Sejarah Kondom

Dewasa ini alat kontrasepsi bukanlah hal yang asing bagi masyarakat. Berbagai model alat kontrasepsi hadir menyesuaikan kebutuhan penggunanya. Namun, kondom mungkin menjadi  salah satu alat kontrasepsi yang memiliki lika-liku perjalanan cukup panjang. Pada awal kemunculannya alat kontrasepsi ini bukanlah seperti yang kita kenal sekarang, dibutuhkan waktu  bertahun-tahun untuk berevolusi menjadi seperti sekarang.

Kapan Kondom Ditemukan?

Sayangnya untuk menjawab pertanyaan bukanlah hal yang mudah. Karena di dalam catatan sejarah yang ada banyak data yang terkadang tidak bisa diverifikasi. Seperti yang terdapat dalam monograf John M. Riddle (1992): “Deskripsi publikasi tentang kondom muncul di dalam karya Gabriel Fallopio, De Morbo Gallico chapter 89.

Nama kondom diambil dari Dr. Condom, dokter di istana Charles II (memerintah 1660-1685) dan dipopulerkan oleh Casanova (1725-1788).” Riddle juga menyatakan orang-orang pra-modern telah mengetahui metode untuk mengendalikan kelahiran.

Pernyataan tersebut apabila dibaca oleh orang awam cukup meyakinkan, tetapi setelah dicrosscheck beberapa data yang disampaikan Riddle’s kurang akurat. Pertama, penggunaan sarung terbuat dari kantong empedu hewan untuk menutupi penis telah dianjurkan sejak awal abad ke-10 oleh dokter Persia Al-Akhawayni dalam risalahnya Hidayat al-Muta’ allemin Fi al-Tibb.

Selain itu, tidak ada bukti yang mencatat bahwa Dr. Condom berpraktek di istana Charles II dan tidak ada seorang pun dengan nama tersebut yang merekomendasikan penggunaan kondom. Jacques Casanova de Seingalt sendiri meninggal pada 4 Juni 1798, bukan 1788.

kondom
Gabriel Fallopio

Sementara L. Smith dalam tulisannya berjudul The History of Contraception, menjelaskan bahwa Gariele Falloppio memperkenalkan penggunaan linen yang dililitkan di penis bukanlah untuk mencegah kehamilan tetapi mencegah penyakit sipilis. Falloppio sendiri mengajurkan penggunaan linen itu setelah berhubungan seksual bukan sebelum melakukannya.

Norman Himes (1963) dalam karyanya, Medical History of Contraception, mengaitkan penemuan kondom dengan pekerja rumah jagal abad pertengahan yang memiliki gagasan untuk menutupi penis dengan selaput tipis hewan. Tujuannya untuk melindungi diri dari penyakit kelamin.

Penggunaan istilah ‘kondom’ di dalam sebuah karya ditemukan pada puisi John Wilmot berjudul ‘A Panegyric upon Cundum’ yang ditulis pada tahun 1665. Istilah ‘kondom’ digunakan lagi oleh Lord Behalven di puisinya pada tahun 1706, lalu pada buku dokter Inggris Daniel Turner (1667 – 1742) dalam bukunya Syphilis: a practical dissertation on the venereal disease (1717).

Turner menulis tentang alat kontrasepsi yang terbuat dari ‘kulit’ (sebenarnya terbuat dari kandung kemih atau selaput usus domba yang dilunakkan dengan belerang dan alkali).

Turner menganggap kondom adalah “penjaga kebebasan terbaik,” namun ia juga takut proteksi dari alat ini justru disalahgunakan untuk berhubungan seks dengan pasangan yang tidak sehat.

Kondom Kulit

Kondom paling awal yang ditemukan terbuat dari selaput hewan (usus domba) dan berasal dari tahun 1642 – 1646. Alat tersebut ditemukan selama penggalian yang dilakukan di toilet di Dudley Castle, West Midlands, Inggris pada 1980-an.

Kondom menjadi semakin penting sebagai alat profilaksis. Pada awal abad ke-18 nilainya sebagai alat kontrasepsi semakin dihargai, bahkan kondom dipuji secara luas dalam puisi erotis pada masa itu.

Penjualan kondom kulit pertama yang terorganisir dan berskala besar berlangsung di Utrecht, di Belanda. Selama berbulan-bulan (April 1713-1714) para diplomat dari negara-negara Eropa berkumpul di kota itu untuk membahas

Perjanjian Utrecht. Bersamaan dengan banyaknya para diplomat yang hadir, para pekerja seks komersial dari berbagai wilayah juga turut berkumpul di kota itu.

Pertemuan tersebut juga dikatakan sebagai pertemuan pekerja seks komersial terbesar dalam sejarah umat manusia. Akibatnya, penyakit kelamin menyebar secara eksplosif.

Momen ini kemudian dimanfaatkan seorang wanita untuk memasarkan kondom kulit secara masif. Ia membuka toko kontrasepsi di sudut biara Beguine. Tidak hanya menjual kondom, tapi ia juga menawarkan para pembelinya untuk mencoba langsung kondom terhadap dirinya.

Beberapa orang Inggris membawa perangkat itu kembali ke negara mereka. Tidak lama kemudian kondom kulit diproduksi dan dijual di London. Ibu kota Inggris itu pun menjelma menjadi pusat perdagangan kondom internasional. Rumah-rumah bordil dan psk menjadi ujung tombak pemasaran kondom.

Pada akhir abad ke-18, penjualan alat kontrasepsi ini semakin berkembang dan dipromosikan secara terbuka. Pedagang grosir mengiklankan barang dagangan mereka melalui selebaran.

kondom
Kondom produksi Mrs. Philips

Mrs. Philips dengan toko The Green Cannister di London sukses meraup kekayaan dari penjualan kondom kulit. Selama 35 tahun berkiprah di bisnis itu, ia menjadi penyedia alat kontrasepsi bagi apotek, ahli kimia, duta besar, orang asing dan kapten kapal yang hendak pergi ke luar negeri.

Philips menggambarkan bisnisnya sebagai pembuat dan penjual alat keselamatan yang menjamin kesehatan pelanggannya.

Sebagian besar kondom pada masa ini dibuat dari usus domba, kadang juga dibuat dari gelembung renang ikan. Alat kontrasepsi itu memiliki panjang antara 18 – 20 cm dan diikat dengan pita berwarna di sekitar pangkalnya. Untuk membuat alat kontrasepsi terasa nyaman dan elastis, perangkat perlu direndam dalam air atau susu, lalu diperas sebelum digunakan.

Kondom Karet

Sejak tahun 1870-an, kondom menjadi semakin populer dan mulai menjangkau semua kelas masyarakat. Kemajuan ini tidak bisa dilepaskan dari penemuan teknik vulkanisasi oleh Hancock dan Goodyear pada 1839.

Vulkanisasi merupakan suatu proses yang mengubah karet mentah menjadi bahan elastis yang kuat. Metode ini pertama kali diterapkan pada pembuatan kondom pada tahun 1855.

Di saat bersamaan kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit sifilis semakin meningkat. Karena itu praktisi medis mewajibkan orang-orang yang berkunjung ke rumah bordil untuk memakai pengaman.

Baca juga: Antara Stigma dan Wabah: Sejarah Penyakit Sifilis

Sayangnya, alat kontrasepsi ini hanya tersedia di rumah bordil mewah di pusat kota, sedangkan rumah bordil yang terletak di luar kota jarang tersedia. Alasannya karena harga kondom karet yang mahal dan banyak pria kurang nyaman menggunakannya.

Selama lebih dari setengah abad, kondom karet dibuat dengan cara melilitkan potongan karet mentah di sekitar cetakan berbentuk penis, kemudian mencelupkan cetakan yang dibungkus ke dalam larutan kimia.

Namun, pada tahun 1912, Julius Fromm (1883 – 1945), keturunan Polandia-Yahudi, berhasil mengembangkan teknik manufaktur yang lebih baik. Ia menggunakan cetakan kaca dicelupkan ke dalam karet tipis yang dilarutkan dalam pelarut organik yang mudah menguap seperti bensin atau benzena.

Setelah proses tersebut, pelarut diuapkan hingga meninggalkan lapisan karet. Untuk memperoleh ketebalan selubung karet yang sesuai karet dicelupkan, digosok, dan dipotong berulang-ulang, setelah itu dilakukan vulkanisasi.

Selama Perang Dunia I, pabrik Fromm menyediakan kondom dalam jumlah besar kepada Angkatan Darat Jerman. Hal ini karena tentara dilarang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman di rumah bordil.

Kondom Lateks

Pada 1930-an, alat kontrasepsi ini mulai menggunakan bahan lateks. Bahan ini diperoleh dari emulsi partikel karet kecil dalam air yang langsung diperoleh dari pohon karet. Secara biaya, lateks jauh lebih murah daripada bahan karet, karena ditujukkan untuk sekali pakai.

kondom
Iklan kondom di AS

Di Perang Dunia II, kondom tetap memerankan peran penting dalam menjaga kesehatan para tentara. Di AS, produksi harian alat kontrasepsi untuk para tentara bahkan menembus tiga juta unit perharinya.

Sementara itu, variasi kondom terus berkembang. Kondom berwarna pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan Jepang pada tahun 1949. Kondom berpelumas pertama diperkenalkan pada tahun 1950-an, sedangkan yang dilumasi spermisida ditemukan di Inggris pada 1975.

Saat ini, sebagian besar kondom diproduksi dengan mencelupkan cetakan langsung ke dalam suspensi lateks yang mengandung antioksidan yang distabilkan dengan amonia. Pemurnian dicapai dengan pemanasan diikuti dengan perendaman lapisan lateks ke dalam air panas, kemudian dikeringkan dengan udara hangat dan ditaburi bedak atau bubuk lycopodium.

Berkat perkembangan teknologi seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis, sehingga mengurangi biaya produksi. Kondom lateks yang tersedia saat ini memiliki banyak variasi. Selain memiliki ujung untuk menampung sperma, dilengkapi pula dengan pelumas dan memiliki tekstur dan warna beraneka ragam.

Kondom telah berevolusi mengikut perkembangan teknologi dan permintaan pasar. Tidak seperti pendahulunya, kini bahan yang digunakan lebih tipis dan kuat, tidak lagi memiliki bau yang menyengat, berkinerja lebih baik bagi konsumen, dan lebih aman.

Daftar Pustaka

Himes, NE. Medical History of Contraception. New York: St Martin Press, 1963.

Kruck, Wm E. Looking for Dr Condom. Publication No. 66 of the American Dialect Society USA: University of Alabama Press, 1981

Riddle, JM. Contraception and abortion from the Ancient World to the Renaissance . Cambridge: Harvard University Press, 1992.

Smith L. “The history of contraception” dalam Briggs P, Kovacs G, Guillebaud J (Ed.). Contraception A casebook from menarche to menopause. Cambridge: Cambridge University Press 2013 : 18 – 25.

Turner, D. Syphilis: A practical dissertation on the venereal disease. Farmington Hills: Gale ECCO 2012.

Youssef, H . “The history of the condom.” Journal of the Royal Society of Medicine. Vol. 86, 1993.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *