Turki Utsmani : Periode Kejayaan

wilayah Turki Utsmani
wilayah Turki Utsmani

Kesultanan Turki Utsmani di awal masa pertumbuhan terlebih dahulu memantapkan daerah kekuasaannya di sekitar Anatolia dan juga banyak melakukan ekspansi-ekspansi untuk memperluas wilayah pemerintahannya. Di antara ekspansinya adalah benua Eropa, seperti ke Adrianopel, Macedonia, Bulgaria, Serbia, Bosnia, Herzik dan lain-lain.

Meskipun pada awal pertumbuhannya pernah terjadi serangan Timur Lenk, yakni pada masa Sultan Bayazid I, yang menyebabkan daerah-daerah yang telah dikuasai Utsmaniyah melepaskan diri, namun hal tersebut dapat diperbaiki oleh Sultan Muhammad I dan Sultan Murad II dengan cara mengonsolidasi pemerintahan, membuat perjanjian damai dengan Eropa, dan sebagainya.

Masa Muhammad I dan Murad II, daerah-daerah yang sempat memisahkan, beberapa telah kembali menjadi negeri bawahan Turki Utsmani. Setelah keadaan di dalam negeri telah stabil, dan kuat, maka Kerajaan Turki Utsmani mulai kembali melakukan perluasan meski dalam skala yang lebih kecil.

Periode setelah Murad II, yakni dimulai dari Muhammad II alias Muhammad al-Fatih sampai pada Sulaiman I alias Sulaiman al-Qanuni, merupakan periode kejayaan bagi Turki Utsmani. Salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah telah terjadi di periode kejayaan Turki Utsmani, yaitu penaklukan kota Konstantinopel pada masa kekuasaan Muhammad al-Fatih. Dan puncak kejayaan Turki Utsmani berlangsung pada masa Sulaiman al-Qanuni. Makalah ini akan menjelaskan secara ringkas mengenai ekspansi-ekspansi pada periode kejayaan Turki Utsmani, dan faktor penyebabnya.

Kondisi Kerajaan Turki Utsmani Periode Kejayaan

Periode kejayaan Turki Utsmani dimulai dari tahun 855 H./1451 M. sampai tahun 974 H./1566 M., yakni dari masa Muhammad al-Fatih sampai Sulaiman al-Qanuni. Pada periode ini kejayaan Turki Utsmani meliputi berbagai bidang, meski lebih identik dengan ekspansi-ekspansi.

  1. Muhammad al-Fatih (885 H./1451 M.-886 H./1481 M.)

    al Fatih
    al Fatih

Beliau mewarisi kerajaan dalam keadaan stabil setelah dibenahi oleh pendahulunya yaitu Muhammad I dan Murad II. Keberhasilan utamanya adalah menaklukkan Konstantinopel pada tahun 857 H./1453 M. Konstantinopel merupakan ibukota dari Kerajaan Byzantium, yang pada saat itu dipimpin oleh Kaisar Constantinus IX.

Konstantinopel telah coba ditaklukkan pada masa Umawiyah, Abbasiyah dan juga oleh kakek dan ayahnya sendiri, namun masih gagal. Alasan begitu besarnya keinginan menaklukkan Konstantinopel karena adanya sabda Nabi Saw., juga Konstantinopel merupakan pusat peradaban dan kota yang indah tersebut memliki letak yang sangat strategis.[1]

Penaklukkan Konstantinopel direncanakan dan dipersiapkan dengan sangat baik, serta dipelajari sebab kegagalan penyerangan-penyerangan terdahulu. Sultan mengadakan perdamaian dengan Kaisar dan dengan penuh kesabaran menuruti permintaan-permintaan dari Kaisar. Sultan juga mengikat perjanjian damai dengan Maghyar, Bosnia, Venezia dan Huynade, dan menaklukkan negara-negara Eropa Timur seperti Yunani, Bulgaria, Serbia, Montenegro, dan lain-lain. Setelah itu dibangun sebuah benteng di selat Bosporus yang terkenal dengan nama Rumli Hisar pada 856 H./ Agustus 1452 M.[2] Di sinilah dikumpulkan persediaan perang untuk menerjang Konstantinopel.

Di sisi lain, Kaisar Constantinus IX memohon bantuan kepada Paus di Roma dan kerajaan-kerajaan di Eropa Timur dan Eropa Barat, namun hal itu tidak mendapat respon positif dari Paus dan raja-raja lainnya, bahkan cemoohan didapat Kaisar dari rakyatnya karena dianggap telah berkhianat dan merendahkan martabatnya sendiri. Akhirnya, hanya pasukan Vinisia saja yang mau membantu. Tentara Vinisia itu merintangi kapal-kapal Utsmani dengan merentangkan rantai besar di selat Bosporus.[3]

Pada 6 April 1453 M, pasukan Turki Utsmani sebanyak kira-kira 250.000 mengepung Konstantinopel, Selama 53 hari kota itu digempur dengan meriam-meriam, sehingga hancurlah benteng-benteng pertahanan Konstantinopel. Akhirnya pada 28/29 Mei 1453 M, Konstantinopel menyerah. Sedangkan Kaisar Constantinus IX tewas terbunuh. Sejak saat itu, Sultan mengubah namanya menjadi Istanbul dan menjadikannya sebagai ibukota Kerajaan Turki Utsmani. Setelah itu, penaklukkan berlanjut ke Athena, Mora, Trabzun, Bosnia, pulau Aga Karman, pulau Venezia, Kroasia, Sekudra, dan Toronta.

  1. Bayazid II (886-918 H./1481-1512 M.)

    Bayasid II
    Bayasid II

Sultan Bayazid II berbeda dengan ayahnya, Sultan Muhammad al-Fatih. Beliau seorang yang lemah lembut, lebih suka berdamai dengan musuh, dan zuhud, sehingga lemah dalam mengatur pemerintahan. Akibatnya, beliau tidak terlalu disegani dan ditaati rakyat.

Pada masanya timbul beberapa kekacauan seperti persaingan antara anak-anaknya mengenai putra mahkota. Juga terjadinya peristiwa pengusiran kaum Muslim dari Granada, yang mana saat itu mereka meminta bantuan kepada Turki Utsmani, namun tidak dapat dikabulkan karena kekacauan yang terjadi. Peristiwa lainnya adalah bangsa Portugis yang menaklukkan kerajaan Islam Malaka, namun kerajaan Turki tidak dapat berbuat apapun. Meskipun begitu, pada masanya perluasan wilayah meluas ke Transilvania, Moldova, Cypus, dan Naxos.[4]

  1. Salim I Yavus (918-926 H/1512-1520 M)

    Salim I
    Salim I

Salim I adalah putera Bayazid II. Beliau mendapat tahta kerajaan setelah Sultan Bayazid II mengundurkan diri sebagai Sultan. Pada awal pemerintahannya, beliau menumpas perlawanan saudara-saudaranya dan anak-anak saudaranya.

Untuk fokus menyerang Safawiyah, Salim I mengadakan perjanjian damai dengan Maghyar (Hongaria), Venezia, Moskow, dan Mamluk. Bentrokan dengan kerajaan Safawiyah terjadi di Kaldera tahun 1514. Dalam bentorkan itu, Safawiyah menyerah pada pasukan Janissari Turki dan pasukan Turki berhasil menduduki Tibriz, Mesopotamia, dan sebagian wilayah Armenia.[5] Mamluk yang melakukan perjanjian damai dengan Turki Utsmani, ternyata bersekutu dengan Safawiyah, maka pada 24 Agustus 1516 di Marja Dabiq terjadi pertempuran antara Mamluk yang dipimpin Sultan Qanshawah al-Ghawri dengan Turki Utsmani yang dimenangkan Turki Utsmani, sehingga Suriah dapat dikuasai. Dari sini, serangan berlanjut ke Mesir, di mana Thuman Bey, Sultan Mamluk terakhir berkuasa. Kedua pasukan bertempur pada 22 Januari 1517 di luar kota Kairo dan lagi-lagi Mamluk dapat ditaklukkan.

Setelah berakhirnya pemerintahan Mamluk, Khalifah al-Mutawakkil memindahkan kedudukannya secara formal kepada Sultan Salim I dengan memberikan Bendera Nabi, Jubah Nabi dan Pedang Umar bin Khattab.[6] Selain itu, sebab kehancuran Mamluk, maka otomatis Mekkah dan Madinah yang di bawah Mamluk takluk pada Turki Utsmani. Daerah-daerah lain yang dikuasai pada masa Salim I adalah Kurdistan, Aljazair.

  1. Sulaiman al-Qanuni (926-974 H/1520-1566 M)

    Sulaiman al Qanuni
    Sulaiman al Qanuni

Sulaiman diberi gelar al-Qanuni karena dia menetapkan undang-undang yang harus diikuti dan orang-orang Eropa memanggilnya “the magnificent” atau “the great” karena luasnya kekuasaan pada masa pemerintahannya.[7]

Pada masanya terjadi pertentangan dengan Maghyar (Hongaria) untuk memperebutkan Bosnia yang dimenangkan lewat pertempuran dan Beograd dapat diduduki. Disusul setelah itu dengan pulau Rhodes, Krimia, dan Falakh yang ditaklukkan kemudian. Bangsa Portugis yang berkedudukan di selat Persia, ujung Laut Merah, pantai Yaman dan Aden berhasil dikalahkan oleh Sulaiman Pasya atas perintah dari Sultan. Tunisia pun awalnya dapat dikuasai oleh Khairuddin Pasya, namun segera direbut oleh Kaisar Charles V (Charlemagne). Selain itu, Khairuddin Pasya pun berjasa dalam penaklukkan Afrika Utara.

Pada ke 16 terjadi persaingan antara Prancis yang dipimpin Farncois I dengan Austria Hapsburg yang dipimpin Charles V. 1525 M, Prancis bersekutu dengan Turki Utsmani untuk melawan Maghyar yang bersekutu dengan Austria Hapsburg. Akhirnya Maghyar dikalahkan di Lembah Mohawks, dan rajanya tewas yang kemudian digantikan oleh Joan Zaboli yang diangkat Sultan, namun Ferdinand, raja Oostenrijk, mengklaim dialah yang berhak atas tahta tersebut. Pertikaian keduanya berlangsung lama dan akhirnya pada 1541, daerah tersebut oleh Sultan dibagi menjadi dua serta tunduk pada Turki Utsmani. Meskipun begitu, antara Turki Utsmani dengan Oostenrijk baru pada 1547 diadakan perdamaian antara keduanya. Wilayah kekuasaan Turki Utsmani pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni meliputi tiga benua, yaitu Asia, Eropa dan Afrika.

Selain Berjaya dalam bidang ekspansi, pemerintahan dan militer, Turki Utsmani mengalami kemajuan di periode ini dalam bidang ekonomi dengan banyaknya wilayah pusat perdagangan yang dikuasai, bidang kesenian dengan berkembangnya syair-syair, bidang arsitektur dengan banyaknya masjid-masjid dan bangunan lainnya, dan sebagainya.

Faktor Penyebab Kejayaan Turki Utsmani

Beberapa faktor kesuksesan periode kejayaan Utsmani, khususnya dalam perluasan wilayah adalah :

  1. Bangsa Turki adalah bangsa yang penuh mobilitas, bersemangat tinggi, berpandangan jauh dan berjiwa patiot, dan suka berperang (berani, perkasa dan tabah).
  2. Bangsa Turki memiliki kesanggupan besar dalam hal militer, baik darat maupun laut yang terkombinasi dengan keinginan memperoleh ghanimah.
  3. Kerajaan Turki Utsmani terletak di wilayah yang secara geografis sangat strategis.
  4. Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam.
  5. Letak Istanbul sebagai ibukota kerajaan sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke Eropa dan Asia.
  6. Kekacauan yang menimpa kerajaan-kerajaan di sekitar Turki Utsmani, sehingga mudah untuk mengalahkannya.Credit to : Ahmad Labib Majdi

    DAFTAR PUSTAKA

    Amin, Syamsul Munir. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2010.

    Hamid, Abdul dan Yaya. Pemikiran Modern dalam Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2010.

    Kusdiana, Ading. Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan. Bandung: Pustaka Setia, 2013.

    Maryam, Siti, dkk.. Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Masa Modern. Yogyakarta: LESFI. 2009.

    Syaefudin, Machfud, dkk.. Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis. Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013.

    Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Rajawali Pers. 2010.

[1] Lihat Abd. Rahim Yunus, Sejarah Islam Pertengahan, (Yogyakarta: Ombak, 2013). Hlm. 125-126 dan HAMKA, Sejarah Ummat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 236-237.

[2] HAMKA, hlm. 241

[3] Yunus, hlm. 126.

[4] Ading Kusdiana, Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hlm 127.

[5] Philip K Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006), hlm. 899.

[6] Lihat Hasan, hlm. 333 dan HAMKA, hlm. 256.

[7] Hasan, hlm. 334.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *