Kerajaan Mataram Islam (1577-1681)

Share the knowledge!
Share on Facebook16Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

mataram islam
Lambang Kerajaan Mataram Islam

Nama Mataram berasal dari nama bunga, sejenis bunga Dahlia yang berwarna merah menyala. Ada juga nama Mataram yang dihubungkan dengan Bahasa Sansekerta, Matr yang berarti Ibu, sehingga nama Mataram diberi arti sama dengan kata Inggris Motherland yang berarti tanah air atau Ibu Pertiwi. Sebelum tahun 1000 M daerah ini telah berkembang suatu peradaban yang ditinggalkan oleh kerajaan Hindu. Pada abad ke-14 sewaktu Majapahit mencapai puncak kejayaan, bumi Mataram rupanya dipandang kurang penting. tidak terdapat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa para raja Mataram kuno yang hidup beberapa abad sebelumnya masih dikenang di Majapahit. Sampai saat ini pun belum ada data-data yang mungkin dapat menghubungkan Mataram Islam yang berdiri akhir abad 16 dengan Mataram kuno. Di cerita Babad Tanah Jawi hanya menyebutkan bahwa tanah Mentaok yang berupa hutan belukar dan kosong penduduknya oleh raja Pajang dihadiahkan kepada Ki Ageng Pemanahan untuk dibuka sebagai balas jasanya dalam mengalahkan Aria Penagsang, musuh sultan Adiwijaya Pada abad ke-16 maka berdirilah kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan di Kotagede. Pada masa ini kerajaan Mataram masih di bawah kekuasaan raja Pajang. Namun pada periode Sutawijaya, Mataram akhirnya dapat menjadi Kerajaan Independent.[1]

Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

Pada mulanya, Mataram adalah wilayah yang dihadiahkan oleh Sultan Adiwijaya kepada Ki Gede Pemanahan. Sultan Adiwijaya menghadiahkannya karena Ki Gede Pemanahan telah berhasil membantu Sultan Adiwijaya dalam membunuh Arya Penangsang di Jipang Panolan. Ki Pamenahan, disinyalir sebagai penguasa Mataram yang patuh kepada sultan Pajang. Ia mulai naik tahta di Istananya di Kotagede pada tahun 1577 M. Di tangan Ki Gede Pemanahan, Mataram mulai menunjukkan kemajuan. Pada tahun 1584 Ki Gede Pemanahan meninggal, maka usaha memajukan Mataram dilanjutkan oleh anaknya yaitu Sutawijaya.[2]

Sutawijaya atau dikenal dengan nama Panembahan Senapati. Sepeninggal ayahnya, ia dilantik sebagai penguasa penting di Mataram menggantikan Ayahnya. Ia seorang yang gagah berani, mahir dalam hal berperang. Sehingga sejak ia masih sebagai pemimpin pasukan pengawal raja Pajang ia telah diberi galar oleh Sultan Adiwijaya, Senapati ing Alaga (panglima perang).

Senapati memiliki cita-cita hendak mengangkat kerajaan Mataram sebagai penguasa tertinggi di Jawa menggantikan Pajang. Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Senapati mengambil dua langkah penting, pertama memerdekakan diri dari pajang dan kedua untuk memperluas wilayah kerajaan Mataram keseluruh jawa. Konflik antara raja Pajang dengan Sutawijaya menghasilkan kemenangan dipihak Sutawijaya. Setelahnya, keturunan Adiwijaya, yaitu pangeran Benawa yang seharusnya menjadi ahli waris kesultanan pajang, menyerahkan tahta kekuasaan kerajaan Pajang kepada Senapati. Sejak saat itu Senapati mengambil gelar Panembahan tahun 1586. Sutawijaya berhasil membangun  Mataram pada tahun 1586. Wilayah yang dikuasai Kesultanan  Mataram adalah Mataram, Kedu, dan Banyumas. Sutawijaya meninggal pada tahun 1601 dan ia menguasai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.[3] Di sebelah timur hanya Blambangan, Panarukan, dan Bali yang masih tetap merdeka. Lainnya tunduk pada kekuasaan Senapati Sedangkan di pantai laut Jawa Rembang, Pati, Demak, Pekalongan mengakui kekuasaan Mataram.[4]

Setelah Sutawijaya meninggal, posisinya sebagai Sultan digantikan oleh putranya yaitu Raden Mas Jolang. Ia diberi gelar Sultan Hanyakrawati. Ia memerintah pada tahun 1601-1613. Pada masa pemerintahannya, sering terjadi perlawanan dari wilayah pesisir, yang merupakan salah satu penyebab mengapa RM Jolang tidak mampu memperluas wilayah Kesultanan Mataram. Dalam menjalankan roda pemerintahan, ia cenderung mengadakan pembangunan dibanding ekspansi. Menjelang wafatnya, RM Jolang menunjuk Raden Mas Rangsang sebagai penggantinya. Setelah dilantik, RM Rangsang diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahaman. Ia memerintah dari tahun 1613-1645. Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Mataram mengalami kejayaan.[5]

Masa Kejayaan Mataram Islam

Raden Mas Rangsang diangkat menjadi raja baru yang memakai nama Sultan Agung Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman. Jika para pendahulunya mengambil ibukotanya di Kotagede, maka Sultan Agung mengambil ibukotanya di Karta. Sultan Agung dikenal dengan politik ekspansinya, sehingga bukan Jawa saja yang ingin dikuasainya melainkan wilayah Nusantara. Musuh-musuh Sultan Agung bukan saja kerajaan-kerajaan  yang ada di pesisir dan kerajaan Hindu di Blambang, tetapi juga para penguasa asing yang berkoloni di Nusantara. Misalnya, Portugis dan Belanda. Oleh karena itu, wajarlah jika semenjak diangkatnya, ia selalu mengangkat senjata dalam rangka menerapkan taktik ekspansi.

Sebagai orang Islam, Sultan Agung selalu menaati ibadah dan menjadi contoh untuk rakyatnya. Setiap hari Jum’at Sultan agung bersama rakyatnya melakukan shalat Jum’at. Dalam tahun 1633 ia membuat tarikh (kalender baru) yaitu kalender Jawa-Islam. Guna memperkokoh kedudukannya sebagai pemimpin Islam, Sultan Agung mengirim utusan ke Mekkah untuk kembali ke Mataram dengan membawa gelar Sultan untuknya dan ahli-ahli agama untuk menjadi penasihat baginya di istana. Gelar dari Mekkah itu lengkapnya adalah Sultan Abu Muhammad Maulana Matarami.

Akan tetapi setelah Sultan Agung wafat pada tahun 1645, para penggantinya lemah-lemah, kejam, dan mengadakan perjanjian dengan Belanda sehingga memberi peluang kepada Belanda untuk berkoloni di Nusantara. Hal ini menimbulkan berbagai kerusakan disana-sini. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan itu muncul mengakhibatkan perpecahan di kalangan bangsa Mataram yang menguntungkan Belanda.[6]

Bidang Perekonomian Kesultanan Mataram

Negara Mataram tetap merupakan negara agraris yang tetap mengutamakan pertanian. Selain beras, Mataram juga menghasilkan gula kelapa dan gula aren. Hasil gula tersebut berasal dari daerah Giring di Guningkidul. Gula kelapa dan gula aren itu diekspor ke luar melalui Tembayat dan Wedi.[7]

Dasar-dasar kehidupan maritim tidak dimiliki oleh Mataram. Pada hakikatnya Sutawijaya memeriksa apakah laut Hindia dapat digunakan sebagai pelabuhan kesultanan Mataram yang sedang dalam taraf pembentukan. Bagaimanapun laut Jawa masih dikuasai oleh orang Tionghoa dari kesultanan Demak pada zaman pemerintahan Dinasti Jin Bun. Selain itu, Ternyata gelombangnya terlalu besar sehingga pembuatan pelabuhan di pantai selatan tidak mungkin. Kesultanan Mataram yang sedang dalam taraf pembangunan tidak berhasil memiliki pelabuhan dan tidak akan menjadi negara Maritim. Kesultanan Mataram hanya akan menjadi negara pertanian karena pusat kerajaannya berada di pedalaman.[8]

Kehidupan Sosial, agama serta Peran Ulama dan Partisipasinya

            Pada masa pemerintahan Sultan Agung, para ulama yang ada di kesultanan Mataram dapat dibagi dalam tiga bagian. Yaitu ulama yang masih berdarah bangsawan, ulama yang bekerja sebagai alat birokrsi, ulama pedesaan yang tidak menjadi alat birokrasi. Sebagai penguasa Mataram, Sultan Agung sangat menghargai para ulama karena mereka mempunyai moral dan ilmu pengetahuan tinggi. Jika ingin membuat kebijakan, Sultan Agung selalu memeinta nasihat dan pertimbangan kepada para ulama.[9]

Ulama pada saat itu sedang konsentrasi menggarap soal Islamisasi terhadap budaya-budaya yang masih melekat di hati masyarakat Mataram. Sunan Kalijaga misalnya, beliau  adalah ulama yang selalu berusaha keras agar ajaran Islam mudah diterima oleh masyarakat yang sudah kuat nilai kepercayaan terhadap ajaran dan doktrin budaya sebelum Islam. Berbagai cara telah beliau tempuh termasuk melalui karya seni yang telah mentradisi di masyarakat.

Memang disadari pindahnya pusat pemerintahan dari pesisir utara Jawa ke daerah pedalaman yang agraris serta telah dipengaruhi budaya pra Islam menimbulkan warna baru bagi Islam yang kemudian disebut dengan Islam Sinkretisme. Demikianlah keadaan Islam semenjak berpusat di Mataram campur tangan budaya setempat yang kemudian terkenal dengan Islam Kejawen.[10]

Penggunaan gelar Sayidin Panatagama oleh Senopati menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya Mataram telah dinyatakan sebagai negara Islam. Raja berkedudukan sebagai pemimipin dan pengatur agama. Mataram menerima agama dan peradaban Islam dari kerajaan-kerajaan Islam pesisir yang lebih tua. Sunan Kalijaga sebagai penghulu terkenal masjid suci di Demak mempunyai pengaruh besar di Mataram. Tidak hanya sebagai pemimpin rohani, tetapi juga sebagai pembimbing di bidang politik. Hubungan-hubungan erat antara Cirebon dan Mataram memiliki peranan penting bagi perkembangan Islam di Mataram. Sifat mistik Islam dari keraton Cirebon merupakan unsur yang menyebabkan mudahnya Islam diterima oleh masyarakat Jawa di Mataram. Islam tersebut tentu adalah Islam Sinkretis yang menyatukan diri dengan unsur-unsur Hindu-Budha.[11]

Namun peran ulama menjadi tergeser semenjak Mataram dikuasai oleh Amangkurat I. Pada saat itu terjadi de-islamisasi. Banyak ulama yang dibunuh sehingga kehidupan keagamaan merosot, sementara dekadensi moral menghiasi keruntuhan pamor Mataram akibat dari campur tangan budaya asing.[12]

Peran di bidang kebudayaan Islam

Peranan kegiatan di bidang kebudayaan pada masa awal berdirinya Mataram, kurang berkembang dikarenakan dua alasan. Pertama, para pendiri Mataram belum punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang spiritual. Perhatiannya lebih tercurah pada soal-soal pembukaan dan pemanfaatan sumber daya alam demi kemajuan ekonomi dan strategi pertahanan. Pengolahan tanah dan penggarapan daerah-daerah tandus lebih banyak menyita waktu. Kedua, penanaman kekuasaan politik ternyata hanya dapat dilakukan dengan kekuatan senjata. Oleh sebab itu seluruh masa pemerintahan raja-raja pertama Mataram hanya dihabiskan dalam peperangan. Demikianlah maka ki Gede Pemanahan Senapati dan Mas Jolang belum sempat untuk mengembangkan kebudayaan yang sifatnya lebih rohaniah.

Baru pada masa pemerintahan raja yang ketiga, Sultan Agung gagasan untuk mengembangkan kebudayaan dapat dimulai. Diambillah unsur-unsur peradaban dari daerah-daerah pesisir Utara dan Jawa Timur yang dapat mempertinggi martabat keraton Mataram dibidang kebudayaan sesuai dengan kedudukannya sebagai istana raja penguasa tertinggi diseluruh tanah Jawa juga dalam hal penyebaran agama Islam, menyatukan diri dengan unsur-unsur Hindu-Budha yang disebut dengan islam Sinkretis.[13]

Sistem Politik Kesultanan Mataram

Dalam sistem politik di kerajaan Mataram periode Senopati hingga Susuhunan Amangkurat I mengalami turun-naik secara drastis. Periode Raden Mas Jolang kemudian dengan anaknya Raden Mas Rangsang. Kemudian Susuhunan Amangkurat I bertolak belakang dengan apa yang telah ditempuh pendahulunya.

Untuk sistem politik yang sifatnya intern, terutama menyangkut konsolidasi tata pemerintahan, seperti sistem birokrasi, sistem penggantian raja, masing-maasing mereka hampir tidak mengalami perbedaan, akan tetapi dalam hal penguasaaan wilayah, kadang-kadang mengalami naik-turun. Seperti pada masa Panembahan Senopati, ia mampu mengangkat martabat Mataram ke strata yang lebih tinggi, yakni menjadikan Mataram berdiri sendiri (yang semula merupakan daerah bawahan Kerajaan Pajang). Ketika kendali pimpinan beralaih ke tangan susuhunan amangkurat 1 martabat mataram menjadi merosot kembali, wilayah kekuasaan mulai menciut karena hubungannya dengan kolonial Belanda.

Keabsahan kedudukan dan kekuasaan raja mataram, diperoleh karena warisan. Secara tradisional pengganti raja-raja ditetapkan putra laki-laki dari istri selir pun biasa dinobatkan sebagai pengganti raja. Apabila dari keduanya tidak mendapatkan anak laki-laki, maka.paman atau saudara laki-laki tua dari ayahnya bisa menjadi pengganti.

Mengenai sistem politik eksternalnya, diantara penguasa Mataram bisa ditemui perbedaan yang mencolok dalam menerapkan sistem untuk menghadapi penetrasi barat. Ada yang menempuh sikap kompromistis dan ada pula yang anti pati sama sekali. Pada masa panembahan senopati, usaha tersebut memang belum ditemui. Hal ini disebabkan walaupun saat itu orang-orang Eropa sudah berada di Nusantara, konsentrasi politik sedang dicurahkan untuk konsolidasi dan penguasaan kerajaan-kerajaan disekitarnya. Sedangkan pada masa Raden Mas Jolang, kehadiran belanda diterima dengan baik diakhir kekuasaannya. Beda hal dengan penguasa Mataram berikutnya, Sultan Agung, beliau termasuk penguasa yang antipatis pada kompeni. Berbagai usaha telah dikerahkan untuk mengusik keberadaan dan membendung penetrasinya yang kian kuat di bumi Nusantara. Dua kali sesudah ekspansinya, pasukan militer, ia kirimkan ke Batavia untuk memukul mundur VOC, masing-masing pada tahun 1628 dan 1629 walaupun pada akhirnya memperoleh kegagalan.[14]

Masa Kemunduran Mataram Islam

Setelah Sultan Agung wafat, Mataram kemudian diperintah oleh raja yang pro dengan kompeni yaitu Susuhunan Amangkurat I. ia memerintah pada tahun 1645-1677. Sebagai penguasa Mataram yang baru, Sultan Amangkurat I membuat kebijakan- kebijakan yang kontrofersial yaitu pertama, tidak lagi menghargai para ulama bahkan berusaha untuk menyingkirkannya. Pada masanya ribuan ulama Syahid dibunuh Sultan Amangkuran I. kedua, menghapus lembaga-lembaga agama yang ada di Kesultanan, seperti menghapus Mahkamah Syariah yang telah dibentuk oleh Ayahnya. Ketiga, membatasi perkembangan islam dan melarang kehidupan Agama mencampuri masalah kesultanan. Keempat, membangun kerjasama dengan penjajah Belanda yang menjadi musuh bebuyutan Ayahnya.

Cara Amangkurat I dalam memerintah yang tidak memperhatikan nilai-nilai kearifan itu telah mendatangkan kemarahan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, Raden Kajoran, seorang ulama bangsawan yang hidup dalam pedesaan, melakukan perlawanan. Ia menyusun kekuatan dari para santri dan rakyat pedesaan. Raden Kajoran mendapat dukungan dari Raden Anom, anak Sultan Amangkurat I dan Trunojoyo bangsawan dari Madura. Kekuatan semaki kuat ketika Karaeng Galesong bangsawan dari Gowa. Namun perkembangan selanjutnya, Adipati Anom melakukan pengkhianatan. Ia keluar dari aliansi, karena ia sudah di ampuni oleh ayahnya. Pada tahun 1677, aliansi Raden Kajoran berhasil mengepung pusat pemerintahan Amangkurat I di Pleret. Sedangkan Amangkurat I dan anaknya berhasil melarikan diri ke Batavia dan meminta bantuan kepada Belanda. Dalam perjalanan menuju Batavia, Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal.

Sebelum  Amangkurat I wafat, ia sudah menetapkan Adipati Anom sebagai Sultan Mataram yang baru. Setelah dilantik, Adipati Anom diberi gelar Sultan Amangkurat II ia segera melanjutkan kerjasamanya dengan Belanda untuk merebut kembali tahta Mataram dalam perjanjian di Jepara yang mana Belanda mengiginkan wilayah timur karawang dan upah dalam bentuk uang. Setelah perjanjian Jepara ditandatangani, Amangkurat II dan Belanda melakukan penyerangan ke Mataram dan berhasil memukul mundur aliansi Raden Kajoran. Dengan demikian, Sultan amangkurat II berhasil merebut kembali tahta Mataram.

Walaupun Sultan Amangkurat II meduduki Mataram dan mengembalikan fungsi ulama, tetapi persoalan Mataram belum selesai.[15] Sejak 1743 Mataram hanya memiliki wilayah-wilayah Begelen, Kedu, Jogjakarta, Surakarta. Tragisnya lagi, Mataram terpecah menjadi dua kerajaan, sesuai dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Kedua kerajaan tersebut adalah Kerajaan Surakarta dengan rajanya Susuhunan (Pakubuwono III) dan Yogyakarta dengan rajanya Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I). Selanjutnya pada tahun 1757, Kerajaan Surakarta dipecah lagi menjadi dua yaitu, wilayah yang dirajai Pakubuwono III dan wilayah yang dirajai oleh Mangkunegara I. Demikian juga pada tahun 1813 oleh Inggris, Yogyakarta dipecah menjadi dua, yaitu wilayah Kesultanan yang dirajai oleh Sultan Hamengku Buwono III dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin oleh Bendara Pangeran Natakusuma atau dikenal dengan Pangeran Pakualam I.[16]

Kesimpulan

Pada mulanya, Mataram adalah wilayah yang dihadiahkan oleh Sultan Adiwijaya kepada Ki Gede Pemanahan karena sudah membantunya membunuh Arya Penangsang musuh Adiwijaya. Selanjutnya tahta berganti kepda anaknya yang bernama Sutawijaya atau Panembahan Senopati yang dari usahanya Kesultanan Mataram mampu melepaskan diri dari kekuasaan Pajang. Setelah Sutawijaya meninggal Raden Mas Jolang menggantikan Ayahnya. Pada masa pemerintahannya banyak dicurahkan dalam bidang pembangunan. Barulah pada masa Sultan Agung atau dikenal dengan nama Raden Mas Rangsang, kesultanan Mataram berada di puncak kejayaan. Mulai dari penerapan politik ekspansinya dan berkembangnya ajaran islam. Dalam bidang perekonomian, kesultanan Mataram tidak terlalu berkembang. Mataram adalah negara Agraris yang penghasilan utamanya dibidang pertanian saja. Sedangkan dalam bidang kebudayaan tradis atau unsur Hindu-Budha menyatu dengan ajaran Islam yang biasa dinamakan Islam kejawen. Namun kejayaan yang diukir oleh Sultan Agung berakhir setelah Susuhunan Amangkurat I naik tahta. Ia adalah sosok pemimpin yang kejam dan otoriter. Atas campur tangan pihak kolonial Belanda, akhirnya Kesultanan Mataram terpecah. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan Runtuhnya kerajaan Mataram : 1. Masuknya kolonial Belanda ke nusantara 2. Perselisihan antara pewaris takhta Mataram 3. Dipecahnya Mataram menjadi 2 kerajaan, berdasarkan perjanjian Giyanti.

DAFTAR PUSTAKA

Daliman, a. Islamisasi dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit ombak, 2012

Harun, M. Yahya. Kerajaan Islam Nusantara abad XVI dan XVII. Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera, 1995

Muljana, Slamet. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2007

Yusuf, Mundzirin, dkk. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Kelompok Penerbit Pinus, 2007

Darmawijaya, Kesultanan Islam Nusantara,  Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010

[1] Prof. a. Daliman, Islamisasi dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam di Indonesia.( Yogyakarta: Penerbit ombak, 2012), hlm.176-180

[2] Drs. M. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara abad XVI dan XVII. (Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera, 1995), hlm. 23-24

[3] Darmawijaya, Kesultanan Islam Nusantara, ( Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 70

[4] Prof. dr. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2007), hlm. 226

[5] Drs. M. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara, hlm. 24-15

[6] Mundzirin Yusuf, dkk, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. (Yogyakarta: Kelompok Penerbit Pinus, 2007), hlm.85-87

[7] Prof. a. daliman, Islamisasi, hlm. 188-189

[8] Prof. dr. slamet muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa, hlm. 226

[9] Darmawijaya, Kesultanan Islam Nusantara, hlm. 74-75

[10] Drs. M. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara, hlm. 30-31

[11] Prof. a. Daliman, Islamisasi, hlm. 190

[12] Drs. M. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara, hlm. 30-31

[13] Prof. a. Daliman, Islamisasi, hlm. 191-192

[14] Drs. M. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara, hlm. 28-29

[15] Darmawijaya, Kesultanan Islam Nusantara, hlm. 77-80

[16] Mundzirin Yusuf, dkk, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, hlm. 85-87

Share the knowledge!
Share on Facebook16Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0