Eksperimen Rasis “Bapak Ginekologi Modern”, James Marion Sims

James Marion Sims dikenal sebagai “bapak ginekologi modern”, tetapi di balik ketenarannya kontroversi menyertainya. Dalam eksperimennya, ia secara sengaja menggunakan budak kulit hitam sebagai kelinci percobaan, yang sayangnya dilakukan tanpa mendapatkan persetujuan dari mereka.

Berawal dari Perdagangan Budak

Lahir di Lancaster County, Carolina Selatan pada tahun 1813, James Marion Sims (1813-1883) memulai karir medisnya pada saat pendidikan kedokteran dan pelatihan masih kurang terstruktur seperti saat ini.

Setelah magang dan mengikuti kursus selama tiga bulan serta belajar di Jefferson Medical College selama satu tahun, Sims memulai praktik medisnya di Lancaster. Namun, setelah dua pasien pertamanya meninggal, ia pindah ke Montgomery, Alabama, untuk mereset kariernya.

Di Montgomery, Sims mulai dikenal setelah merawat para budak yang dimiliki oleh pemilik perkebunan kulit putih yang kaya. Vanessa Gamble, seorang profesor di George Washington University, menyatakan bahwa praktik medis Sims berakar kuat pada praktik perdagangan budak.

James Marion Sims
James Marion Sims. Sumber: Blackamericaweb

Sims mendirikan sebuah rumah sakit kecil di pusat distrik perdagangan Montgomery yang dapat menampung delapan pasien. Di sini, ia menangani kasus-kasus medis yang lebih kompleks, yang tidak bisa ditangani langsung di perkebunan. Ia merawat budak-budak ini dengan harapan agar mereka bisa kembali produktif dan mampu untuk berkembang biak. Bagi pemilik mereka, budak yang tidak produktif tidak memiliki nilai.

Pemikiran semacam ini membentuk pandangan kesehatan yang menyatakan bahwa orang dianggap sehat jika mampu bekerja secara produktif (baik pria maupun wanita) dan memiliki kemampuan untuk berkembang biak (terutama untuk wanita).

Saat itu banyak pasien perempuan yang ditangani oleh Sims mengalami fitsula, sebuah kondisi medis yang merujuk pada terbentuknya saluran tidak normal antara dua bagian tubuh yang seharusnya terpisah.

Seperti kebanyakan dokter pada abad ke-19, Sims awalnya tidak tertarik untuk merawat pasien wanita dan bahkan tidak memiliki pelatihan khusus dalam bidang ginekologi. Pemeriksaan dan perawatan organ wanita dianggap tabu dan kurang menyenangkan pada masa itu. Namun, ketertarikannya untuk merawat wanita berubah ketika diminta membantu seorang pasien yang mengalami cedera karena jatuh dari kuda dan mengalami nyeri panggul dan punggung.

Dalam upaya mengobati cedera wanita tersebut, Sims menyadari bahwa untuk mengatasi masalahnya, ia harus melakukan pemeriksaan langsung pada organ reproduksi wanita. Dalam kasus ini, ia memposisikan wanita itu dengan tubuhnya condong ke depan dan kemudian menggunakan jari-jarinya untuk membantu melihat ke dalam vagina. Penemuan ini membantunya mengembangkan cikal bakal spekulum modern: sejenis alat dengan gagang seperti sendok yang ditekuk.

Melalui pemeriksaannya, Sims mengetahui bahwa pasien tersebut menderita fistula vesikovaginal. Karena tidak ada pengobatan yang dikenal untuk kondisi ini, Sims mulai bereksperimen pada tahun 1845 dengan teknik bedah untuk mengobati fistula tersebut.

Dalam proses pengobatan, jika pemilik pasien menyediakan perlengkapan dan membayar biaya, Sims praktis memiliki kendali sementara atas wanita-wanita tersebut sampai perawatan mereka selesai. Dalam otobiografinya, “The Story of My Life”, Sims mencerminkan keuntungan yang didapatkan ketika mengobati para budak: “Saya selalu memiliki subjek untuk dioperasi.” Bagi Sims, ini adalah “pengalaman yang paling berkesan” dalam hidupnya.

Eksperimen James Marion Sims

Walupun James Marion Sims mencatat para wanita itu “berteriak-teriak” memohon agar operasi dilakukan, tetapi tidak ada catatan yang menyebutkan persetujuan mereka atas prosedur tersebut.

Dalam catatan sejarah, kita mengenal tiga nama pasien fistula perempuan dari catatan Sims, yaitu Lucy, Anarcha, dan Betsey. Pasien pertama yang dioperasi adalah Lucy, seorang wanita berusia 18 tahun yang baru saja melahirkan beberapa bulan sebelumnya dan mengalami masalah kehilangan kontrol kandung kemih.

Selama prosedur dilakukan, pasien diharuskan telanjang dan diminta untuk bertengger di atas lutut dan membungkuk ke depan dengan siku sehingga kepala mereka bertumpu pada tangan. Lucy menjalani operasi selama satu jam, sambil berteriak dan menangis karena rasa sakitnya, dengan hampir selusin dokter lainnya menyaksikannya.

Ilustrasi Eksperimen
Ilustrasi eksperimen Sims. Sumber: Nature

Seperti yang dicatat Sims kemudian, “Penderitaan yang dialami Lucy sangatlah luar biasa.” Ia menderita sakit parah akibat penggunaan spons yang kontroversial untuk mengeluarkan air seni dari kandung kemih, yang menyebabkan infeksi darah. “Saya sempat berpikir dia akan mati… Lucy membutuhkan waktu dua atau tiga bulan untuk pulih sepenuhnya dari efek operasi ini,” tulisnya.

Dalam serangkaian operasi yang panjang, metode yang digunakan oleh Sims untuk fistula awalnya tidak langsung berhasil. Setelah melakukan 30 operasi pada Anarcha, seorang wanita budak berusia 17 tahun yang mengalami persalinan yang traumatis, Sims akhirnya menyempurnakan metodenya setelah empat tahun melakukan percobaan.

Setelahnya, ia mulai menerapkan metode ini pada pasien-pasien kulit putih menggunakan anestesi, yang merupakan terobosan baru di bidang medis saat itu. Keputusan Sims untuk hanya menggunakan anestesi pada pasien kulit putihnya sangat kontroversial karena didasarkan pada keyakinan rasis bahwa orang kulit hitam tidak merasakan rasa sakit seperti yang dialami orang kulit putih.

Baca juga: Kisah di Balik Penemuan Obat Bius

Penulis dan ahli etika medis Harriet Washington menyatakan bahwa keyakinan rasis Sims memiliki pengaruh yang lebih besar daripada eksperimennya dalam ginekologi. Sebelum dan setelah eksperimen ginekologinya, Sims juga melakukan percobaan bedah pada anak-anak kulit hitam yang diperbudak, dalam upaya mengobati “trismus nascentium” (tetanus neonatal), namun hasilnya minim atau gagal.

Sims percaya bahwa orang Afrika-Amerika memiliki kecerdasan yang lebih rendah daripada orang kulit putih, mengaitkannya dengan struktur tengkorak mereka yang tumbuh terlalu cepat di sekitar otak. Ia bahkan berusaha mengoperasi anak-anak Afrika-Amerika untuk merubah tulang tengkorak mereka.

Pada tahun 1850-an, Sims pindah ke New York dan mendirikan Rumah Sakit Wanita pertama. Di rumah sakit itu, ia melanjutkan eksperimen medis yang kontroversial pada pasiennya. Ketika salah satu pasiennya meninggal, Sims justru menyalahkan ketidaktahuan ibu mereka serta bidan kulit hitam yang merawat mereka. Ia tidak mempertimbangkan adanya kesalahan dalam metodenya.

Kontroversi yang Menyertai

Praktik medis Sims memicu kontroversi besar selama hidupnya. Komunitas medis meragukan metodenya, dan beberapa kolega kulit putihnya bahkan secara terbuka menentang eksperimennya, menganggap tindakannya terlalu ekstrem.

Pada tahun 1876, Sims diangkat sebagai presiden American Medical Association, dan pada tahun 1880, ia menjadi presiden American Gynecological Society yang ia bantu dirikan. Selain itu, ia juga dijuluki sebagai “bapak ginekologi modern” dan patungnya dibangun di berbagai penjuru negeri.

Patung Sims
Patung James Marion Sims. Sumber: The New York Times

Meskipun memiliki prestasi tersebut, beberapa sejarawan, ahli etika medis, dan kritikus menyatakan bahwa tindakannya terhadap wanita kulit hitam yang diperbudak dalam penelitiannya tanpa anestesi, telah memunculkan kontroversi dalam sejarah medis.

Baca juga: Memahami Sejarah HIV/AIDS: Dari Awal Penemuan hingga Pandemi Global

Para kritikus menekankan bahwa Sims lebih fokus pada eksperimen daripada memberikan perawatan yang terapeutik kepada para pasiennya. Mereka menilai bahwa tindakannya menyebabkan penderitaan yang tidak terhitung, karena ia melakukan operasi tanpa anestesi dengan keyakinan rasis bahwa orang kulit hitam tidak merasakan sakit seperti orang kulit putih.

Referensi

Khabele, D., Holcomb, K., Connors, N. K., & Bradley, L. (2021). A perspective on James Marion Sims, MD, and Antiblack racism in obstetrics and gynecology. Journal of Minimally Invasive Gynecology28(2), 153-155.

Sims, J. M. (1884). The story of my life (Vol. 10). D. Appleton.

Spettel, S., & White, M. D. (2011). The portrayal of J. Marion Sims’ controversial surgical legacy. The Journal of urology185(6), 2424-2427.

Wall, L. L. (2020). The controversial Dr. J. Marion Sims (1813–1883). International Urogynecology Journal31, 1299-1303.

West, M. J., & Irvine, L. M. (2015). The eponymous Dr James Marion Sims MD, LLD (1813–1883). Journal of Medical Biography23(1), 35-45.

Rifai Shodiq Fathoni

Rifai Shodiq Fathoni

I explore disability and medical history as a history buff. I examine how society and medicine have treated and changed for people with disabilities over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *