Genosida Armenia (1894-1923 M.)

Genosida Armenia merupakan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh Kekaisaran Utsmani terhadap jutaan orang Armenia. Pembunuhan massal tersebut dimulai sejak tahun 1894, kemudian bertambah parah pada tahun 1915. Selama Perang Dunia I, para pemimpin pemerintah Turki menjalankan sebuah operasi untuk mengusir dan membantai orang-orang Armenia.

Pada awal 1920-an, ketika pembantaian dan deportasi berakhir, sekitar 600.000-1,5 juta orang Armenia tercatat menjadi korban jiwa genosida itu. Sementara mereka yang masih hidup dipaksa keluar dari wilayah Utsmani.

Dewasa ini, kebanyakan sejarawan menyebut peristiwa ini sebagai genosida (kampanye yang direncanakan dan sistematis untuk memusnahkan seluruh orang). Namun, pemerintah Turki hingga saat ini masih tidak mengakui jumlah korban atau ruang lingkup dari peristiwa-peristiwa ini.

Akar Genosida Armenia

Orang-orang Armenia adalah bangsa yang telah mendiami wilayah Kaukasus di Eurasia selama sekitar 3.000 tahun. Untuk beberapa waktu itu, kerajaan Armenia adalah entitas independent.

Pada awal abad ke-4 M., misalnya, Armenia menjadi bangsa pertama di dunia yang menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi.

Namun, selepas itu Armenia menjadi wilayah yang dikuasai beberapa kekaisaran. Hingga akhirnya pada abad ke-15, Armenia menjadi salah satu wilayah kekuasaan Kekaisaran Utsmani.

Para penguasa Utsmani mengizinkan minoritas agama seperti orang Armenia untuk mempertahankan otonomi, tetapi mereka juga menetapkan kebijakan tidak adil kepada  orang Armenia, yang mereka sebut sebagai “orang kafir”.

Di antara kebijakan timpang itu adalah pembayaran pajak orang Kristen yang lebih tinggi daripada muslim. Selain itu hak politik dan hukum yang mereka dapatkan tidak sebesar pemeluk Islam.

Terlepas dari kendala ini, komunitas Armenia tetap berkembang di bawah kekuasaan Utsmani. Mereka cenderung lebih berpendidikan dan lebih kaya daripada tetangga Turki mereka, yang pada gilirannya iri pada kesuksesan mereka.

Kebencian ini diperparah oleh kecurigaan bahwa orang-orang Kristen Armenia akan lebih setia kepada pemerintah-pemerintah Kristen dibandingkan pada kekhalifahan Utsmaniyah.

Kecurigaan ini semakin akut ketika Kekaisaran Utsmani memasuki periode kemunduran. Pada akhir abad ke-19, Sultan Turki, Abdul Hamid II marah atas usaha orang-orang Armenia yang ingin memperoleh hak-hak sipil dasar. Ia menyatakan tidak segan-segan mengambil langkah tegas untuk memadamkan ambisi revolusioner orang-orang Armenia tersebut.

Pembunuhan Massal Pertama

genosida armenia
Pembantaian Armenia di Istanbul 1895

Antara 1894 dan 1896, Pemerintah Utsmani mengesahkan sebuah pogrom (pembunuhan massal) untuk membasmi pergerakan revolusioner Armenia.

Sebagai respon terhadap protes besar-besaran oleh orang-orang Armenia, para pejabat militer Turki, tentara dan orang-orang biasa menjarah desa-desa dan kota-kota Armenia (Sasun pada 1894 dan Zeitun pada 1895-1896) dan membantai warga mereka. Atas kejadian ini ratusan ribu orang Armenia terbunuh.

Pemerintahan Turki Muda

Pada tahun 1908, pemerintahan baru berkuasa di Turki. Sekelompok reformis yang menyebut diri mereka Turki Muda menggulingkan Sultan Abdul Hamid dan mendirikan pemerintahan konstitusional yang lebih modern.

Pada awalnya, orang-orang Armenia berharap bahwa mereka akan memperoleh hak yang sama di negara baru ini. Namun Turki Muda justru menerapkan kebijakan yang lebih brutal dari pemerintah sebelumnya.

Mereka mengeluarkan slogan nasionalistik yang dikenal dengan Turkifikasi. Dengan slogan ini mereka menganggap orang-orang non-Turki dan khususnya orang-orang Kristen non-Turki merupakan ancaman besar bagi negara.

Pada tahun 1914, Turki memasuki Perang Dunia I dengan bergabung dengan poros Jerman dan Kekaisaran Austro-Hungaria. (Pada saat yang sama, otoritas agama Ottoman menyatakan jihad atau perang suci melawan semua orang Kristen kecuali sekutu mereka.)

Para pemimpin militer mulai berpendapat bahwa orang-orang Armenia adalah pengkhianat. Orang-orang Armenia dituduh berambisi mewujudkan keinginannya jika Sekutu menang, sehingga terdapat kemungkinan terjadi pembelotan.

Kendati demikian, tuduhan pemerintah Utsmani tidak salah. Ketika perang semakin intensif, orang-orang Armenia mengorganisir batalion sukarela untuk membantu tentara Rusia berperang melawan Turki di wilayah Kaukasus. Akibat peristiwa ini, pemerintah Turki mengeluarkan program untuk membinasakan orang-orang Armenia dari zona perang di sepanjang Front Timur.

Genosida Armenia Dimulai

Pada 24 April 1915, genosida Armenia dimulai. Pada hari itu, pemerintah Turki mulai menangkap dan mengeksekusi ratusan intelektual Armenia.

genosida armenia
Orang-orang Armenia dipaksa meninggalkan rumah mereka

Setelah itu, warga sipil Armenia dipaksa keluar dari rumah mereka dan dipaksa berjalan melalui gurun Mesopotamia tanpa makanan atau air.

Seringkali, para demonstran Armenia ditelanjangi dan dipaksa berjalan di bawah terik matahari sampai mereka mati. Orang-orang yang berhenti untuk beristirahat ditembak.

Pada saat yang sama, kaum muda Turki menciptakan “Organisasi Khusus,” yang pada gilirannya mengorganisir “regu pembunuh” untuk melaksanakan genosida.

Regu pembunuh ini sering terdiri atas pembunuh dan mantan narapidana lainnya. Mereka menenggelamkan orang di sungai, melemparkan mereka dari tebing, menyalib mereka dan membakar mereka hidup-hidup. Dalam waktu singkat pedesaan Turki dipenuhi dengan mayat orang Armenia korban pembantaian.

genosida armenia
Orang-orang Armenia disalib selama genosida berlangsung

Beberapa catatan menunjukkan bahwa selama kampanye “Turkifikasi” ini, pasukan pemerintah juga menculik anak-anak, mengubah mereka menjadi muslim dan memberikannya kepada keluarga Turki.

genosida armenia
Anak-Anak yatim piatu Armenia
genosida armenia
Pengungsi Armenia di Aleppo

Di beberapa tempat, mereka memperkosa wanita dan memaksa mereka menikah dengan orang Turki atau melayani sebagai budak. Harta orang-orang Armenia yang dideportasi juga turut disita.

Meskipun laporan bervariasi, sebagian besar sumber menyatakan bahwa terdapat sekitar 2 juta orang Armenia di Kekaisaran Utsmani pada saat pembantaian. Namun pada tahun 1922, ketika genosida berakhir, hanya tersisa 388.000 orang Armenia di Kekaisaran Utsmani.

Setelah Utsmani menyerah pada tahun 1918, para pemimpin Turki Muda melarikan diri ke Jerman yang berjanji untuk tidak mengadili mereka untuk genosida. (Namun, sekelompok nasionalis Armenia menyusun rencana, yang dikenal sebagai Operasi Nemesis, untuk melacak dan membunuh para pemimpin genosida.)

Sejak saat itu, pemerintah Turki membantah bahwa genosida terjadi. Orang-orang Armenia dianggap sebagai kekuatan musuh dan pembantaian mereka merupakan tindakan perang yang diperlukan.

Saat ini, Turki adalah sekutu penting Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, sehingga pemerintah mereka juga enggan mengutuk pembunuhan yang sudah lama terjadi. Namun, pada Maret 2010, dalam sebuah panel, Kongres AS akhirnya memilih untuk mengakui adanya genosida tersebut.

Di Turki sendiri, meskipun ada tekanan dari orang Armenia dan pendukung keadilan sosial di seluruh dunia, masih ilegal untuk berbicara tentang apa yang terjadi pada orang Armenia selama era itu.

BIBLIOGRAFI

Akçam, Taner. 2004. From Empire to Republic Turkish Nationalism and the Armenian Genocide. London: Zed Books.

Bloxham, Donald. 2005. The Great Game of Genocide: Imperialism, Nationalism, and the Destruction of the Ottoman Armenians. Oxford: Oxford University Press.

De Waal, Thomas. 2015. Great Catastrophe: Armenians and Turks In the Shadow of Genocide. Oxford: Oxford University Press.

Similar Posts:

Share the Knowledge!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *