnya.[7] Kebencian rakyat terhadap ratu semakin besar ketika peristiwa 1786, yakni “Peristiwa Kalung”[8].

Apa yang telah dipaparkan sebelumnya merupakan keadaan yang kemudian akan mengantarkan Prancis ke gerbang revolusi. Selain itu, ada sebab khusus yang akhirnya akan mencetuskan revolusi Prancis ini, yakni pengaruh dari perang kemerdekaan Amerika Serikat. Prancis mencampuri urusan perang Amerika dengan keuangan yang bejat. Necker (Jacques)[9] yang pada saat itu menguasai bidang tersebut, berpaling ke jalan pintas dengan menerapkan sistem pinjaman. Ia memanipulasi laporan anggaran Negara, yang kemudian menghantarkan penuntutan pemecatannya oleh ratu Marie Antoinette.

Terjadinya Revolusi Prancis

awal rvolusi
revolusi Prancis

Di Prancis, mulai tahun 1789 revolusi akan melangkah lebih jauh. Keterpaduan perlawanan antara kaum bangsawan, borjuis, dan petani sekitar awal bulan Agustus akan menghasilkan runtuhnya rezim lama. Batasan tahun yang digunakan, adalah dari tahun 1789-1794. Berdasarkan data yang ditemukan oleh penulis, ditemukan bahwa tahun 1789 merupakan penyerangan yang dilakukan oleh golongan revolusioner terhadap penjara Bastille, sedangkan tahun 1794 merupakan runtuhnya rezim republik Prancis yang dipimpin oleh Robespierre[10].

Pada awal Juli, perasaan panik yang menyeluruh berkecamuk di daerah pedesaan Normandie. Di kota-kota terutama Paris suasana semakin tegang. Para bangsawan dan kaki tangan mereka mulai diancam. Pada tanggal 14 Juli rakyat Paris bangkit dan dengan menyerang gudang-gudang senjata, merebut Bastille[11], yang digunakan pula sebagai penjara Negara dan merupakan lambang kesewenang-wenangan raja.[12]

Pada selasa, 14 Juli 1789, sekitar Sembilan ratus penduduk Paris berkumpul di sekitar penjara Bastille. Tujuan mereka adalah merampas amunisi, kemudian menuntut agar meriam diserahkan kepada milisi Paris. Penjara Bastille saat itu sedang dijaga oleh 82 invalides. Laskar tersebut diperkuat pula oleh 32 pasukan dari resimen Swiss Salis-Sanade. Pengawalan yang minim jelas membuat panik gubernur Bernard-Rene De Launey yang juga merangkap sebagai kepala penjara.[13]

Pukul seuluh pagi, ada dua orang yang diutus untuk menemui De Launey. Namun pertemuan tidak membuahkan hasil, hingga massa-pun mulai beringas, dan akhirnya terdengar pekikan lantang, “serbu Bastille!”. Situasi yang mencekam itu kemudian menggugah de Launey untuk meledakkan 250 tong mesiu. Bequard –seorang prajurit- membujuk de Launey untuk tidak melakukkannya karena akan banyak warga yang terpanggang hidup-hidup. Pukul 15.30 waktu setempt, tentara sipil dan barisan rakyat memperkuat Sembilan ratus masyarakat Paris. Bestille akhirnya diserang. Pertempuran itu menewaskan 83 tentara rakyat, 15 mati akibat luka serius, dan 1 orang invalides tewas. Nasib dari Launey sendiri akhirnya harus berakhir tragis. Lehernya dipotong dengan menggunakan pisau lipat oleh Desnot, dan kepalanya dipajang di depan hotel de Ville.revolusi prancis end

Tanggal 14 Juli diperingati sebagai hari nasional Prancis. Para pemberontak Paris membentuk dewan kota pemberontak, pasukan pengawal nasional, dan menciptakan sebuah Kokard berwarna biru, merah (warna-warna Paris), dan putih (warna raja), yang kemudian dijadikan sebagai warna bendera Prancis. Sedangkan lagu kebangsaannya adalah Marseillaise. Revolusi terus menyebar keseluruh Prancis secara kilat. Di semua provinsi rakyat yang bersenjata merebut kekuasaan dewan-dewan kota. Para petani menyerbu Puri seigneur dan menuntut penyerahan arsip-arsip droits feodeux agar dibakar. Pemberontak-pemberontak saling menakuti sehingga terjadi kepanikan besar di tiga perempat luas Prancis selama lima belas hari. Akhir dari pemberontakan oleh petani ini adalah dihapuskannya sistem feodal.[14]

Napoleon1
napoleon bonaparte

Akhir hayat dari raja Louis XVI dan istrinya sangatlah tragis. Pada tahun 1792, Dewan Legislatif membuat dua keputusan penting, yakni menghapus bentuk pemerintahan lama, yakni monarki menjadi republik Prancis, dan menjatuhkan hukuman mati dengan guillotine terhadap Louis XVI dan istrinya, Maria Antoinette, serta para bangsawan istana lainnya yang tertangkap. Eksekusi terhadap raja Louis XVI dilaksanakan pada Januari 1793 pukul 10.20. Ia disembelih dengan pisau buatan Dr. Joseph-Ignace Guilotine. Kepalanya yang terpisah dengan badannya dipertontonkan kepada khalayak ramai. Sedangkan eksekusi terhadap dua ribu orang dilakukan pada September 1792.

Setelah menjadi republik, Prancis dipimpin oleh Robespierre (1793-1794). Namun huru-hara terus berlanjut. Golongan Borjuis akhirnya berhasil menggulingkan kekuasaan Robespierre pada tahun 1975. Kemudian, lima direktur yang terdiri dari Barra, Moulin, Gobier, Roger Ducas, dan Sieyes membentuk pemerintahan direktorat yang berkuasa sampai 1799, dan kemudian dibubarkan oleh Napoleon[15] yang saat itu menjabat sebagai konsul. Pada tahun 1804, Napoleon mengangkat dirinya menjadi kaisar Prancis yang diresmikan oleh Paus Pius VII. Kontribusi dari seorang Napoleon Bonaparte terhadap Prancis adalah dalam bidang militer, meskipun cita-citanya untuk menyatukan seluruh daratan Eropa berakhir dengan kegagalan.[16]

Keadaan Prancis Pasca Revolusi

Revolusi Prancis memang memberi implikasi di segala aspek kehidupan, namun yang paling menonjol adalah revolusi ilmu pengetahuan dan lahirnya faham-faham baru yang sangat signifikan, seperti liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme sebagai perkembangan dari semboyan yang digaung-gaungkan ketika revolusi, yakni Liberte (kebebasan), egaliter (kesamaan), dan fraternette (persaudaraan).

Selain itu, muncul perkembangan ilmu-ilmu alam dengan model fiiska Newton yang mempengaruhi pemikiran filsuf dan kemunculan nama Auguste Comte yang menulis beberapa buku tentang masyarakat pasca-revolusi. Dampak lain yang paling signifikan adalah runtuhnya rezim lama, yakni sistem monarki absolute di bawah pimpinan raja Louis XVI. Rezim lama ini kemudian digantikan oleh tatanan kekuasaan baru, dalam bentuk republik. Maka jadilah Prancis sebagai suatu Negara republik.

Tidak hanya di bidang perpolitikan, revolusi Prancis menghantarkan perubahan di bidang ekonomi di Prancis. Hal yang sangat signifikan adalah penghapusan sistem feodal. Pemungutan pajak yang berlebihan dan sebelumnya sangat membebankan para petani, akhirnya dihapuskan oleh kaum bangsawan dan pendeta. Pembayaran pajak juga diserahkan kepada Negara demi kemajuan bangsa. Di samping itu, rakyat pun berhak memiliki tanah.[17] Di bidang sosial mengahantarkan Prancis kepada pembentukan golongan buruh, petani, dan kaum kapitalis.

Simpulan

Revolusi Prancis yang terjadi pada tahun 1789-1794 merupakan revolusi besar yang kemudian akan melahirkan banyak perubahan mendasar di Prancis. Banyak faktor yang melatar belakangi pecahnya revolusi ini, diantaranya adalah tekanan-tekanan yang dialami oleh para petani, baik tekanan yang berasal dari alam maupun tekanan yang ditimbulkan akibat pajak yang dibebankan kepada mereka. Selain itu, ketidak cakapan dari raja Louis XVI yang saat itu merupakan pemegang tampuk kekuasaan monarki absolute di Prancis juga merupakan salah satu faktor yang menghantarkan Prancis ke revolusi.

Setelah mengalami dinamika yang cukup panjang dan serius, akhirnya penjara Bastille berhasil dikuasai oleh kaum revolusioner pada 14 Juli 1789. Setelah rezim lama berhasil diruntuhkan, maka banyak perubahan-perubahan yang terjadi di Prancis. Diantaranya adalah perubahan sistem pemerintahan yang semula adalah demokrasi absolute kemudian diubah menjadi republik Prancis. Penghapusan sistem feodal juga merupakan salah satu dari dampak pecahnya revolusi di Prancis, serta beberapa dampak lainnya yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Carr, William G. 1991. Yahudi Menggenggam Dunia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Furet, Francois dan Dens Richet. 1989. Revolusi Prancis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Godechot, Jacques. 1989. Revolusi Di Dunia Barat (1770-1790). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Santoso AZ, Lukman. 2014. Para Martir Revolusi Dunia Seajara, Pemikiran, dan Gebrakan Mereka Bagi Dunia. Yogyakarta. Palapa.

Widjanarko S. (ed). 1991. Negara dan Revolusi Sosial: Suatu Analisis Komparatif Tentang Prancis, Rusia, dan Cina. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Website:

http://windiloviyo.blogspot.co.id/2011/03/revolusi-perancis.html, diakses pada Senin, 16.43 WIB.

[1] Lukman Santoso AZ, Para Martir Revolusi Dunia Seajara, Pemikiran, dan Gebrakan Mereka Bagi Dunia (Yogyakarta: Palapa, 2014), hlm. 12.

[2] Disebut sebagai sistem ekonomi yang usang dikarenakan perjuangan masyarakat Prancis untuk merebut kebutuhan hidup materiil dari alam –terlebih dahulu, dan terutama adalah roti-, masih menampakkan cara-cara yang kuno sekali. Hal ini mengandung perpaduan antara penggunaan teknik tradisional, demografi alami, dan ketidak pastian nasib.

[3] Kaum Borjuis merupakan orang-orang kebanyakan yang menjadi kaya karena berdagang atau karena meminjamkan uang dengan bunga yang amat tinggi (lintah darat), atau yang biasa disebut dengan rentenir.

[4] Berkaitan dengan pajak yang berlaku di masa Rezim Lama Prancis, pajak-pajak ini sangat merugikan kaum petani, namun sangat mennguntungkan dua golonga utama dalam kerajaan Prancis, yakni golongan Bangsawan dan golongan gereja. Hidup mereka tidak hanya berasal dari hasil garapan tanah-tanah mereka sendiri, namun juga dari pengambilan sebagain hasil dari penggarapan tanah rakyat. Golongan gereja sendiri mendapat penghasil tambahan yang disebut dengan dime, yakni semacam pajak yang besarnya kira-kira 1/20 seluruh hasil panen kerajaan.

[5] Francois Furet dan Dens Richet, Revolusi Prancis (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989), hlm. 21.

[6] Raja Louis XVI merupakan cucu dari raja Louis XV. Ia dilahirkan pada tahun 1754 M dan menjadi raja pada usia 20 tahun. Dia merupakan seorang keturunan dari Bourbon asli. Raja Louis XVI merupakan seseorang yang gemar berburu, melakukan latihan-latihan di alam terbuka, serta membuat barang-barang kerajinan tangan. Namun ia merupakan seseorang yang sangat pemalu dan penuh keragu-raguan, sehingga hal inilah yang kemudian menjadi salah satu “perbincangan” di kalangan masyarakat Prancis akan kedudukan dan kecakapannya sebagai seorang raja.

[7] William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1991), hlm. 113.

[8] Peristiwa kalung, atau Kalung Permata Ratu merupakan suatu konspirasi yang telah dirancang oleh pihak konspirasi untuk mencoreng nama sang ratu. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1786. Para konspirator membuat surat palsu atas nama ratu untuk memerintahkan seorang perajin membuat kalung dari batu mulia kelas satu, mirip permata dalam dongeng. Batu permata itu seharga seperempat juta Franc, suatu harga yang sangat tinggi pada waktu itu. Setelah perajin permata itu selesai mengerjakan instruksi palsu itu, ia membawanya ke istana kerajaan, dan ratupun terkejut serta menolak atas surat serta kalung tersebut. Peristiwa ini membuat nama ratu tercoreng. Tidak hanya sampai disini, pihak-pihak konspirator juga terus melakukan usaha-usaha untuk menjatuhkan nama ratu. Diantaranya adalah mereka mengatakan bahwa ratu telah mendapat hadiah berupa kalung tersebut dari seorang pacar gelapnya sebagai tanda mata setelah keduanya terlibat dalam skandal seks.

[9] Necker merupakan politikus dan ahli keuangan (1732-1894). Menjadi inspektur jenderal keuangan Prancis. Setelah dipecat pada tahun 1781, kemudian diangkat kembali pada tahun 1788. Pemecatannya kembali pada 11 Juli 1789. Taktik ini merupakan konsep dari para konspirator. Necker merupakan “ular berbisa” yang mereka masukkan ke dalam “kamar”, dalam artian bahwa Necker merupakan kaki tangan dari Yahudi.

[10] Robespierre memiliki nama lengkap Maximilien Francois Marie Isidore de Robespierre. Ia dilahirkan pada 6 April 1758 dan meninggal pada 28 Juli 1794. Dalam sebuh sumber menyatakan bahwa ia merupakan salah satu tokoh yang dipersiapkan oleh para konspirator untuk menjalankan rencana besar mereka.

[11] Dalam sebuah literature yang divisualkan oleh pelukis Hubert Robert, penjara Bastille sebagai simbol keangkuhan imperium Prancis tampak sangat kokoh sekaligus angker. Apalagi penjara ini memiliki delapan menara dengan tembok setebal lima kaki dan setiap menara diberi meriam. Di sisi lain, Simon Schama berpendapat bahwa penjara yang berada di Rue San Antoine dan dibangun pada tahun 1369 itu memang dilengkapi dengan lima belas meriam, namun tidak sebesar yang dilukiskan oleh Hubert.

[12] Penyerbuan terhadap penjara Bastille dimaksudkan untuk membebaskan narapidana, agar narapidana tersebut melampiaskan kebenciannya kepada istana, sehingga seluruh kota Paris diliputi oleh iklim pergolakan.

[13] Lukman Santoso AZ, Para Martir …., hlm. 15.

[14] Jacques Godechot, Revolusi Di Dunia Barat (1770-1790) (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989), hlm. 47-48.

[15] Napoleon Bonaparte dilahirkan di Casa Bounaparte, di kota Ajaccio, Korsika pada 15 Agustus 1769, dan meninggal pada Mei 1821 saat berusia 51 tahun. Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan yang berasal dari Italia, lalu pindah ke Korsika pada abad ke-16. Ayahnya bernama Nobile Carlo Bounaparte yang merupakan seorang pengacara. Ibunya bernama Maria Letizia Ramolino. Pada 21 Juli 1771, ia dibaptis menjadi seorang Katolik di katedral Ajaccio.

[16] Widjanarko S. (ed), Negara dan Revolusi Sosial: Suatu Analisis Komparatif Tentang Prancis, Rusia, dan Cina (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1991), hlm. 213.

[17] http://windiloviyo.blogspot.co.id/2011/03/revolusi-perancis.html, diakses pada Senin, 16.43 WIB.

2 Comments

  1. Maaf, diatas tadi disebutkan kalau “…menewaskan 83 tentara rakyat, 15 mati akibat luka serius, 1 orang invalids tewas.”

    Nah, yang dimaksud invalids itu apa, ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *