Menelusuri Sejarah Difabel pada Masa Kuno

Dalam historiografi, tidak banyak catatan yang bisa kita temukan tentang sejarah difabel pada masa kuno. Minimnya catatan sejarah tentang kelompok ini, seolah semakin menguatkan diskriminasi yang dialami difabel. Sehingga diskriminasi tidak hanya terjadi di dalam kehidupan nyata, tetapi juga di dalam historiografi. Untuk menjawab masalah tersebut maka dalam artikel ini kita akan mencoba menyelami kehidupan difabel pada masa kuno hingga abad pertengahan.

Awal Sejarah Difabel

Sepanjang perjalanan sejarah, difabel sulit dilepaskan dari berbagai stigma dan diskriminasi yang selalu menghantui mereka. Perlakuan tersebut membuat para difabel kehilangan haknya sebagai manusia merdeka. Dengan sedikitnya peluang yang mereka miliki, para difabel pun terpaksa hidup sebagai pengemis yang menggantungkan hidupnya terhadap orang lain.

Apabila kita membicarakan tentang difabel pada masa kuno maka tidak banyak catatan yang dapat diperoleh. Akan tetapi beberapa peninggalan dari masa ini membawa pesan, bahwa pada masa lalu para difabel telah menjadi kategori kelompok tersendiri yang terpisah dari masyarakat umum. Mereka pun mendapat sebutan-sebutan peyoratif seperti lillu di Akkadia, moros Yunani kuno, dan morio Amerika Latin yang bisa diartikan bodoh/terbelakang.

sejarah difabel
Seorang musisi kerajaan di Kerajaan Mesir Kuno

Sementara itu, dari peninggalan Mesir Kuno ditemukan peninggalan dalam bentuk ukiran-ukiran yang memperlihatkan beberapa potret difabel (tunanetra) yang bekerja sebagai musisi istana.

Di dalam kepercayaan masyarakat Yahudi, difabel dianggap sebagai bentuk hukuman dari Yahweh, atas pelanggaran yang dilakukan manusia. Sedangkan di Cina, difabel dianggap sebagai orang sakit, catatan pengobatan untuk difabel dengan herbal dan akupuntur tercatat telah ada sejak tahun 1100 SM.

Di Yunani kuno, catatan paling awal tentang kehidupan difabel barangkali muncul saat Homer (sekitar abad 9 SM) mengkisahkan penyair tunanetra Demodokos dalam kisah The Odyssey. Banyak ilmuwan berpendapat bahwa penggambaran Demodokos di dalam kisah itu, merupakan penggambaran dari kehidupan Homer sebagai penyair tunanetra.

sejarah difabel
Homer tengah memainkan alat musiknya

Setelah Homer, ada catatan lain tentang difabel ditulis pada abad ke-5 SM, yakni catatan Herodotus dalam karyanya Histories menuliskan tentang usaha Raja Lydia Croesus mencari informasi untuk menyembuhkan anaknya yang tunarungu. Mirip yang terjadi pada masa sekarang, di dalam kisah ini Croesus mengalami gejolak batin untuk menerima kondisi putranya.  

Dalam catatan dialog Plato di Cratylus (360SM), Socrates sempat menanyakan pertanyaan retoris terkait penggunaan bahasa isyarat oleh tunarungu. Catatan ini sekaligus menunjukkan bahwa penggunaan bahasa isyarat telah digunakan tunarungu pada abad sebelum masehi.

Sementara itu terdapat setidaknya 79 catatan terkait tunanetra pada masa Yunani Kuno. Di dalam catatan itu dijelaskan mengapa kebutaan terjadi, yakni kecelakaan, peperangan, hukuman sosial dan agama. Namun pada perkembangannya, konsep difabel sebagai hukuman dari suatu larangan menjadi yang paling berkembang.

Karena difabel dipandang sebagai suatu bentuk hukuman dari perbuatan yang terlarang maka diskriminasi dan pengucilan terhadap mereka pun muncul. Mereka dianggap sebagai manusia inferior yang kedudukannya lebih rendah dibandingkan manusia lainnya.

Salah satu bentuk diskriminasi paling terang-terangan ditampilkan di hukum konstititusi Romawi. Menurut Susan Wise Bauer, dalam tabel IV Dua Belas Hukum Tabel Romawi disebutkan bahwa “seorang anak yang cacat harus segera dibunuh”. Kebijakan yang sama juga berlaku di Yunani. 

Orang-orang Yunani dan Romawi mendorong pembunuhan bayi untuk menyingkirkan anak-anak yang secara mental atau fisik tidak dapat berkontribusi sebagai warga negara yang kuat. Bahkan Aristoteles dalam Politics menyatakan “About the exposure and parenting, there should be a law prohibiting the nurture of any defective person”.

Perlakuan sadis tersebut menjadi salah satu bentuk diskriminasi paling nyata pada masa itu. Jika sebuah pemerintahan bisa menerapkan hukum seperti ini maka tidak menutup kemungkinan perlakuan kejam lainnya juga terjadi di lapisan masyarakat bawah.

Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada usaha untuk memperbaikan nasib para difabel. Pada abad pertama masehi, Gaius Plinius Secundus dalam Natural History menuliskan catatan tentang pendidikan melukis Quintus Pedius, seorang anak tunarungu putra Senator Roma Quintus Pedius Publicola.  Catatan dari Pliny ini sekaligus menjadi catatan sejarah pendidikan difabel tertua.

Difabel dalam Pandangan Agama

Memasuki abad pertengahan, sulit untuk memisahkan pandangan agama terhadap difabel. Agama yang mulai ditempatkan pada posisi sentral di masyarakat, mengalami pertumbuhan pengaruh yang begitu pesat pada periode ini.

Persinggungan antara agama dan difabel terpusat pada bagaimana difabel diperlakukan di komunitas beragama, pandangan dari kitab-kitab agama, dan wacana para tokoh-tokoh teologis dalam memandang difabel.

Pada  masa ini pandangan terhadap difabel terbagi menjadi dua. Pertama, menjadi seorang difabel dianggap sebagai hambatan atau sebuah bentuk hukuman dari suatu dosa. Kedua, anjuran untuk memperlakukan difabel sebaik-baiknya seperti memperlakukan manusia pada umumnya.

Di dalam kepercayaan Hindu dan Buddha dua pandangan ini berkembang. Sebagain umat pada masa itu percaya difabel adalah bentuk dari karma buruk yang muncul dari tindakan tidak bermoral. Namun di sisi lain, mereka juga percaya bahwa difabel harus diperlakukan sebaik-baiknya dan dikasihani. Perlakuan baik terhadap difabel diharapkan mampu membentuk karma baik di kehidupan mereka selanjutnya.

sejarah difabel
Lukisan Yesus menyembuhkan seorang tunanetra

Menurut Irina Metzler dalam Disability in Medieval Europe: Thinking about physical impairment during the high Middle Ages, di ajaran Kristen abad pertengahan berkembang pula dua cara pandang terhadap difabel. Beberapa pendeta dan sarjana berpandangan bahwa menjadi difabel merupakan hukuman dari Tuhan atas perbuatan dosa, seperti yang disebutkan di Alkitab. Sementara golongan lain berpendapat bahwa para difabel lebih saleh dibandingkan orang-orang non-difabel.

sejarah difabel
Pengemis difabel abad pertengahan

Sementara itu, pandangan yang agak berbeda muncul dalam ajaran Islam. Di dalam ajaran agama ini, difabel dipercaya bukan berasal dari kesalahan difabel atau orang tua mereka, melainkan merupakan ujian yang ditakdirkan oleh Tuhan.

Beberapa pandangan dari abad pertengahan terhadap difabel memang sangat dipengaruhi oleh agama. Pandangan ini bertahan selama ribuan tahun, bahkan hingga sekarang ini.

Daftar Pustaka

Al-Aoufi, Hiam; Al-Zyoud, Nawaf; Shahminan, Norbayah. “Islam and the cultural conceptualisation of disability”. International Journal of Adolescence and Youth. 17 (4), 2012: 205–219.

Albrecht, G. L. (Ed.). Encyclopedia of disability (Vols. 1-5). Thousand Oaks: SAGE Publications, 2006.

Aung, SK; Fay, H; Hobbs RF. “Traditional Chinese Medicine as a Basis for Treating Psychiatric Disorders: A Review of Theory with Illustrative Cases”. Med Acupunct. 25 (6), 2013: 398–406.

Blanks, A. Brooke; Smith, J. David. “Multiculturalism, Religion, and Disability: Implications for Special Education Practitioners”. Daddcec.org. 44 (3), 2009: 295–303.

Herodotus. Histories, Volume I: Books I-II. Terj. A. D. Godley. Cambridge: Harvard University Press, 1975.

Idler, E. L.; Kasl, S. V. “Religion among disabled and nondisabled persons II: attendance at religious services as a predictor of the course of disability”. The Journals of Gerontology. Series B, Psychological Sciences and Social Sciences. 52 (6), 1997: 306–316.

Marschark, M., & Spencer, P. (Ed.), The Oxford Handbook of Deaf Studies, Language, and Education, Vol. 2. Oxford : Oxford University Press, 2003.

Metzler, Irina. Disability in Medieval Europe: Thinking about physical impairment during the high Middle Ages, c.1100-1400. Oxford: Routledge, 2006.

Naemiratch, Bhensri; Manderson, Lenore. “Pity and pragmatism: understandings of disability in northeast Thailand”. Disability & Society. 24 (4), 2009: 475–488

Similar Posts:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *