Sejarah Sistem Aliansi Modern

Aliansi adalah ikatan kerjasama militer atau politik antara dua negara atau lebih. Seringkali sistem ini digunakan untuk tujuan pertahanan, namun di sisi lain terkadang aliansi justru menjadi pemicu perang.

Ketika Sparta membentuk Liga Peloponnesia dan Athena memimpin Liga Delian setelah Perang Persia, perang justru terjadi antara aliansi yang sebenarnya dibentuk untuk menggalang pertahanan dan mencegah perang.

Demikian juga sistem aliansi yang muncul pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia I terbukti menjadi penyebab utama salah satu perang terbesar dalam sejarah umat manusia.

Akar Sistem Aliansi Modern

Akar dari sistem aliansi modern terletak pada situasi yang muncul setelah kemenangan Prusia dalam perang melawan Prancis pada 1870–1971. Perang Prancis-Prusia melahirkan Jerman bersatu. Salah satu konsekuensi utama dari peristiwa ini adalah perubahan keseimbangan kekuasaan ketika Jerman menggantikan Prancis sebagai negara terbesar di Eropa.

aliansi
Otto von Bismark pencetus sistem aliansi modern

Untuk mencegah balas dendam Prancis, pada tahun 1880-an, Kanselir Jerman Otto von Bismarck berusaha mengisolasi Prancis dan mencegahnya mendapatkan sekutu lain yang dapat menimbulkan bahaya bagi Jerman.

Dengan pemikiran ini, Bismarck merancang Liga Tiga Kaisar pada tahun 1873. Liga ini mengikat persekutuan kerajaan konservatif Jerman, Rusia, dan Austria-Hongaria.

Namun aliansi ini tidak berjalan seperti yang diharapkan, karena Rusia dan Austria justru saling bersaing satu sama lain. Ambisi Rusia di Balkan yang didukung oleh semangat Pan-Slavism, bertentangan dengan kepentingan Austria-Hongaria untuk mengontrol wilayah-wilayah ini demi integritas nasionalnya sendiri. Kongres Berlin 1878 mengakhiri Liga Tiga Kaisar.

Satu tahun berikutnya Jerman dan Austria membentuk aliansi ganda secara rahasia. Kekuatan aliansi baru ini bertambah setelah Italia bergabung pada 1882.

Di sisi lain, Bismark tetap berusaha mempertahankan eksistensi Liga Tiga Kaisar dengan memperbarui kerjasama pada 1884. Namun Liga tersebut kembali runtuh pada 1887.

Kanselir Jerman itu terus mengusahakan keberlangsungan Liga Tiga Kaisar dengan menandatangani perjanjian Reasuransi dengan Rusia pada 1887. Namun,setelah Bismarck dicopot dari pemerintahan pada tahun 1890, Jerman mengizinkan Perjanjian Reasuransi untuk berakhir, karena Rusia dan Austria-Hongaria sulit untuk disatukan.

Rusia kemudian termotivasi untuk bersekutu dengan Prancis pada 1894. Kerjasama ini dapat menciptakan kemungkinan perang di dua sisi bagi Jerman.

Dalam keadaan seperti ini, Inggris pun mulai mempertimbangkan keikutsertaan dalam persekutuan. Meskipun pada kenyataannya Inggris lebih sering menjaga jarak dari negara-negara Eropa lain dan menjauhkan diri dari perjanjian.

Dari sudut pandang Jerman, ada dua skenario positif. Pertama adalah Inggris tetap menjaga netralitas dan kedua Inggris menjadi mitra Jerman.

Pada saat yang sama Rusia dan Prancis berharap bahwa Inggris bersedia menjadi sekutu dan memperkuat persenjataan mereka khususnya di laut. Perlombaan untuk memperoleh dukungan Inggris menjadi salah satu isu paling penting pada pergantian abad.

Namun, Jerman membuat kesalahan fatal dalam mengusahakan kerjasama dengan Inggris. Pertama, Jerman tampaknya percaya bahwa mereka tidak perlu melakukan apa-apa untuk merayu Inggris, karena pada akhirnya Inggris akan dipaksa berpihak pada Jerman karena memiliki tradisi perang dengan keduanya dan saling bersaing di Afrika serta India.

Di sisi lain, Inggris khawatir dengan keputusan Jerman untuk mengadopsi program yang menciptakan armada laut kuat. Program Jerman membuat pemerintah Inggris cemas kekuatan Jerman dapat menyaingi Inggris yang selama ini sangat bergantung pada angkatan laut dan menjadi ancaman bagi kedaulatannya.

Oleh karena itu Inggris mempertimbangkan untuk beraliansi dengan Prancis pada tahun 1904 dan Rusia pada tahun 1907 yang lebih serius dalam bernegosiasi. Keduanya menyimpulkan sebuah resolusi wilayah kolonial dan peresmian kontak militer. Persekutuan antara ketiganya dikenal dengan nama Triple Entente.

Hasil ini memaksa Jerman untuk merencanakan tidak hanya perang di kedua sisinya, tetapi untuk perang di mana Britania dapat ikut campur membantu lawan-lawannya.

Krisis di Balkan yang disebabkan oleh pembunuhan Archduke Franz Ferdinand pada tahun 1914 menyebabkan konfrontasi antara Rusia dan Austria-Hongaria atas Serbia. Setia dengan komitmen perjanjiannya, Prancis mendukung Rusia, sementara Jerman mendukung Austria-Hongaria.

Italia yang seharusnya memberikan dukungan kepada Jerman dan Austria justru menolak karena menganggap Serbia tidak bertanggungjawab atas pembunuhan itu.

Dari peristiwa tersebut, sistem aliansi justru memunculkan reaksi berantai ketika negara-negara itu berhadapan satu sama lain. Meskipun pada awalnya sistem itu dibentuk untuk mencegah perang, namun sistem ini terkadang justru menjadi bumerang pemicu perang.

BIBLIOGRAFI

Reiter, Dan. 1996. Crucible of Beliefs: Learning, Alliances, and World Wars. Ithaca, NY: Cornell University Press.

Stokesbury, James L. 1981. A Short History of World War I. New York: Harper.

Stern, Fritz. 1977. Gold and Iron: Bismark, Bleichroder, and the Building of the German Empire. New York: Random House.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *